Kepada anggota Forum Pembaca yang budiman,
Kalau menurut saya sih, tragedi ini merupakan salah satu dari sekian banyak 
tragedi yang telah seringkali terjadis ebelumnya, di mana masusia tidak mau 
memperhatikan apalagi menjalankan penataan ruang yang 'benar' artinya 
kemauan untuk berusaha mengikuti teori keseimbangan antara daerah terbangun 
dan daerah alami.  Tentu saja tragedi ini terjadi bukan saja akibat 
'perilaku negatif yang akumulatif' manusia terhadap kondisi alam semula dan 
tentu tidak dalam waktu singkat.  Sifat (karakter) lingkungan pada kawasan 
tertentu secara logis akan mengikuti proses suksesi alaminya.
Akibat kebutuhan mendesak akan perumahan misalnya maka prinsip-prinsip dasar 
pengelolaan lingkungan telah dilanggar a.l dengan dikeluarkannya IMB (Ijin 
Mendirikan Bangunan) secara mudah pada daerah-daerah yang rawan (rawan 
longsor atau lahan dengan kemiringan tertentu, tepian badan perairan - 
sungai, danau dan tepi laut) padahal seperti yang telah diundangkan dalam 
berbagai peraturan, telah ada larangan mendirikan bangunan pada jenis tanah 
tertentu (yang labil, porous, ada daya dukung dan daya tampung tertentu, 
apalagi dengan kemiringan tertentu.  Seenaknya saja orang membangun di atas 
tanah miring tanpa memperhatikan berbagai aturan dan kendala khas tertentu 
pada karakter alami lingkungan tertentu pula.
Telah banyak tragedi terjadi akibat kesombongan manusia yang merasa mampu 
"menguasai" dan "mengatasi" masalah lingkungan yang beberapa dekade ini 
berlangsung, misalnya penggundulan lahan hutan di 'daerah atas (hulu)' tak 
hanya karena kebutuhan terbatas tetapi lebih pada keserakahan.  Namun, 
manusia (Indonesia?) tidak mampu menjadikan pelajaran dari berbagai tragedi 
tsb. sehingga patuh akan hukum alam yang mau tak mau harus diikuti, jadi tak 
hanya 'berlindung' di balik kepasrahan setelah kerugi an fisik, sosial dan 
ekonomi, hilangnya nyawa manusia, dengan analisis sepintas melalui perkataan 
bahwa INI MUSIBAH dan harus diterima dengan tawakal.
Bukannya saya tak percaya adanya musibah sebab itu juga bagian dari proses 
alam, tetapi musibah ini dipercepat dan diperbanyak a.l. juga akibat dari 
'kelalaian' manusia itu sendiri.  Kemampuan daya dukung dan daya tampung 
lingkungan telah terlampaui tapi manusia terus saja 'melawan proses alam' 
yang terus berlangsung.  Mestinya tragedi Situ Gintung dan banyak lagi 
tragedi yang lain menjadi pelajaran mahal dan sangat berharga agar manusia 
mulai 'sadar' bahwa alam dan lingkungan pun punya keterbatasan.
Mari kita baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama melakukan 
apa yang terbaik dalam melanjutkan kehidupan ini melalui penghargaan pada 
alam lingkungan kita, misalnya dengan menyadari bahwa pemenuhan kebutuhan 
hidup ini apa pun itu pasti ada batasnya.  Hanya Tuhan saja yang kekal. 
Amin.
Mohon maaf bila respons sederhana ini sebenarnya semua orang juga sudah 
mengetahuinya, hanya saya ingin menuliskannya saja, meskipun akhirnya tak 
bermanfaat.
Saya yang bukan siapa-2, hanya  ibu rumahtangga yang untuk kesekian kalinya 
hanya bisa prihatin dan ikut berduka akan kejadian-kejadian memilukan yang 
sebenarnya tak harus terjadi.  Semoga arwah korban diterima disisiNya sesuai 
dengan amal ibadahnya dan kepada sanak keluarga yang ditinggalkan 
diberikekuatan lahir dan bathin dalam menghadapi terjadinya kecelakaan 
ini.Mari kita berusaha mencegah bencana-bencana semacam ini yang seharusnya 
tak akan terjadi bila kita semua lebih arif dan bijaksana dalam menjalankan 
hidup ini sehingga dapat sejahtera lahir dan bathin.
Salam hijau lestari,
Ning Purnomohadi .

Kirim email ke