Sorry nih kawan2 FPK, tapi ingin sharing blog post yang sangat bagus dari www.bukanblackcampaign.com dan http://politikana.com/baca/2009/04/02/kasino-besar-bernama-indonesia-budaya-pop-dan-fenomena-fans-club-pemilu-2009.html
Kasino Besar Bernama Indonesia: Budaya Pop dan Fenomena Fans Club Pemilu 2009<http://politikana.com/baca/2009/04/02/kasino-besar-bernama-indonesia-budaya-pop-dan-fenomena-fans-club-pemilu-2009.html> 8<http://politikana.com/baca/2009/04/02/kasino-besar-bernama-indonesia-budaya-pop-dan-fenomena-fans-club-pemilu-2009.html#komentar> Sejenak kita tanggalkan rasa khawatir dan gelisah setiap kali membayangkan wajah para legislator hasil pemilu legislatif 9 April 2009. Tentang gambaran kompetensi mereka yang tidak jelas, yang semakin kabur setelah memerhatikan pesan-pesan politik mereka yang bertabur di spanduk-spanduk dan bilboard di jalanan. Kebanyakan mereka mirip para pedagang dadakan, yang mencari untung cepat dalam sebuah bazaar, pasar dadakan, pasar malam, atau pasar kaget yang bernama pemilu. Hanya, yang mereka tawarkan bukanlah sesuatu yang terukur nilai guna dan manfaatnya bagi si pembeli–yang dalam bazaar pemilu disebut sebagai pemilih—melainkan janji-janji yang seluruhnya bisa disimpulkan dalam satu kata: ketidakpastian. Karena dominasi ketidakpastian akan kompetensi calon legislator itu demikian tinggi, maka pemilu April 2009 ini kemudian lebih menyerupai pertaruhan di sebuah kasino besar yang bernama Indonesia, bukan lagi sebuah bazaar. Para penjaja dan pembeli (baca: pemilih) sama-sama bertaruh. Penjaja memertaruhkan modal kampanye, sementara pemilih memertaruhkan setiap satu suara yang akan berakumulasi menjadi kuasa memerintah. Tiada yang pasti apakah kuasa itu akan membawa keadilan atau tends to corrupt sekaligus menindas seperti biasa, secara tersembunyi maupun terang-terangan. Ibarat pasar taruhan, ada banyak prediksi. Di kasino pemilu 2009, prediksi itu adalah publikasi hasil survei empat lembaga survei (CSIS, LP3ES, LIPI, dan Puskapol UI) yang dirilis Maret lalu. Partai Demokrat mendapatkan 21,5 persen pemasang taruhan, PDIP 15,21 persen, Partai Golkar 14,27 persen. Diikuti PPP dengan 4,15 persen, PKS 4,07 persen, PKB 3,25 persen, PAN 2,91 persen, dan Gerindra 2,62 persen. Para petaruh perlu berpikir keras, karena sesungguhnya Indonesialah yang dipertaruhkan pada setiap satu suara yang dipasang. Fakta bahwa Partai Demokrat mendapatkan demikian banyak pemasang tidaklah terlalu mengejutkan. Angka itu adalah cermin dominannya budaya pop masyarakat Indonesia. Proses idolisasi SBY lewat komunikasi politik Partai Demokrat selama ini bukan saja sudah berhasil mengangkat angka keterpilihan Partai Demokrat, melainkan juga penegasan diri bahwa partai ini lebih menyerupai sebuah fans club daripada partai politik. Hanya di fans club semua orang bisa menyukai satu hal yang sama. Hubungan antara penggemar dan sang idola sangat emosional, bukan rasional, apalagi kontraktual, sebagaimana disyaratkan dalam sebuah organisasi politik. Tidak ada pertarungan gagasan, kepentingan, dan faksionalisme sebagaimana layaknya sebuah partai. Hanya di Partai Demokrat kita bisa menemukan orang-orang menggandrungi hal yang sama, membicarakan topik yang sama, berbagi rasa yang sama. Orang tergagum-kagum ketika SBY naik motor pengawalnya, meski itu bukan tugas negara. Tambah terkagum lagi ketika diceritakan soal penanganan sebuah penculikan. Tidak jelas lagi mana misi kenegaraan yang mendesak dan mana tindakan yang manusiawi, di mana setiap orang pasti tergerak melakukannya. Di mata para penggemar BBM itu turun karena SBY, padahal harga BBM turun karena memang harga minyak dunia turun. Hanya di mata penggemar uang negara yang diberikan lewat BLT itu adalah uang pribadinya SBY. Pertanyaannya, apakah siap Indonesia dipertaruhkan di tangan para penggemar dan sang idola? Bagi mereka yang sudah siap memasang taruhan di fans club ini, hanya satu hal yang perlu diingat: fans club sebagai fenomena budaya pop cenderung lebih merebut ruang, bukan waktu. Ia sangat cepat mengumpulkan banyak penggemar, secepat itu pula para penggemar itu akan pergi. Contoh paling mudah adalah karya-karya seni pop yang sulit bertahan menghadapi ujian waktu. Lain halnya dengan karya-karya seni tinggi yang sanggup menembus ruang. Para petaruh semestinya melihat, mana partai yang sanggup bertahan menghadapi pasang surut sejarah bangsa ini, dan mana yang besar secara karbitan atau dibesarkan oleh iklan dan lembaga survei. -- [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ ===================================================== Pojok Milis Komunitas Forum Pembaca KOMPAS [FPK] : 1.Milis Komunitas FPK dibuat dan diurus oleh pembaca setia KOMPAS 2.Topik bahasan disarankan bersumber dari http://cetak.kompas.com/ dan http://kompas.com/ 3.Moderator berhak memuat,menolak dan mengedit E-mail sebelum diteruskan ke anggota 4.Moderator E-mail: [email protected] [email protected] 5.Untuk bergabung: [email protected] KOMPAS LINTAS GENERASI ===================================================== Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[email protected] mailto:[email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
