http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/04/07/03293438/pendidikan.nasional.tak.dipercaya

Jakarta, Kompas -  Pemerintah tidak percaya bahwa sistem pendidikan nasional 
bisa bersaing secara global dengan negara lain. Hal itu dibuktikan sendiri 
pemerintah dengan kebijakannya yang justru mendorong bermunculannya 
sekolah-sekolah negeri bertaraf internasional yang didukung biaya besarA

Pemerintah seharusnya justru memperkuat sistem pendidikan nasional yang mampu 
membuat siswa senang belajar, percaya diri untuk bersaing, cerdas, dan humanis. 
Bukan sebaliknya, menciptakan sistem pendidikan yang berkelas-kelas yang akan 
menciptakan bom sosial di kemudian hari.

Demikian persoalan yang mengemuka dalam diskusi publik bertajuk "Membedah 
Kebijakan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI)" yang dilaksanakan Education 
Forum di Jakarta, Senin (6/4).

Tampil sebagai pembicara adalah Direktur SMA Kolese Kanisius Jakarta Rm E 
Baskoro Poedjinoegroho, pengamat pendidikan HAR Tilaar, Direktur Institute for 
Education Reform Universitas Paramadina Utomo Dananjaya, dan M Fajri Siregar, 
alumnus Universitas Indonesia.

"Bukan kita menutup diri terhadap apa yang berbau asing atau internasional, 
tetapi SBI ciptaan pemerintah saat ini lebih sebagai pelarian karena tidak bisa 
membuat sistem pendidikan nasional yang menghasilkan peserta didik yang siap 
menghadapi tantangan zaman. SBI di sekolah negeri itu jadi tertutup hanya untuk 
orang pintar dan berduit," kata Baskoro.

Menurut Baskoro, yang ada di Indonesia saat ini sebenarnya masih kelas bertaraf 
internasional. Itu pun dengan pengajar yang fokus untuk menerjemahkan bahan 
ajar ke dalam bahasa Inggris. SBI umumnya menggunakan kurikulum internasional 
Cambridge.

HAR Tilaar mengatakan, yang mendasar justru perlu diciptakan sistem pendidikan 
nasional yang baik, yang bersumber dari kekuatan yang dimiliki bangsa ini.

Sikap inferior

Sementara itu, Direktur Institute for Education Reform Universitas Paramadina 
menilai fokus pemerintah untuk mengembangkan SBI menunjukkan sikap inferior 
bangsa ini. Padahal, pendidikan berfungsi untuk mengembangkan budaya dan 
martabat bangsa dengan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Fajri Siregar, alumnus Sosiologi UI, mengatakan, yang juga berkembang adalah 
sekolah nasional plus, yang selain memakai kurikulum nasional juga mengadopsi 
kurikulum internasional. Bahkan, pengajarnya lebih banyak warga negara asing. 
(ELN)

Kirim email ke