Hampir setiap hari pulang kantor saya nebeng orang alias naik omprengan dengan plat hitam, dan sudah 2 kali ini, mobil yang saya tumpangi di pukul2 oleh preman yang mana dia sambil mukul2 kaca depan, samping dan belakang dia mengeluarkan kata2 yang jorok dan bikin kuping panas, yang saya herannya kok yang punya kendaraan itu diam saja, memang jalanan macet seperti biasa jadi orang itu dengan leluasa memukul-mukul kendaraan itu. Saya tanya : pak kok diam saja sih, mobilnya dipukul? ( kalau itu kendaraan saya hm .. kejadian deh urusan dengan polisi ). Begitu jalan sedikit preman itu melempar batu dan kena pintu belakang dan masih tetap diam saja, dia cuma bilang: saya malas berurusan dengan polisi, karena saya tahu saya salah, ambil penumpang sementara plat nomor kendaraan saya hitam. terus saya jawab : Lha apa urusannya dengan polisi? justru seharusnya polisi itu mikir dengan adanya omprengan mengurangi kendaraan yang beredar di Jakarta. ( kendaraan yang saya naiki itu jurusan Bekasi, yang nota bene tidak ada jurusan kendaraan umum Bekasi - Kuningan ) dan baru juga saya ketahui kalau preman yang mukul kendaraan itu, adalah suruhan dari Bus Steady Safe yang jurusan ke Kampung Rambutan!!! ( ga nyambung banget khan????? ). Kejadian yang pertama malah nyaris saya yang jadi korban, saya duduk disebelah pengendara nya, dan saya kebetulan lagi melamun, tiba2 ibu2 dibelakang saya teriak2 : bu, awas bu, hati2 bu ada orang yang mau lempar batu ke ibu!! waduuuh langsung saya noleh kesamping kiri dan memang betul ada orang/preman sudah ancang2 mau melempar batu, terus saya teriak dan mau buka pintu mobil dan bilang : Berani lu lempar itu batu ke gw, lu gw kejar .... gw gampar lu!!! dan berhasil dia tidak jadi melempar kaget barangkali lihat saya yang berani .... ha ha ha ha ha padahal sih ..... (&^...@!)* ngeri juga tapi paling tidak bikin orang kaget dululah .. Begitu pengalaman saya, nah yang ingin saya tanyakan ke mas Rudy bagaimana cara mengatasi hal2 yang seperti ini??? harus kita diamkan atau harus diberi pelajaran???? terima kasih sebelumnya ......
ajpw ________________________________ From: rudyanto_nebeng <[email protected]> To: [email protected] Sent: Monday, April 6, 2009 9:52:52 AM Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Atasi Macet, DKI Kaji Sistem Ganjil-Genap Terima kasih atas dukungannya Pak Haniwar. Intinya memang di kondisi kendaraan umum yang: 1) Belum cukup tersedia (terlihat di antrian panjang halte busway). 2) Belum cukup aman (karena memang kendaraan UMUM, siapapun BOLEH NAIK, termasuk todong, copet, dsb, harus dipikirkan masalah ini) 3) Belum cukup nyaman (bagi kebanyakan orang dengan tarif 3500, dapat jatah berdiri masih OK, tapi bagi yang sudah terbiasa naik kendaraan pribadi? Laptop mau ditaruh di mana?) Kuncinya adalah perlu adanya alternatif yang tidak terlalu makan biaya besar. Bayangkan saja kalau memang benar separuh kendaraan pribadi benar-benar bermigrasi ke angkutan umum karena aturan Ganjil-Genap, apakah layanan transportasi masal bisa tetap terjaga atau malah menurun? Seharusnya bertahap: 1) Senin : Plat nomor berakhiran 0,1 dilarang lewat jalan raya DKI 2) Selasa : Plat nomor berakhiran 2,3 dilarang lewat jalan raya DKI 3) Rabu : Plat nomor berakhiran 4,5 dilarang lewat jalan raya DKI 4) Kamis : Plat nomor berakhiran 6,7 dilarang lewat jalan raya DKI 5) Jumat : Plat nomor berakhiran 8,9 dilarang lewat jalan raya DKI Best Regards, Rudyanto Mari Hemat BBM, Ayo Nebeng!
