http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/04/10/08373586/demokrat.lengkapi.tradisi

Seakan menjadi tradisi, konfigurasi politik selalu berubah tiap pemilu dan 
kekuatan figur mampu mengubah konstelasi politik di negeri ini. Kali ini, 
Partai Demokrat menjadi kekuatan politik baru yang mengentak, mengambil alih 
penguasaan posisi atas perolehan suara. Sebaliknya, partai-partai berpengalaman 
tampak goyah menghadapi penguasaan politik yang kian tergerus.

Hasil penghitungan cepat pemilu (quick count) yang dilakukan LP3ES, Lembaga 
Survei Indonesia, Lingkaran Survei Indonesia, Cirus Surveyor, dan beberapa 
lembaga survei lain mengungkapkan keunggulan Partai Demokrat dalam perolehan 
suara pemilu. Pada pengalaman kedua mengikuti pemilu, partai ini mampu 
mengambil alih posisi yang sebelumnya dipegang Partai Golkar dengan selisih 
yang cukup signifikan. Tidak tanggung-tanggung, peningkatan perolehan suara 
yang diraih dibandingkan dengan Pemilu 2004 diperkirakan hampir tiga kali lipat!

Di sisi lain, Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) dan Partai Hati Nurani 
Rakyat (Hanura) pada kesempatan pertama pemilu telah mampu bersaing dengan 
partai-partai posisi tengah dalam perolehan suara.

Sebelumnya, kemenangan Demokrat maupun fenomena kemunculan Gerindra dan Hanura 
telah terprediksikan dari hasil survei opini publik prapemilu yang dilakukan 
lembaga-lembaga penelitian, termasuk Litbang Kompas.

Kunci kemenangan

Munculnya Partai Demokrat sebagai pemenang pemilu dapat dijelaskan oleh 
beberapa sebab. Faktor terbesar, aspek ketokohan Susilo Bambang Yudhoyono yang 
melekat dengan partai ini. Tidak terhindarkan bahwa Yudhoyono menjadi faktor 
paling signifikan memengaruhi drastisnya peningkatan suara Demokrat. Memilih 
Partai Demokrat, bagi para pemilihnya, bukanlah suatu tujuan akhir preferensi 
politik. Bagi mereka, partai ini laiknya sebuah jembatan yang digunakan sebagai 
pelintasan menuju Yudhoyono. Kenyataan semacam ini dibuktikan oleh survei 
Kompas yang menunjukkan bahwa figur Yudhoyono tidak hanya membuat pemilih yang 
sebelumnya memilih Partai Demokrat kembali memilih Demokrat, tetapi juga 
menarik sebagian pemilih partai lain yang dalam pemilu sebelumnya tidak memilih 
Demokrat.

Kondisi semacam itu diperkuat pula oleh ketidakloyalan pemilih pada partai 
politik. Karakter pemilih yang tidak loyal layaknya lebah yang tidak pernah 
tertahan pada satu tangkai bunga. Dalam hal ini, pemilih Golkar dan pemilih 
partai-partai bercorak Islam adalah yang paling terpengaruh. Jika dikaji, para 
pemilih yang pindah ke lain partai, khususnya ke Demokrat, memiliki 
karakteristik yang relatif mirip. Mereka berasal dari kalangan yang 
berpendidikan menengah-atas, lebih besar proporsi kaum perkotaan, memandang 
masa lalu kinerja dan pencapaian pemimpin partai sebagai faktor yang 
memengaruhi pilihannya. Dari sisi pekerjaan, mulai dari ibu rumah tangga, 
pegawai negeri, hingga pegawai swasta.

Di sisi lain, dapat pula dipastikan bahwa naiknya popularitas Demokrat adalah 
buah dari eskalasi yang terjadi sejak Pemilu 2004. Pada kesempatan pertama 
pemilu, partai ini langsung mendapat tempat di posisi menengah dengan perolehan 
suara 7,45 persen pada pemilu legislatif. Sebagai partai papan tengah, Demokrat 
juga mampu mengantarkan tokoh pendirinya ke posisi puncak pemerintahan.

Eskalasi popularitas ini kian meningkat ketika pemerintahan yang dikendalikan 
Yudhoyono mendapat apresiasi positif masyarakat, khususnya dalam upaya 
pemberantasan korupsi. Di samping itu, pada masa setahun terakhir ini 
pemerintahan Yudhoyono juga mampu menyasar dua kelompok masyarakat, 
menengah-atas dan bawah, lewat fluktuasi harga BBM. Penurunan harga premium 
(meskipun ini merupakan dampak dari turunnya harga di tingkat internasional) 
menguntungkan kelas menengah-atas sebagai konsumen terbesar. Sementara kelas 
bawah juga diuntungkan oleh pemberian bantuan langsung tunai (BLT) dan program 
jaminan kesehatan masyarakat.

Dengan segenap kelebihan yang dimilikinya, Demokrat pun mampu melebarkan 
pengaruhnya pada pemilu ini. Jika pada pemilu sebelumnya partai ini hanya mampu 
memikat masyarakat perkotaan, kini jauh melebar hingga wilayah pedesaan yang 
notabene menjadi basis kekuatan partai-partai tradisional sekaligus kantong 
terbesar para pemilih di negeri ini.

Bintang baru

Jika di lapisan atas perolehan suara Demokrat mampu memorakporandakan dominasi 
Golkar dan PDI-P, munculnya Gerindra dan Hanura pun memberikan warna baru 
perpolitikan. Gerindra kali pertama mengikuti pemilu mampu mengguncang posisi 
tengah perolehan suara dan membuat partai-partai posisi tengah, seperti Partai 
Persatuan Pembangunan, Partai Amanat Nasional, dan Partai Kebangkitan Bangsa, 
risau akan potensi susutnya pengaruh politik mereka. Demikian juga Hanura, 
sekalipun diperkirakan tidak sebesar perolehan suara Gerindra, Hanura turut 
menggegerkan lapisan tengah bawah perolehan suara, mengancam posisi Partai 
Bulan Bintang, Partai Bintang Reformasi, dan Partai Damai Sejahtera, yang 
semula menempati posisi tersebut.

Menurut hasil survei Kompas, Gerindra dipilih lantaran partai ini mampu memikat 
kalangan yang memang menaruh harapan terjadinya perubahan. Simpatisan partai 
ini cukup signifikan bertumpu kepada para pemilih mula dan pencari kerja. Bagi 
para pemilih yang berada dalam kedua kelompok ini, simbol- simbol harapan baru, 
sebagaimana sering dikampanyekan oleh kedua partai ini, lebih mudah ditangkap.

Sebenarnya, kemunculan partai-partai baru semacam Gerindra dan Hanura yang 
mampu menduduki lapis tengah perolehan suara ini pun seakan mengulang fenomena 
pemilu-pemilu sebelumnya. Pemilu 2004, misalnya, dikejutkan oleh munculnya 
Partai Demokrat dan PKS yang mampu mengubah konfigurasi lapis tengah perolehan 
suara yang saat itu diduduki PKB, PPP, dan PAN.

Padahal, sebelumnya, dalam Pemilu 1999, PKB dan PAN menjadi pendobrak 
konstelasi politik dengan menempati posisi di papan menengah. Perubahan 
penguasaan suara pemilih yang terus-menerus terjadi dalam sejarah 
penyelenggaraan pemilu pasca-Orde Baru ini dapat dipandang sebagai proses 
penyegaran di tengah ketidakpercayaan publik kepada partai politik.(BESTIAN 
NAINGGOLAN DAN BAMBANG SETIAWAN/Litbang Kompas)

Kirim email ke