Madu bagi demokrat, racun untuk Golkar Diposting oleh abang on Saturday, April 
11, 2009 


Dan akhirnya Indonesia memilih! Pemilihan umum legislative baru saja usai, 
televisi sibuk mengumumkan hasil survey cepat Quic Count yang menempatkan 
Demokrat sebagai pemenang pemilu. Komisi pemilihan umum sebagai pemegang 
otoritas sah juga mulai melansir data hasil pemilu yang sepertinya tak jauh 
berbeda dengan hasil penghitungan cepat lembaga-lembaga survey. 
Fenomenal mungkin itulah kalimat yang dapat mewakili hasil perolehan suara yang 
dimiliki demokrat dalam pemilu legislative baru-baru ini. Walau sudah 
diperediksikan sejak tiga bulan terakhir bahwa demokrat akan meraih kemenangan 
dalam pemilu legislative, tapi capaian yang dilakukan oleh demokrat adalah 
sebuah hal yang masih sulit dipercaya, apalagi mengalahkan dua partai besar 
yang memiliki pengalaman tandang dan pengetahuan geopolitik seperti Golkar dan 
PDIP.
Madu bagi demokrat Racun Bagi Golkar
Tahun 2004 mungkin merupakan masa-masa indah sekaligus romantis bagi Susilo 
Bambang- Yudhoyono dan Yusuf Kalla. Ketika itu Susilo Bambang Yudhoyono yang 
didepak dari pemerintahan era megawati nekat mengajukan diri sebagai calon 
presiden dan meminang Jusuf Kalla yang baru saja hengkang dari bursa Calon 
Presiden Versi Konfensi Golkar yang memutuskan wiranto sebagai calon presiden.
Dengan mengunakan kenderaan partai demokrat SBY-JK, mengalang dukungan dari 
berbagai koalisi dalam pemilu dan akhirnya membuat peta politik tanah air 
berubah. Kemenangan SBY-JK pada pemilu yang lalu telah melahirkan sebuah tesis 
politik baru, mengugat kemapanan mesin partai yang selama ini menjadi indikasi 
kemenangan tokoh yang diusung oleh partai pemenang pemilu.
Bukan hanya mengubah arah potik, dengan kecerdikannya Jusuf Kalla juga mampu 
mengubah angin politik partai Golkar yang sebelumnya menjadi oposisi pemerintah 
akhirnya kembali menjadi partai pemerintah. Tipologi Golkar yang terbiasa 
menjadi partai pemerintah akhirnya dikembalikan oleh Yusuf Kalla setelah 
menduduki posisi sebagai wapres. Konsekuensi tersebut juga berpengaruh pada 
kebijakan internal partai Golkar yang mayoritas menguasai parlemen. Mengamankan 
segala kebijkan pemerintahan selama lima tahun bukan merupakan hal yang mudah, 
apalagi menghadapi Gempuran dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) 
yang konsisten menjadi oposisi pemerintah.
Jusuf Kalla sebagai ketua umum partai besar sekaligus sebagai wakil presiden 
yang telah berjanji setia bersama JK mesti menangung konsekuensi politik yang 
mengharu biru. Setiap kebijakan Kabinet Indonesia bersatu yang merupakan 
koalisi Golkar-Demokrat mengalami berbagai gesekan,apalagi dengan sikap Partai 
Keadilan Sejahtera yang cenderung senang memainkan bola panas koalisi 
pemerintahan.
Kondisi ini menjadi titik delematis bagi seorang Jusuf Kalla dalam memainkan 
peran antara seorang ketua umum partai dan mitra koalisi. Setiap kebijakan yang 
cenderung tidak populis yang merupakan hasil dari kebijakan pemerintahan, 
lihatlah ketika kenaikan BBM JK mesti menjadi bulan-bulanan para ekonom,media 
dan berbagai lawan-lawan politik pemerintahan. Dalam komunikasi politik Jusuf 
Kalla cenderung selalu menjadi penjelas bagi kebijakan-kebijakan pemerintahan 
yang rumit bahkan terkadang menjadi bamper politik dari kebijakan SBY dan 
partai demokrat. Sementara Jusuf Kalla dan Golkar berjibaku dalam 
mempertahankan kestabilan pemerintahan, SBY dan Demokrat cenderung menjaga 
citra baik dan lebih memilih isu-isu populis pemerintahan. Seperti terus 
meminum madu, Demokrat bersama SBY terus merasakan masa-masa manis 
pemerintahan. Sedangkan Golkar larut dalam kondisi politik yang cenderung tidak 
stabil dan mengalami perpecahan internal. Dalam kondisi yang tidak
 menguntungkan masa kampanye telah tiba, belum lagi menyelesaikan persoalan 
internalnya Golkar kembali mesti menelan pil pahit. Segala kebijakan 
pemerintahan yang populis ditengah rakyat kemudian diklaim sebagai keberhasilan 
partai demokrat. Pilihan isu yang diusung dalam kampanye demokrat adalah 
politik klaim dengan menekankan sisi keberhasilan pemerintahan. Segala ornamen 
keberhasilan pemerintahan diklaim sebagai kebijakan politik dari sosok SBY dan 
demokrat.
Dalam kondisi pelik yang dihadapi Golkar, pencitraan politik yang dibangun 
demokrat teryata sukses meraih simpati publik secara luas. SBY kembali muncul 
dengan citra simpatik,sedangkan Jusuf Kalla mesti berjibaku ;lebih cepat lebih 
baik yang teryata tak mengubah perolehan suara golkar yang turun hingga enam 
persen.
Koalisi, lobi dan Rekonsiliasi
Pasca pengumuman Quic Count dan hasil KPU sampai detik-detik terakhir saat ini, 
Demokrat terus melaju diposisi teratas sementara Golkar mesti bersaing diposisi 
dua dan tiga dengan PDIP. Maka menjelang pemelihan presiden yang sebentar lagi 
partai-partai mulai berancang-ancang dengan untuk segera melakukan koalisi. 
Demokrat bersama SBY dengan tangan terbuka telah menawarkan koalisi dengan 
partai yang siap searah bersama-sama membangun koalisi untuk mendudukan Susilo 
Bambang Yudhoyono sebagai capres. 
Belajar dari empat tahun yang lalu justru sangat tidak menguntungkan jika 
sejumlah pengamat dan elit Golkar kembali menawarkan duet SBY-JK jilid 
II.Rekonsiliasi kader Golkar yang kini tersebar diberbagai partai politik 
menjadi penting untuk dirangkul menjadi mitra koalisi sebenarnya, daripada 
melakukan rekonsiliasi Golkar-demokrat jilid II. Fusi politik dari sejumlah 
kader partai Golkar yang kini tersebar perlu dilakukan untuk membangun kembali 
kekuatan Golkar sebagai representasi golkar yang multi Golongan.
Golkar tak perlu terburu-buru untuk membangun koalisi dengan demokrat karena 
hal ini justru akan menjadikan Golkar pada posisi lemah. Sudah saatnya Golkar 
menunjukan kekuatan sebenarnya dan merangkul kembali kekuatan sterategis 
tokoh-tokoh Golkar. Apa yang menimpa Golkar saat ini adalah sebuah bentuk 
reaksi masyarakat yang tidak menemukan figuritas ideal dari elit Golkar. 
Eksepetasi pemilih yang memenangkan Demokrat bukan karena kekuatan tokoh dan 
kredibilitas para caleg-caleg demokrat, tapi lebih pada figuritas seorang 
susilo bambang Yudhoyono. 

Golkar dan Politik jalan tengah.
Pada paruh tahun 1950-an, saat Indonesia sedang berada pada masa pergolakan 
ideologi. Saat sang proklamator sukarno sedang larut dalam haru biru 
pembentukan karakter bangsa, sebuah kekuatan politik militer dan sipil lahir, 
Golongan Karya muncul sebagai afiliasi tengah diantara peta pertarungan 
kekuasaan politik republik ini. Kubu Nasionalis (PNI), kaum sosialis (PSI), 
Komunis (PKI) dan Islam lewat (masyumi) sedang dalam kancah perebutan 
kekuasaan, berebut pengaruh, hegemoni dan dominasi atas ideologi bangsa. 
sejarah golkar yang lahir sebagai penengah menjadi sebuah ideom yang begitu 
penting dalam melihat perjalanan bagsa hingga saat ini. Tiga poros kekuatan 
politik yakni partai berbasis Agama nasionalis dan militer hanya bisa ditengahi 
oleh Golkar sebagai kekuatan penyeimbang dari poros politik yang ada. Walau 
pada dasarnya ideology partai menjadi sesuatu yang terlupakan ditengah 
pragmatisme elit parpol, namun pada masa tertentu polarisasi kekuatan
 politik akan menunjukan sikapnya.
Kemenangan partai Demokrat pada pemilu kali ini menjadi sebuah titik rawan yang 
justru membahayakan bagi stabilitas kebijakan pemerintahan. Dukungan basis akar 
rumput terhadap partai Demokrat cenderung cair dan bisa memicu konflik politik 
tak berujung. Sehingga kita perlu memperluas kacamata kemenangan demokrat 
sebagai wujud ancaman stabilitas percaturan politik tanah air. Kekuatan SBY 
pada basis militer juga tidak begitu siknifikan ditengah menyebarnya dukungan 
eliet militer diberbagai parpol. Golkar yang secara historis lahir oleh 
dukungan kekuatan militer sebenarnya menjadi kunci bagi sikap militer tanah air 
yang cenderung terpecah belah saat ini dan menanti reaksi politik para 
politisi. Dan damai di bumi Indonesia! 


www.jiwa-pikiran.blogspot.com


--- Pada Jum, 10/4/09, Mula Harahap <[email protected]> menulis:


Dari: Mula Harahap <[email protected]>
Topik: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Berandai-andai dengan Hasil Quick Count
Kepada: [email protected]
Tanggal: Jumat, 10 April, 2009, 11:57 AM









Pasca kemenangan Demokrat ini, perpolitikan Indonesia menjelang pemilu presiden 
menjadi menarik untuk diamati:

Demokrat yang memperoleh 20% suara pemilih itu tidak membutuhkan lagi koalisi 
dengan partai mana pun kalau hanya untuk meloloskan calon presidennya yaitu 
SBY. Partai itu hanya membutuhkan koalisi untuk mengamankan politik Presiden 
(dalam hal ini SBY) di DPR selama 5 tahun ke depan. 

Dan dengan popularitas yang sedemikian tinggi yang diperoleh SBY maka Demokrat 
menjadi lebih bebas dalam mencari calon wakil presiden yang akan dipasangkan 
dengan SBY. Mereka sedang berada di atas angin. Partai-partai lainlah yang akan 
merapat ke mereka. Demokrat tidak memerlukan figur "vote getter".. 

Belajar dari pengalaman 5 tahun ini, dan dalam posisi partai yang sedang berada 
di atas angin, maka calon wakil presiden yang diperlukan Demokrat adalah sebuah 
figur yang tidak terlalu merepotkan SBY. 

Besar kemungknan SBY akan mengambil Akbar Tanjung. Tapi Akbar Tanjung diambil 
bukan dalam kapasitas sebagai yang resmi diusulkan Golkar. Kejadiannya sama 
seperti dulu ketika SBY mengambil Jusuf Kalla. Tapi dalam hal ini, belajar dari 
pengalaman, SBY tentu akan berupaya mencegah Akbar agar tidak menjadi Ketua 
Umum Golkar lagi. Dengan lain perkataan, SBY akan memiliki wapres yang tidak 
terlalu kuat di partainya (Golkar), tapi di fihak lain masih bisa diandalkan 
untuk "mengamankan" kawan-kawan separtainya di DPR.

Karena Jusuf Kalla tidak lagi dilirik sebagai calon wakil presidennya SBY, maka 
tentu saja ia tidak ingin membawa Golkar masuk dalam koalisi dengan Demokrat. 
Tapi para elit Golkar yang "gatal" dan sudah terbiasa memegang kekuasaan itu 
tentu saja tidak akan "happy" dengan situasi tersebut. Cepat atau lambat Golkar 
akan mengadakan munas dan Jusuf Kalla akan dicampakkan dengan alasan kegagalan 
dalam pemilu legislatif. Ketua umum yang baru (entah siapa pun) itu pasti akan 
"merapat" ke kubu Demokrat demi memperoleh beberapa jabatan menteri. Dan SBY 
atau Demokrat pun pasti akan menyambut baik tawaran itu.

Partai-partai yang lain, seperti PKS, PKB, PAN dan PPP juga tentu akan memilih 
"merapat" ke kubu Demokrat. Bagi Demokrat ini tentu bukan persoalan. Dengan 
melakukan koalisi dengan sebanyak mungkin dari partai-partai tersebut (baca: 
memberikan kepada mereka 1 atau 2 pos menteri) kebijakan Presiden di DPR sudah 
bisa diamankan.

Yang menghadapi persoalan besar adalah PDIP. Jangankan untuk mencari figur 
calon wakil presiden yang sekaligus bisa menjadi "vote getter" dalam pemilu 
presiden mendatang, meloloskan Megawati sebagai presiden pun mereka masih 
membutuhkan koalisi dengan partai lain (perolehan PDIP hanya 14%). Tapi yang 
menjadi persoalan ialah, partai mana yang mau berkoalisi dengan PDIP yang calon 
presidennya (Megawati) sudah jelas bakal kalah menghadapi SBY? Semua partai 
tentu akan memilih berkoalisi dengan SBY/Demokrat yang punya masa depan sangat 
cerah.

Besar kemungkinan bahwa calon presiden yang memenuhi syarat dan bisa diloloskan 
oleh DPR hanyalah SBY. Dengan lain perkataan hanya akan ada satu salon tunggal. 
(Entah bagaimana UU mengatur pemilu bila calon presiden hanya ada satu).

Atau kemungkinan yang lain adalah: Gerindra dan Hanura akan berkoalisi dengan 
Megawati. Memang, kedua partai itu sangat menyadari, bahwa koalisi yang mereka 
lakukan itu adalah koalisi para "loser" yang tidak akan bisa menjamin 
kemenangan calon presiden mereka. Tapi mereka melakukan koalisi ini lebih 
sebagai sebuah persiapan untuk pemilu legislatif dan presiden di tahun 2014.

Tapi di tahun 2014 calon presiden yang harus "dijual" tidak mungkin lagi 
Megawati. Prabowo-lah yang akan dijual. Yang menjadi pertanyaan ialah, apakah 
sebuah koalisi oposisi dari 3 partai yang dipimpin oleh Megawati, Wiranto dan 
Prabowo akan bisa berjalan langgeng? 

Dalam perpolitikan seperti di Indonesia, dimana yang menjadi ideologi 
partai-partai adalah uang dan kekuasaan, apa saja bisa terjadi.

Mula Harahap

















      Berselancar lebih cepat. Internet Explorer 8 yang dioptimalkan untuk 
Yahoo! otomatis membuka 2 halaman favorit Anda setiap kali Anda membuka 
browser. Dapatkan IE8 di sini! 
http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke