AGEN KAPITALISME DALANG KONFLIK RAKYAT PAPUA
[http://arkilausbaho.blogspot.com]
Konflik yang terus saja terjadi di Tanah Papua menjelang pemilihan Umum
Indonesia tahun 2009, Papua di hebohkan dengan berbagai insiden yang tak luput
juga menelan korban Jiwa. Aktor-aktor kapitalisme di Papua terus menaikan
status Papua Zona Damai menjadi kisruh yang memakan korban. Entah siapa saja
agen kapitalisme di Papua dapat saya tuliskan dalam ragam karakter persitiwa
dan dinamika politik Papua akhir-akhir ini.
Isu Papua merdeka tidak hanya rakyat Papua saja yang berkepentingan. Tetapi
elemen kapitalis terus menyediakan ruang dengan dukungan antek-antek berbaju
Papua merdeka. Kini, aktor kapitalis tidak hanya individu tetapi kemudian
melembaga dalam kerangka perjuangan orang Papua. Prospek penting yang harus
diantisipasi bagi keterlibatan negara-negara kapitalis atas isu Papua merdeka
adalah dengan beraninya segala usaha provokaif membodohi rakyat dengan segudang
krakter penindasannya, kapitalisme Papua meng-iyakan korban sipil meningkat.
Tak lain adalah, rekayasa konflik sebagai pola merekonstruksi gerakan radikal
untuk terus mengakibatkan penduduk menjadi korban ditengah minoritasnya
penduduk Papua saat ini.
Ditahun 2008-2009, deklarasi parlemen di Inggris dan pembentukan pengacara
Papua di Amerika. Amerika maupun Inggris dua negara yang suprastruktur ekonomi
dan politiknya-Kapitalisme. Freeport dan LNG BP di Papua seakan memetakkan
karakter politik kedua kekuatan negara dalam mendukung bahkan menjadikan
tuntutan perjuangan rakyat Papua sebagai bergaining politik dalam mengendalikan
struktr negara di Papua.
IPWP-ILWP alat bagi kapitalisasi Isu Papua Merdeka
Amerika dengan memasukan Freeport di Papua, keberadaan Freeport kemudian
mendatangkan kekuatan militer pembunuh rakyat. Sama halnya LNG-BP tak begitu
bersih dari pelanggaran pembunuhan rakyat sipil. Secara fisik keberadaan dua
perusahaan asal Amerika dan Inggris menuai korban sipil, konflik pun sampai
sekarang tidak lengah dari wilayah tambang. Nah, akomodasi politik dari
peluncuran dua wadah Papua di Inggris dan amerika pun menuai kericuhan rakyat
sipil. Gerakan ILWP dan IPWP memancing semangat reaksioner orang Papua yang
begitu meletakkan nasib dalam tuntutan merdeka sejak tahun 1961 silam. Sayanya,
generasi Papua sendiri terus menjadikan dirinya dalam pola reaksioneritas
dengan menyumbang malapetaka penindasan politik.
Rentetan aksi-aksi brutal di Tanah Papua seakan mendukung dua kegiatan yang
berlangsung di amerika maupun Inggris sedangkan kekuatan ekonomi politik
penjajahan aset ekonomi rakyat Papua tidak tersentuh baik oleh gerakan sipil di
Papua maupun di amerika dan Inggris. Dengan demikian, jadilan gerakan hari ini
di Papua sebagai bias dari akumulasi kapitalisasi isu Papua merdeka.
Bayangkan, gerakan huru-hara di Papua hari ini menjadikan dana pembangunan di
Papua harus diambil alih untuk kepentingan Operasi militer dengan stigma
gangguan keamanan. APBD Kabuapaten Puncak Jaya saja, diduga dari satu bulan
terakhir operasi penumpasan OPM sekitar 2 milyar kas daerah terkuras habis
hanya untuk alasan penuntasan gangguan keamanan. Tak beda juga dengan APBD
provinsi Papua pasti terkuran habis dengan penanganan konflik dan Hak Orang
Papua untuk mendapatkan dana bagi pembangunan dan kelayakan fasilitas di
tiadakan.
Orang Papua jadi korban konspirasi sejak dahulu digabungkan kedalam Republik
Indonesia, nasib yang sama sampai hari ini gerakan kapitalisasi Isu Papua
Merdeka terus menjadikan korban kemanusiaan, warga sipil di tembak akibat
provokatif agen kapitalisme di Papua. Kekayaan alam rakyat Papua di eksploitasi
bagi kejayaan Imperialisme dunia. Amerika dan Inggris meninggalkan dusta
malapetaka selama menempatkan kekuatan indsutri di Papua. Dan hari ini pun tak
beda dengan politisasi Papua oleh kekuatan asing yang sama.
Sudah ada empat orang tertembak pasca luapan rakyat Papua menyambut diadakannya
internasional Parliamentary West Papua ( IPWP ) di Inggris dan Internasional
Lowyer For West Papua ( ILWP ) di amerika. Adakah dampak positif dari gerakan
Papua yang digagas di negara lain?. sama sekali tidak ada. Yang terjadi adalah
rakyat sipil dijadikan tumbal hegemoni negara-negara kapitalisme.
Sebagai generasi Papua yang anti kapitalisme-Imperialisme, ulasan diatas
sebagai bentuk penolakan atas keterlibatan antek-antek kapitalisme Amerika dan
Inggris dalam upaya perjuangan orang Papua. Sebab, kedaulatan rakyat adalah
dukungan atas kesadaran ril yang matang bagi rakyat sipil. Tidak dibenarkan
sebuah pejuangan menggantungkan cita-citanya pada kekuatan kapital yang nota
bene hari ini menjajah kedaulatan negara-negara merdeka dan
terbukti...kapitalisme telah gagal. Krisis global hari ini adalah bukti
dominasi ekonomi dunia oleh kapitalisme, maka itulah tidak dengan menjadi agen
kapitalis lagi, tetapi karakter ekonomi dan politik tradisional orang Papua
hari ini bukti akurat bahwa sosialisme adalah harus.
--
Posting oleh ARKILAUS ARNESIUS BAHO ke ARKILAUS ARNESIUS BAHO pada 4/10/2009
06:02:00 AM
Buat sendiri desain eksklusif Messenger Pingbox Anda sekarang! Membuat
tempat chat pribadi di blog Anda sekarang sangatlah mudah.
http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/
[Non-text portions of this message have been removed]