Kita butuh SDM seperti Sintong P, Prabowo, Sudomo, M.Yusuf yg bisa mengabdikan hidupnya demi pemerintahan yang sah. Seandainya Prabowo berhasil dalam kudeta, Letkol Untung berhasil dalam G30S, maka mereka adalah pahlawan. Apalagi mereka adalah tenaga militer yang sangat terdidik.
Yang menang yang berkuasa, yang kalah jadi abu. Tidak pantas Cakrabirawa, Tim Mawar Kopassus dihukum. Benar kata Sintong. Bandingkan dengan ahli yg amatir yg merekayasa Peristiwa 27 Juli, Malari 1974, Semanggi I dan II yg dalam ilmu militer dianggap blunder?? --- On Tue, 4/7/09, Enigma Tupa <[email protected]> wrote: From: Enigma Tupa <[email protected]> Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Prabowo & mantan culikan! To: "Forum Pembaca Kompas" <[email protected]> Date: Tuesday, April 7, 2009, 10:16 PM Selamat siang, Saat Prabowo diberondong pertanyaan seputar serangkaian�sepak terjangnya dalam �penculikan di akhir 90-an, yang dilontarkan Dalton, dengan "logika" terbaliknya, Prabowo, masih dengan "mimik wajah seorang pelaku", memberi penalaran, apakah mungkin (possible / probable), di muka bumi ini, ada para "culikan / yang diculik" yang mau dan bersedia mengabdi kepada si mantan pelaku penculik mereka? Benar, kita salut dengan "konsultan politik" yang�dibayar mahal�oleh Partai Gerindra. Jurus "merekrut para culikan" adalah untuk mem-plaster "setumpuk kekejian" yang telah sempat diperbuat Prabowo. Benar juga, kan yang menciduk dan menyiksa, bukan Prabowo. Tangan Prabowo senantiasa steril selamanya. Aman dan suci dari hama. Cuma, dunia Internasional perlu tahu dan paham serta mengeri, bahwa ini semua terjadi di bumi persada Indonesia. Di negeri yang adalah "sorga" dunia ini, segalanya bisa dan mungkin saja terjadi dan boleh ada. Jangankan hanya "Black Swan", "Blue" atau "Green" atau "Yellow" Swan sekali pun mungkin dan bisa saja ada. Indonesia, lebih segalanya dari yang ada dalam "impian" mau pun "imajinasi terliar" yang sempat tersirat dalam daya khayal siapa pun. Amerika masih jauh. Di sini, tidak ada yang tidak mungkin. Tidak ada yang tidak bisa. Jadi, jangankan cuma ada adegan "culikan mengabdi pada mantan penculik", asalkan "harga cocok" dengan "bandrol", Mama kandungnya sekali pun silakan saja "dimanfaatkan" . Kalau saja Anda "tergiur dan menaruh nafsu" ama Neneknya, itu juga bukan problem. Gampangnya, berapa Anda berani membuka harga? Apa yang tidak "digadaikan" dan "dijual murah" di Indonesia ini? Dari jaman kerajaan hingga sekarang? Berapa banyak putra-putra bangsa ini yang telah digadaikan dan dijual menjadi "Romusha" oleh manusia-manusia yang mereka percayai sebagai "pemimpin"? Di sini, manusia-manusianya tidak memiliki "heart /jantung", hanya ada "hati / liver". Sistem peredaran darah dan emosi di wilayah ini, adalah sungguh sangat berlainan dengan di belahan bumi sisanya. Teman seperjua ngan "saling membantai". Putri kandung yang masih anak-anak saja siap dikorbankan. Apa saja mungkin dan bisa. Jangan pertanyakan "kesetiakawanan" , "integritas" dan sejenisnya. Itu cuma "wacana" di kopi-tiam. Topik selorohan tukang angkut sampah dan para abang-abang beca! Demi "segepok uang", yang disebut pemimpin, dengan tega dan keji "menipu" manusia-manusia yang telah memilihnya untuk dipercayai, dengan "bibit padi yang afkir". Apa lagi yang tidak mungkin? Blue energy? Blue Film.... kali? Air mata buaya? Ha...ha...ha. ..di Indonesia sini "sumbernya". ........tak akan pernah mengering... .. Sayang, Prabowo lupa menggaji seorang guru peran yang profesional (paling tidak dari Broadway gitu lho), yang bisa melatihnya dan lalu membentuknya menjadi seorang yang benar-benar "A Brand New Prabowo".� Apa pun yang 'coba-coba' dikoar-koarkan, sia-sia saja. Rona wajah Anda saat mendapat pertanyaan yang menyangkut "kekejian dan kenekad-an", masih dengan gamblang tersurat jelas bahwa Anda-lah "biang kerok"nya. Tanpa butuh perangkat "lie detector". Bibir yang masih saja "gemetar"! Gerakan tangan yang begitu gelisah! Indonesia membutuhkan pemimpin yang memiliki "keluarga" yang utuh, bukan dia yang "The Count of Monte Cristo" (menghilang, lalu tiba-tiba muncul dengan se-pegunungan dana).. Mempertahankan mahligai keluarga saja payah, bagaimana punya daya kemampuan menjalankan proses penyelenggaraan kenegaraan demi kemakmuran dan kesejahteraan orang banyak? Pertapa lagi lah, kembali 5 tahun kemudian! Latih "bicara" dan "mimik"! salam makmur sejahtera untuk Indonesia yang lebih cerdas!
