Terlepas dari mafia apapun, kalau saya mah sederhana aja Pemilu ini tidak menjadikan kita bercermin..
Jika di AS saja saat kampanye yang kemudian melahirkan Obama mampu menggali nilai-nilai AS dan mengangkat ketimpangan ke permukaan, dan menggugat sistem ekonomi.. Kita semua itu hilang dan seolah kita tidak merasa ada masalah ketimpangan yang harus diselesaikan sebagai sebuah bangsa.. Sebuah Pemilu yang tak menghasilkan eforia.. Dingin, asal stabil, DPT kacau dsb-nya TAPI tidak ada suasana patriotik yang membuat kita merasa sebagai sebuah bangsa.. Pemain pemilu pun kayak main catur, mikir gimana caranya menang dan pemilih menjadi penonton strategi tanpa merasa ada feel seperti nonton sepak bola :) Masa kita tak prihatin sih, karena isunya seorang Obama sampai ada fans club nya di Indonesia sampai ada acara Inagurasi yang ditonton penasaran oleh pemirsa Indonesia.. TAPI, gegap gempita quick count disambut dingin.. Aaah sudahlah, mau mafia apa kek yang jelas dalam realita kita ini kerjanya cari kerja disaat berita soal beragam teknokrasi ekonomi menghiasi berita.. Sebuah berita dan permainan yang tak melibatkan rasa memiliki dari rakyat-nya.. -Yanuar Rizky- (mail to: [email protected]) transmitted by tukang pos�[on the net: www.elrizky.net] -----Original Message----- From: "rubayat2001" <[email protected]> Date: Sat, 11 Apr 2009 16:56:39 To: <[email protected]> Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Mafia Berkeley ??? Kalau kita secara obyektive boleh menilai Tehnokrat Ekonomi yang berada dibawah pimpinan Presiden Soeharto berkuasa selama 32 tahun yang terkenal dengan sebutan "Mafia Berkeley" sebenarnya terus dilanjutkan oleh para ekonom baru yang merupakan sambungan dari "Mafia Berkeley" karena mereka mempunyai pola pikir dan jalur konsep dasar ekonomi yang sama dan tidak berubah yaitu mendukung pasar bebas tanpa "reserve" yang pada intinya hanya memberikan kesempatan luas kepada para pengusaha kelas atas yang dekat penguasa sekaligus didukung dan kerjasama dengan para pengusaha multinasional asing utamanya di sektor "Finance" yang berujung runtuhnya ekonomi nasional kita dan jatuhnya Rezim Presiden Soeharto.Kejatuhan itu antara lain juga akibat dari lebih condongnya Soeharto ke Habibie dan dianggap menggeser posisi group Wijoyo Cs. Namun dengan segala persoalan yang dihadapi oleh Habibie setelah menerima estafet kekuasaan dari Soeharto dalam waktu singkat berhasil mestabilkan nilai mata uang Rupiah dari per dollar AS =Rp 16.000,- menjadi Rp 8.000,-, sayang Habibie harus turun panggung. Dalam masa reformasi di Era Gus Dur, naiknya Megawati dilanjutkan SBY menunjukkan bahwa nilai Rupiah kita belum pernah kembali lagi seperti masa singkat Habibie, padahal Ekonom2 lanjutan "Mafia Berkeley" dan anak didik Wijoyo CS yang selama masa reformasi ini memegang posisi penting portfolio ekonomi, baik dalam Kabinet Mega maupun SBY. Tuduhan kroni dan KKN di era Soeharto dan Habibie tidak bidsa kita pungkiri tetapi anehnya toh penyakit itu tetap terus juga berlangsung dan dilaksanakan bahkan sedikit lebih terbuka dan hebat daripada masa Habibie, walau sekarang ini KPK bekerja keras memberantas korupsi. Dengan fakta itu jelas sekali bahwa analisa Pak Liman ini sangat sumir dan kurang akurat sama sekali. Rusaknya ekonomi nasional kita harus kita lihat dengan kacamata yang jujur dan obyektive bahwa selain banyak faktor lain tetapi harus diakui sebab utamanya adalah akibat konsep Ekonomi Bebas (Liberal)tanpa batas yang dianut dan dijalankan para Ekonom "Mafia Berkeley" yang kenyataannya sama sekali tidak memberikan fondasi kuat bagi tumbuhnya ekonomi rakyat dan bangsa Indonesia sebagaimana diamanatkan oleh Pembukaan UUD 1945 kita. Korupsi,pungli, KKN dan Kroni2 yang berlangsung selama puluhan tahun di tanah air tercinta ini pada hakekatnya banyak dipicu dan diperluas jangkauannya oleh sistim ekonomi dari para ekonom penganut ekonomi bebas yang berkuasa sejak awal pemerintahan Soeharto (termasuk kolaborasi mereka dengan World Bank dan IMF) yang dilanjutkan terus oleh anak didiknya di era reformasi kecuali jedah sebentar di era Habibie dan masa Gus Dur berkuasa. Hasilnya bisa kita lihat bagaimana posisi ekonomi rakyat dan negara kita hingga saat ini, berhasilkah ??? Saya tidak berwenang menilai biar masyarakat kita dan Pak Liman secara jujur menilainya sendiri. Kita juga menyaksikan bahwa krisis ekonomi dunia sejak Oktober 2008 tidak lain dan tidak bukan disebabkan sistim ekonomi bebas tanpa moral yang dianut oleh para ekonom AS dan negara2 G-7 termasuk WB dan IMF yang berhasil menyengsarakan rakyat2 AS dan dunia. Wallahuaklam. ------------------------------------ ===================================================== Pojok Milis Komunitas Forum Pembaca KOMPAS [FPK] : 1.Milis Komunitas FPK dibuat dan diurus oleh pembaca setia KOMPAS 2.Topik bahasan disarankan bersumber dari http://cetak.kompas.com/ dan http://kompas.com/ 3.Moderator berhak memuat,menolak dan mengedit E-mail sebelum diteruskan ke anggota 4.Moderator E-mail: [email protected] [email protected] 5.Untuk bergabung: [email protected] KOMPAS LINTAS GENERASI ===================================================== Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[email protected] mailto:[email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
