Memang  penyelenggara quick count apapun namanya lembaga survey tsb seharusnya 
independent. agar hasilnhya credible dan tidak mencurigakan. Kalau jadi 
konsultan politik partai silakan saja, tapi tidak menjadi sumber berita untuk 
publik, repotnya kepemilikan TV juga terkait dengan tokoh-tokoh Partai 
tertentu.Coba kita perhatikan, potongan-potongan berita/tayangan diedit 
sedemikian rupa menjadi iklan program(promo program TV tsb) diulang-ulang terus 
sama saja dengan iklan partai tertentu yang menyampaikan slogan tokohnya. 
Apalagi menyampaikan hal negatif dari lawan-lawannya. Hal ini seharusnya KPI 
tahu. Kita sebagai rakyat biasa memang bosan jadi obyek akal-akalan terus, DPT 
saja nggak beres-beres padahal sudah berkali-kali mengadakan Pemilu, kan jadi 
mencurigakan, jangan-jangan memang dibuat ga beres. Pemilu 1999 dan 2004 
"terasa" lebih beres dibandingkan Pemilu sekarang bukan? Saya yakin, Pilpres 
akan lebih beres, karena sudah tidak menentukan lagi
 siapa yang akan jadi Capres dan yang bakal menang secara survey. Mungkin juga 
akan lebih banyak lagi yang benar-benar Golput, jadinya tidak usah digolputkan 
lagi. dan hal ini untuk mengembalikan kredibilitas Pemerintah dalam 
melaksanakan Pemilu dan lebih melegitimasikan keterpilihan Presiden secara 
"beres" nanti.
Sayangnya kemenangan Golputers dinodai golongan yang "digolputkan" sehingga ini 
bukan kemenangan Golputers murni tetapi kemenangan "No Change"
Salam.

        
         
        
        


        


        
        
        
        
        




      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke