Tepat sekali Pak Teguh.... Saat mereka menebar pesona, seolah mereka Negarawan yang segenap jiwa raganya demi bangsa. Namun begitu kekalahan yang mereka peroleh, mereka seperti kehilangan akal budi, dan tata kerama. Ternyata mereka bak srigala berbulu domba...Emosional dan cendrung mau merusak kedamaian yang ada. Sama sekali mereka tak menghargai masyarakat bawah yang berjibaku mempersiapkan pemilu di tingkat RT (TPS). Di RT saya, warga yang terlibat Rapat spanjang hari, bergontong royong hingga tengah malam, dan bersiap-siap diri dari dini hari demi pemilu buat negeri ini.
Andai mereka"Prabowo" bisa sedikit Arif dan bijaksana dengan terus menebar pesona dalam kehalusan budi yang menggambarkan kesatria. Bisa jadi kekalahan pemilu legeslatif ini hanya kemenangan yang tertunda saja, begitu bertarung di Pil Pres, bisa jadi mereka juaranya. Karena masyarakat kita gampang bersimpati pada Pemimpin yg kalam, halus budi dan tidak emosional dan sok pintar "(Ingat sosok Amin Rais...yang tak pernah laku) Sayang mereka tak belajar dari Ajang Indonesia IDOL. Kemenangan Delon Idol, Ikhsan Idol, Mick Idol, mereka mendulang dukungan karena adanya emphaty dari pemilih...bukan semata-mata pada kualitas suaranya..... Ada Idol-idol yang handal...begitu terlihat kecongkakannya...maka larilah para pengirim SMS...... Namun syukurlah, ketahuan belangnya. Dahulu saya pernah mengidolakan salah satu kandidat Presiden...sampai-sampai saya di bilang teman sebagai team sukses kandidat tersebut. Namun begitu mendengar Wawancara Habibi di Metro TV, saya kecewa, ternyata ada orang besar yang suka lapor-melapor yang terkesan berprilaku tak pantas. Saya memang tak menyesal memilihnya, namun saya bersyukur sekali bahwa dia gagal terpilih jadi Presiden saat itu. Kalau melihat kecurangan di pemilu saat ini...semua partai hampir bisa dikatakan curang......hehehe yang saya lihat di layar TV --- On Mon, 4/13/09, Teguh Santoso <[email protected]> wrote: From: Teguh Santoso <[email protected]> Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Merindukan saling mengucapkan selamat atas keberhasilan lawan To: [email protected] Date: Monday, April 13, 2009, 8:49 PM Entah berapa tahun lagi saya bisa menyaksikan politikus saling mengucapkan selamat kepada lawan nya jika telah kalah dalam pemilihan. Lalu menganjurkan kepada pendukungnya untuk ikut bersikap arif dan kesatria menerima kenyataan. Jika itu mimpi, saya tetap bersabar untuk menunggunya, tapi jika itu mustahil? Apakah sudah demikiankah tabiat politikus kita? Maunya semuanya menang, dan tidak siap bersikap kesatria jika kalah. salam Teguh Santoso
