Siaran Pers Bersama WALHI, JATAM & KIARA – 16 April 2009

Pohon Penutup Borok Kejahatan Korporasi
Greenwash Korporasi Tambang dalam Indogreen Forestry Expo 2009

Jakarta (15/4/2009). Pemulihan kerusakan hutan tak mungkin terwujud
hanya dengan jargon One Man, One Tree, Satu orang satu pohon, yang
digagas Departemen Kehutanan dalam gerakan Indonesia Menanam.
Sementara dibalik jargon tersebut, Pemerintahan SBY mengeluarkan
kebijakan pembabatan hutan alam tersisa, lewat PP No 02 tahun 2008,
yang menyewakan hutan lindung untuk dikeruk, penggunakan kayu alam
untuk industri pulp dan kertas, UU No 4 tahun 2009 tentang Mineral dan
Batubara, serta kebijakan penggunaan lahan gambut untuk kebun besar
kelapa sawit. Jargon ini akan menjadi alat  pencitraan hijau dibalik
penghancuran hutan Indonesia oleh korporasi transnasional.

Jargon Satu orang Satu Pohon dan tema “Save The Forest, Save The
World” pada Indogreen Forestry Expo 2009 - Departemen Kehutanan pada
14 – 17 April 2009 di Jakarta, sungguh membodohi dan menyesatkan
publik. Proses alih fungsi lahan hutan menjadi kawasan tambang, kebun
kayu monokultur dan perkebunan besar kelapa sawit, makin membuat
program penghutanan kembali - Gerhan, maupun Indonesia Menanam, tak
berarti.

Kebijakan Pemerintah 2 tahun terakhir mengancam hutan lindung tersisa,
yang berdampak pada 60 juta warga negara bergantung kawasan hutan.
Akibatnya Intensitas bencana ekologis meningkat, pada 2008,  terjadi
359 kali kejadian bencana. Laju kerusakan hutan kita mencapai 2,7 juta
hektar pada tahun 2007.

Sampai 2006, lebih 11,23 juta hektar hutan telah dilepaskan untuk
Hutan Tanaman Industri dan hanya 20 persen diantaranya yang telah
ditanami. Dan dari 20,29 juta hektar ijin perkebunan besar kelapa
sawit, hanya 6,7 juta hektar yang ditanami, sisanya ditinggalkan
setelah diambil kayunya.

“Indonesia butuh lebih dari sekedar menanam. Pemerintah harus segera
melakukan pencabutan peraturan perundang-undangan yang melanggengkan
industri-industri ekstraktif yang telah merusak sebagian besar hutan
dan kekayaan alam Indonesia” ujar Teguh Surya, Kepala Departemen
Advokasi dan Jaringan WALHI.

Pameran ini patut digugat, mengingat para pendukung utamanya adalah
perusahaan tambang skala besar perusak hutan. Mereka mengeruk perut
bumi, membabat hutan dan membuang jutaan ton limbah ke darat dan laut.
PT Newmont Nusa Tenggara mengeruk emas Sumbawa. Ada lebih 1500 ha
hutan yang berubah menjadi lubang tambang, jalan, pabrik dan fasilitas
tambang lainnya. Ia membuang 120 ribu ton limbah tailing perhari ke
laut teluk Senunu. Dan sedang meluaskan tambangnya ke hutan lindung,
ekplorasi dilakukan di hutan lindung Dodo dan Rinti seluas 12.639 ha.
Belum lagi tambangnya di Sulawesi utara, yang mengubah hutan warga
menjadi lubang-lubang raksasa, hingga perusahaan tutup.

PT Freeport Indonesia/ Rio Tinto di Papua, membuang 220 ribu ton
limbah per hari ke lingkungan. Sementara terjadi perusakan hutan dan
gunung Etsberg dan Grasberg, limbah tailingnya menghancurkan
ekosistem dataran rendah hingga muara Ajkwa. Tahun 2000, ada sekitar
21 – 63 km2 hutan bakau yang rusak di muara.  Sementara PT Inco, Di
Pomalaa Timur Sulawesi Tenggara,  tambang Nikel dilaporkan merusak 75
ha hutan. Oktober 2006, Direktur Utama PT. Inco Arif Siregar, juga
Senior-VicePresident, Timothy C Netscher yang tersangka dalam kasus
perusakan hutan lindung Desa Karebbe, Malili, Luwu Timur Sulawesi
Selatan.  Sekitar 45 persen lahan tambang PT Inco adalah hutan
lindung. Perusahaan lain,  lainnya? Mulai PT Timah, PT Antam, PT Adaro
Indonesia hingga PT Kaltim Prima Coal, setali tiga uang.

“Cara pemerintah mempromosikan model penyelamatan hutan lewat jargon
dan pencitraan hijau (greenwashing) sangat menyesatkan dan tak memberi
manfaat bagi penyelamatan hutan. Sebaliknya  menjadi bedak penutup
borok perusak hutan. Industri tambang salah satu ancaman terbesar
hutan lindung tersisa saat ini ”, ujar Siti Maemunah, Koordinator
Nasional JATAM.

Kontak Media:
1.     M. Teguh Surya, hp 081371894452
2.     Luluk uliyah, hp 0815480246
3.     Riza Damanik, hp 0818773515

====================================
Dukung perluasan informasi dan kemudahan akses informasi, khususnya 
warga di lokasi-lokasi terpencil yang terancam industri tambang, juga 
pubik secara umum. Dukung WE ARE CONNECTED

Kunjungi terus website JATAM di www.jatam.org agar anda menjadi yang 
pertama yang mengetahui informasi terkait daya rusak pertambangan. Dan 
apabila anda ingin mendapatkan informasi terbaru dari website JATAM 
secara berkala, daftarkan segera email anda di JATAM RSS yang ada di 
website JATAM www.jatam.org
===================================
Luluk Uliyah
Manager Sekretariat JATAM
Jl. Mampang Prapatan II/30 Jakarta Selatan
Telp/Fax. 021- 794 1559
email : luluk at jatam.org


------------------------------------

=====================================================
Pojok Milis Komunitas Forum Pembaca KOMPAS [FPK] :

1.Milis Komunitas FPK dibuat dan diurus oleh pembaca setia KOMPAS
2.Topik bahasan disarankan bersumber dari http://cetak.kompas.com/ dan 
http://kompas.com/
3.Moderator berhak memuat,menolak dan mengedit E-mail sebelum diteruskan ke 
anggota
4.Moderator E-mail: [email protected] [email protected]
5.Untuk bergabung: [email protected]

KOMPAS LINTAS GENERASI
=====================================================
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke