Bung Haniwar Syarif,
Lalu kalau setelah 42 tahun kemudian negeri yang bernama Indonesia seperti ini. 
Hutan dqan tambang sudah hampir habis, Rakyat disekeliling bekas hutan dan 
bekas tambah perikehidupannya nyaris tidak berubah dari status kemiskinannya. 
Kesenjangan Sosial dan Kesenjangan Ekonomi semakin menganga lebar. Orang dan 
miskin berjumlah lebih dari 100 juta orang. BLT dan segala sesuatu yang gratis 
dan bersifat sedekah sangat didambakan oleh rakyat miskin. Pilkada, Pemilu dan 
Pilpres akan semakin kenthal dengan "politik uang dan hiburan murah bagi 
rakyat!'. Demokrasi hanya berlaku bagi yang punya duwit. Yang miskin sekedar 
ditempatkan sebagai obyek dan korban demokrasi.Dengan limapuluh ribu rupiah dan 
atau sebungkus paket Sembako Si Miskin telah menggadaikan semua Hak-haknya 
untuk lima tahun kedepan. Lalu apa yang dapat dikerjakan oleh kita sekalian; 
hey Bung Haniwar!? Marah, menangis, ngamuk . . . !? Sebuah negeri yang dihuni 
oleh bangsa kuli dan kuli dari
 bangsa-bangsa lain! Tak perlu kehormatan, martabat dan kebanggaan! Buang 
jauh-jauh  semua mimpi! Apakah kuli masih boleh bermimpi?! Mimpi telah menjadi 
luxury. Salam keprihatinan Tjuk KS

--- Pada Jum, 17/4/09, Haniwar Syarif <[email protected]> menulis:

Dari: Haniwar Syarif <[email protected]>
Topik: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Mafia berkeley
Kepada: [email protected]
Tanggal: Jumat, 17 April, 2009, 9:40 PM

















      sekedar pengetahun  ttg Mafia Berkeley  , di cuplik dr kolomnya Kwi Kian 
Gie



Kekuasaan dan landasan atau pondasi kebijakannya

yang konsisten selama 53 tahun berawal pada

Pemerintah Soeharto yang urut-urutan kronologis sejarahnya sebagai berikut.



Kebijakan ekonomi pemerintah Soeharto diawali

dengan konperensi di Jenewa antara Tim Ekonomi

Indonesia yang dipimpin oleh Prof Widjojo

Nitisastro bersama-sama dengan para ekonom dari

UI, yang dalam suasana konperensi di Jenewa itu

lahir sebutan “Berkeley Mafia”. Tidak jelas siapa

yang menemukan istilah ini. Ada yang mengatakan

pemimpin counterpart delegasi Indonesia, David

Rockefeller. Istilah ini dikemukakan dengan nada

yang sangat menghargai terhadap "the top economists of Indonesia".



Inzinkanlah saya mengutip gambaran yang diberikan

oleh John Pilger, yang pada gilirannya mengutip

kata-kata Jeffrey Winters sebagai berikut :

“Dalam bulan November 1967, menyusul

tertangkapnya ‘hadiah terbesar’, hasil

tangkapannya dibagi. The Time-Life Corporation

mensponsori konperensi istimewa di Jenewa yang

dalam waktu tiga hari merancang pengambil alihan

Indonesia. Para pesertanya meliputi para

kapitalis yang paling berkuasa di dunia,

orang-orang seperti David Rockefeller. Semua

raksasa korporasi Barat diwakili :

perusahaan-perusaha an minyak dan bank, General

Motors, Imperial Chemical Industries, British

Leyland, British American Tobacco, American

Express, Siemens, Goodyear, The International

Paper Corporation, US Steel. Di seberang meja

adalah orang-orangnya Soeharto yang oleh

Rockefeller disebut "ekonoom-ekonoom Indonesia yang top".



"Di Jenewa, Tim Sultan terkenal dengan sebutan

'the Berkeley Mafia', karena beberapa di

antaranya pernah menikmati beasiswa dari

pemerintah Amerika Serikat untuk belajar di

Universitas California di Berkeley. Mereka datang

sebagai peminta-minta yang menyuarakan hal-hal

yang diinginkan oleh para majikan yang hadir.

Menyodorkan butir-butir yang dijual dari negara

dan bangsanya, Sultan menawarkan : …… buruh murah

yang melimpah….cadangan besar dari sumber daya alam ….. pasar yang besar".



Di halaman 39 ditulis : "Pada hari kedua, ekonomi

Indonesia telah dibagi, sektor demi sektor. ‘Ini

dilakukan dengan cara yang spektakuler’ kata

Jeffrey Winters, guru besar pada Northwestern

University, Chicago, yang dengan mahasiwanya yang

sedang bekerja untuk gelar doktornya, Brad

Simpson telah mempelajari dokumen-dokumen

konperensi. 'Mereka membaginya ke dalam lima

seksi : pertambangan di satu kamar, jasa-jasa di

kamar lain, industri ringan di kamar lain,

perbankan dan keuangan di kamar lain lagi; yang

dilakukan oleh Chase Manhattan duduk dengan

sebuah delegasi yang mendiktekan

kebijakan-kebijakan yang dapat diterima oleh

mereka dan para investor lainnya. Kita saksikan

para pemimpin korporasi besar ini berkeliling

dari satu meja ke meja yang lain, mengatakan :

ini yang kami inginkan : ini, ini dan ini, dan

mereka pada dasarnya merancang infra struktur

hukum untuk berinvestasi di Indonesia. Saya tidak

pernah mendengar situasi seperti itu sebelumnya,

di mana modal global duduk dengan para wakil dari

negara yang diasumsikan sebagai negara berdaulat

dan merancang persyaratan buat masuknya investasi

mereka ke dalam negaranya sendiri.



Freeport mendapatkan bukit (mountain) dengan

tembaga di Papua Barat (Henry Kissinger duduk

dalam board). Sebuah konsorsium Eropa mendapat

nikel Papua Barat. Sang raksasa Alcoa mendapat

bagian terbesar dari bauksit Indonesia.

Sekelompok perusahaan-perusaha an Amerika, Jepang

dan Perancis mendapat hutan-hutan tropis di

Sumatra, Papua Barat dan Kalimantan. Sebuah

undang-undang tentang penanaman modal asing yang

dengan buru-buru disodorkan kepada Soeharto

membuat perampokan ini bebas pajak untuk lima

tahun lamanya. Nyata dan secara rahasia, kendali

dari ekonomi Indonesia pergi ke Inter

Governmental Group on Indonesia (IGGI), yang

anggota-anggota intinya adalah Amerika Serikat,

Canada, Eropa, Australia dan, yang terpenting,

Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia".



Demikian gambaran yang diberikan oleh Brad

Simpson, Jeffrey Winters dan John Pilger tentang

suasana, kesepakatan- kesepakatan dan jalannya

sebuah konperensi yang merupakan titik awal

sangat penting buat nasib ekonomi bangsa Indonesia selanjutnya.







Kirim email ke