Sungguh tidak terpuji. Pajak yang dipungut dari rakyat ternyata disalahgunakan untuk pejabat. Harian KONTAN hari ini merilis rincian belanja upah pungut Mendagri. Sungguh ironis, uang rakyat itu digunakan seenaknya untuk kepentingan pribadi. Tahun 2007, upah pungut bagi Mendagri digunakan untuk nasi box di rumah pribadi, berobat ke Singapura, renovasi rumah pribadi, tahlilan 40 hari ortu istri, belanja harian, cuci gorden rumah pribadi, ultah istri, dll. Sementara tahun 2008 untuk pakaian mendagri, beli hp, pesta kawinan anak, belanja rumah pribadi. Selengkapnya plus rincian biaya yang fantastis ada di KONTAN 24 April hal.21.
Tidak heran rakyat semakin muak dengan perilaku pejabat. Mereka seenak jidat bermewah-mewahan di atas darah, keringat, air mata rakyat yang dipalak habis-habisan oleh sejuta satu macam pungutan dan pajak. Menarik disimak dalam kotbah jumat minggu lalu di tempat saya, sang khotib mempertanyakan mengapa kekayaan alam Indonesia yang melimpah ruah hanya menyumbang 20% APBN, 5% dari perdagangan, sementara 75% sisanya dari 'memalak' rakyat lewat pajak. Padahal nyaris segala jenis SDA Allah karuniakan kepada Indonesia, mulai dari emas sampai batubara, segala tanaman Allah tumbuhkan di nusantara, segala kekayaan laut pun tumpah ruah di lautan kita. Kenapa semua itu hanya menyumbang 20% APBN, jelas itu kebodohan pengelola negara. Sang khotib membandingkan dengan Arab yang hanya Allah berikan minyak dan jemaah haji, tapi kenapa hanya dengan 2 sumber itu negara bisa kaya raya dan rakyat bebas pajak? Saatnya rezim baru nanti membenahi segala carut marut kanker kebodohan dan kerakusan yang tumbuh tidak karu-karuan di negara ini. 6 ramalan Joyoboyo, mulai dari runtuhnya Majapahit hingga kodok ijo ongkang-ongkang(tentara berkuasa di masa Orba) sudah terjadi. Dan tentu tidak ada satu orang pun yang menghendaki ramalan ke 7 terwujud. Naudzubillah min dzalik. Jadi mari benahi segala kekarutan ini, reformasi total segala perilaku birokrat secara nyata bukan hanya lips service semata. Wassalam, Imam
