Teman-2 yth Menarik sekali cerita ini, memangbanyak yang dari pedagang K-5 menjadi besar dan sukses, meski tentunya mengalami pasang surut usaha, dua yang kebetulan saya kenal baik ya Es Teler 77 dan Bakso Tembak Senayan. Mereka berdua juga sangat gigih dan 'baik hati' artinya banyak mengajak 'orang lain' untuk berusaha dan mengembangkan kesempatan kerja buat banyak orang. Mestinya (semoga) banyak lagi orang-2 yang gigih, pekerja keras macam mereka itu. Amin. Salam hijau lestari, Ning P
----- Original Message ----- From: "Agus Hamonangan" <[email protected]> To: <[email protected]> Sent: Thursday, May 07, 2009 1:33 PM Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Adi, Pedagang Kakilima yang Jadi Juragan Tas > http://bisniskeuangan.kompas.com/read/xml/2009/05/07/13303439/Adi..Pedagang.Kakilima.yang.Jadi.Juragan.Tas > > > KOMPAS.com - SUDAH banyak cerita pedagang kakilima yang kemudian menjadi > pengusaha sukses. Salah satunya adalah Muhammad Adi, pemilik CV Intascus > Sport, produsen tas yang cukup besar. > > Bisa dibilang, Adi merintis usahanya ini benar-benar dari bawah. Pria > tamatan sebuah SMA di Surabaya ini sudah kenyang makan asam garam sebagai > pekerja rendahan. > > Mulanya, selulus SMA pada 1981, Adi mencoba mengadu nasib merantau ke > Sulawesi dengan menjadi buruh di sebuah toko agen barang pecah belah. Adi > terpaksa merantau karena harus membantu membiayai sekolah adik-adiknya. > > Namun, ia tidak lama bekerja di toko itu. Adi pun kemudian "meloncat" ke > Kalimantan untuk bekerja sebagai buruh kasar di PT Newmont. Tapi, > lagi-lagi, Adi tak betah dan memutuskan pulang ke Surabaya. > > Ternyata pulang ke rumah malah membuatnya gelisah. Apalagi kalau melihat > adik-adiknya yang membutuhkan bantuannya. Karena itu, pada 1982, Adi nekat > ke Jakarta. Di ibukota negeri ini, Adi tinggal di kawasan Senayan berkat > kebaikan sesama perantau asal Jawa Timur dan Jawa Tengah. "Mereka bekerja > sebagai pelayan dan buruh," ujar pria kelahiran Surabaya, 12 April 1962 > ini. > > Untuk menyambung hidup, Adi bekerja serabutan. Pagi hingga siang hari ia > menjadi penjual tas keliling dari kantor ke kantor. Malam harinya Adi > menjadi juru parkir di Senayan. > > Meski penghasilannya kecil, dengan sekuat tenaga Adi berusaha menyisihkan > penghasilannya untuk modal berbisnis. "Modal pertama saya hanya Rp > 50.000," kenang Adi. > > Dengan uang segitu, Adi kulakan tas di Pasar Pagi untuk dijual kembali. > Beruntung, dagangannya selalu habis terjual. "Hasil jualan saya putar > lagi," kata bapak tiga anak ini. > > Sayang, jiwa muda Adi yang masih bergelora membuatnya tergoda untuk > berfoya-foya. Namun, setelah menikah pada 1985, Adi mulai berpikir serius > menjadi pengusaha tas sendiri. Ketika itu, modalnya pun pas-pasan. "Saya > terpaksa menjual perhiasan istri untuk modal awal," kata Adi. Lagi-lagi > dengan uang Rp 50.000, Adi memulai usahanya. > > Lantaran tak punya mesin jahit, Adi terpaksa meminjam milik temannya. > Sedikit keahlian menjahit ia manfaatkan sebaik-baiknya. > > Setelah enam bulan berjalan, usahanya mulai menampakkan hasil. Adi pun > memberanikan diri menggaji seorang karyawan untuk meningkatkan produksi. > Dengan satu karyawan itu, Adi mampu menghasilkan 150 tas per tahun seharga > Rp 20.000 per unit. Dari harga segitu, Adi mengambil laba Rp 12.000 per > unit. Maklum, modal membuat satu unit tas hanya Rp 8.000. > > Sejak saat itu, setiap enam bulan sekali Adi menambah seorang karyawan. > Untuk pemasaran, Adi memanfaatkan jaringan yang telah ia rintis saat masih > berdagang tas keliling. > > Pada 1987, Adi mulai menjalin kerjasama dengan panitia penyelenggara rapat > atau pelatihan di hotel-hotel. "Pada 1987 saya sudah memiliki tenaga > pemasaran 18 orang," tutur Adi. > > Omzetnya pun telah melonjak hingga Rp 3 juta per hari. Jumlah rupiah yang > sangat besar kala itu. Sedangkan total produksi mencapai 600 unit per > hari. Laiknya roda kehidupan, posisi Adi tak selalu di atas. "Saya pernah > kekurangan modal untuk menyelesaikan pesanan sampai harus menjual > kendaraan operasional," kenang Adi. > > Masa yang paling suram bagi Adi adalah saat pecah kerusuhan pada Mei 1998. > Saat itu, para karyawannya ketakutan dan memilih pulang kampung. Sialnya, > barang dagangan juga ikut mereka bawa hingga tak ada yang tersisa. "Saya > rugi ratusan juta," kenang dia. > > Toh, semangat Adi tidak pernah surut. Berbekal pinjaman bank, Adi mencoba > bangkit. Beruntung, pada 1999 bisnis tas kantor kembali naik daun. Adi pun > kembali menggenjot produksi dan mampu mencetak omzet Rp 50 juta per bulan. > > Sekarang, dalam sebulan paling sedikit Adi memproduksi 1.000 unit lebih > tas. "Omzetnya sekitar Rp 100 juta, dengan margin laba 20 persen sampai 40 > persen," ungkap Adi. Kini, ia punya klien tetap dari instansi pemerintah, > seperti Departemen Perhubungan dan Kepolisian Republik Indonesia (Polri). > > Selain tas kantor, Adi juga memproduksi jenis tas lain, seperti tas > perempuan. "Ini hasil belajar otodidak," ujar dia. > > Bagi rezeki > > Sudah menjadi kodrat, setiap orang membutuhkan orang lain. Begitu juga > dalam bisnis. Karena itu, untuk memenuhi banyaknya pesanan tas, Muhammad > Adi tak segan-segan membagi order ke konveksi lain. Adi mengatakan, > kadang-kadang jumlah pesanan tas memang tak bisa ia tangani sendiri. > Alhasil, daripada order lepas, ia membagi lagi (subkontrak) pesanan kepada > konveksi lain. "Hitung-hitung berbagi rezeki dengan orang lainlah," ujar > Adi, sumringah. > > Untuk pola kerjasama ini, Adi memilih menggunakan sistem bagi hasil yang > ia nilai lebih adil. Artinya, keuntungan yang ia peroleh dari penjualan > tas akan ia bagi ke pengusaha lain sesuai dengan porsi yang mereka > kerjakan. > > Soal pesanan, Adi tak terlalu khawatir. Pasalnya, ia sudah memiliki > pelanggan tetap, yaitu Kepolisian Republik Indonesia (Polri) dan > Departemen Perhubungan (Dephub). > > Misalnya, Polri biasanya memesan tas kantor dua kali dalam setahun. Satu > kali pesanan sebanyak 8.000 unit dengan tenggat waktu pengerjaan selama > empat bulan. "Pesanan rutin ini baru empat tahun belakangan ini," imbuh > Adi. > > Di luar pesanan Polri, Adi biasanya menerima pesanan tas belanja dari biro > perjalanan. "Jumlahnya memang tidak sebanyak pesanan Polri. Rata-rata 500 > unit," kata Adi. (Widyasari/Kontan)
