--- [email protected] <budiarto_shamb...@...> wrote: 
>
> Sy saat ini jg malas membaca analisis kemenangan Barca di semifinal 
> Champions krn kepemimpinan wasit merugikan Chelsea yg sekurang2nya 2 
> kali layak mendapat penalti. 

Kalau diperhatikan, karakter wasit-wasit Skandinavia (brgkl jg pemain & 
msyrktnya) menyukai permainan yang penuh perjuangan. Kemenangan adalah hasil 
keringat, bukan hadiah. Dalam sepakbola, gol dari bola mati tergolong hadiah. 
Lagipula, Chelsea sudah dikasih kesempatan melawan 10 pemain di kandang sendiri 
tapi tetap pilih merengek supaya wasit berpihak (ke mereka). 

> 
> Apkh UEFA bersekongkol agar ulangan final 
> MU-Chelsea tak terulang lg spt thn lalu krn amat membosankan shg 
> penonton malas membeli karcis yg mahal, walahulalam. 

Sepakbola Inggris, bahkan Inggris secara keseluruhan, memang membosankan kok. 
Sejak ribuan tahun silam, falsafah hidup mereka selalu cari posisi menang dan 
mempertahankannya dengan segala cara. Nggak heran Scottish & Irish sering 
ngedumel dan malas ngaku sebagai British. 

Jangan lupa, jajak pendapat di Australia pada bln Juni 1999 mengumpulkan 80% 
suara untuk pro 'Republik Australia', merdeka dari Inggris. September tahun 
yang sama, pecah kekacauan di utara mereka (Timtim) lalu diblow-up sebagai 
'ancaman dari utara'. Tentu saja muka pucat Australi harus mengurungkan niat 
merdeka dan merasa lebih aman berlindung di ketek ratu, sampai hari ini. 

> 
> Mngkn UEFA perlu belajar teori2 persekongkolan utk menjegal org lain 
> atau memecah belah phk2 lain ke negeri acakadut ini.

Sebaliknya. Tukang jagal antek pemecahbelah di negeri ini boleh belajar melihat 
penataan masyarakat yang tentram sejahtera di Skandinavia. Sekurangnya, belajar 
dari Martti Ahtisaari bagaimana cara mendapatkan Nobel. 

Yang pasti, jangan mengulang ketololan tempohari, repot-repot "menjual" Timtim 
tapi toh hadiah Nobel jatuh ke tangan Horta. 

ajeg= 





      

Kirim email ke