anggota dpr memang tidak kenal malu padahal seharusnya mereka malu karena
ketahuan intervensi nya pada kpk seperti halnya pemilihan keua kpk.  padahal
rekasi masyarakat yg demikian besar tidak sedikit menggugah kepala batu anggota
dpr utk sadar memperbaiki kelakuannya.
sekilas kalau kita lihat proses pemilihan ketua kpk berikut reaksi publik.

sohib


--- In [email protected], khudi...@... wrote:
> Dalam acara live TVOne tadi malam, banyak pernyataan dan jawaban-jawaban aneh 
> Trimedya Panjaitan (wakil Komisi III DPR dari PDIP) seputar hasil rapat 
> dengan KPK siang sampai malam harinya.
> Salah satunya Trimedya�mengatakan pengganti AA (mantan Jaksa) harus dari 
> Kejaksaan juga. "Ini�ada undang-undangnya, tapi saya lupa pasalnya," begitu 
> katanya.
> Wakil ICW yang hadir langsung membantah, "Tidak, undang-undang hanya 
> mengatakan unsur KPK itu dari Pemerintah dan masyarakat."
> Tina Talisa langsung bertanya kepada M. Jasin (Wakil Ketua KPK) via telepon. 
> Dan Jawaban Pak Jasin, tidak ada undang-undang seperti yang dikatakan 
> Trimedya.
> Nah Lho, ada apa ini,,
> DPR dan Kejaksaan mau ngeroyok KPK kale yaa..
> Jangan-jangan DPR dan Kejaksaan







------------------


Permainan Di Balik Kemenangan
PIMPINAN baru Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terbentuk pekan lalu. Antasari 
Azhar, jaksa yang dinilai memiliki rekam jejak kurang bersih, terpilih menjadi 
ketua lembaga ini. Golkar dan PDI Perjuangan berperan penting di balik 
pemilihan tersebut. Amien Sunaryadi, calon yang oleh para aktivis antikorupsi 
dianggap paling layak memimpin KPK, ”ditendang” masuk kotak. Tempo hadir 
dari awal hingga akhir demi menyaksikan drama para wakil rakyat di gedung DPR, 
Senayan, Jakarta Pusat, yang sukses menaikkan Antasari.

Sekumpulan perempuan bergegas memasuki ruangan tatkala sekitar 40 anggota 
Komisi Hukum DPR selesai bersidang. Bercelana jins, berkaus putih, mereka 
tergabung dalam Aliansi Perempuan Anti Korupsi. Di tangan mereka tergenggam 
kuntum-kuntum mawar putih. Dengan cepat mereka meletakkan mawar di meja-meja 
ruang sidang Komisi Hukum DPR. Satu demi satu. Beserta bunga, disertakan 
selembar kertas bertulisan mencolok: ”Gunakan Hati Nurani. Jangan Pilih 
Antasari”. Di kertas itu, yang dihiasi gambar wajah Antasari Azhar, Direktur 
Penuntutan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum, juga tertulis: ”10 Alasan 
Menolak Antasari”.

Di situ disebutkan, antara lain, Antasari terlibat deal menyelamatkan kasus 
Bantuan Likuiditas Bank Indonesia, sengaja memperlambat perkara Tommy Soeharto, 
memperlambat eksekusi kasus korupsi anggota DPRD Sumatera Barat, dan biasa 
melakukan praktek suap kepada wartawan. ”Terlambat,” ujar seorang anggota 
Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ketika para gadis menyorongkan 
kembang ke mejanya. ”Nama ini sudah ditentukan.”

Rabu malam pekan lalu, nama itu terpilih menjadi Ketua Komisi Pemberantasan 
Korupsi. Selain Antasari, ada empat orang yang terpilih menjadi pemimpin KPK 
periode 2007-2011, yaitu Inspektur Jenderal (Purnawirawan) Bibit Samad Rianto, 
Chandra M. Hamzah, Haryono, dan Mochamad Yasin. ”Ini pilihan demokratis, 
tidak ada yang di-setting. Anda lihat sendiri, kan?” kata Ketua Komisi Hukum 
DPR Trimedya Panjaitan, yang memimpin pemilihan lembaga penggempur koruptor itu.

Adapun Amien Sunaryadi, yang dinilai paling layak memimpin KPK, terpental. Dari 
49 anggota, hanya 16 yang memilih Amien. Dari 10 calon, Antasari mendapat suara 
di urutan kedua terbanyak (37 suara) dan Amien di urutan kedelapan. ”Saya 
kecewa, jago kami kalah,” kata Wakil Ketua Komisi Hukum Fraksi Partai 
Keadilan Sejahtera, Soeripto. Sebelum acara berakhir, Soeripto meninggalkan 
ruangan.

Yang juga kecewa adalah para aktivis antikorupsi. ”KPK menggali kuburnya 
sendiri,” kata pakar hukum Universitas Andalas, Padang, Saldi Isra. ”DPR 
buta dan tuli, tidak mendengar aspirasi publik,” kata Denny Indrayana, Ketua 
Pusat Kajian Anti Korupsi (Pukat) Universitas Gadjah Mada. Sebagai tanda 
”dukacita”, Pukat mengibarkan bendera setengah tiang di halaman kantornya, 
di kawasan kampus Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

DARI awal, masuknya Antasari dan Bibit Samad Rianto, hingga dinyatakan lolos 
seleksi tahap akhir oleh panitia seleksi pada September lalu, sudah mengundang 
kontroversi. Indonesia Corruption Watch jauh-jauh hari telah 
”memperingatkan” panitia seleksi. Menurut Ketua ICW Teten Masduki, masuknya 
jaksa dan polisi bisa menyebabkan agenda pembersihan korupsi di lembaga 
pemerintahan, termasuk kejaksaan dan kepolisian, mandul. ”Komisi memerlukan 
orang-orang yang independen, berani,” kata Teten.

Kejaksaan mengirim lima jaksa ke bursa calon pemimpin KPK. Empat lainnya Kepala 
Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan Masyhudi Ridwan, Jaksa Agung Muda Tata Usaha 
Negara Alex Sato Bya, Kepala Pusat Pendidikan Kejaksaan Agung Marwan Effendi, 
dan Togar R. Hutabarat, jaksa fungsional.

Dari lima itu, dua lolos hingga ke tangan Presiden: Antasari dan Marwan 
Effendi. Padahal ”borok-borok” Antasari dan Marwan sudah dibeberkan Koalisi 
Pemantau Peradilan (KPP) kepada panitia seleksi. KPP melakukan penelusuran dan 
wawancara terhadap sejumlah orang yang tahu riwayat karier Antasari dan Marwan. 
Kesimpulannya, kedua jaksa itu kurang bersih. Antasari, misalnya, saat menjadi 
Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tenggara, diduga melakukan kompromi dengan 
para pencoleng kayu jati. Marwan diduga melakukan plagiat dalam pembuatan 
disertasi doktornya. Adapun Bibit Rianto, mantan anggota staf ahli Kepala 
Kepolisian RI, ditolak KPP karena tidak memiliki prestasi dalam pemberantasan 
korupsi.

Cacat ini ternyata bukan menjadi penghalang mereka melaju. Di depan panitia 
seleksi, kedua jaksa ini membantah melakukan pelanggaran yang ditemukan KPP. 
Selain Antasari, Marwan, Yasin, dan Bibit, nama yang dikirim ke Presiden pada 
September lalu adalah Amien Sunaryadi (Wakil Ketua KPK), Waluyo (Deputi 
Pencegahan KPK), Haryono (Kepala Biro Perencanaan Badan Pengawasan Keuangan dan 
Pembangunan), Surachmin (Inspektur Pengawasan Badan Pemeriksa Keuangan), 
Chandra Hamzah, serta Iskandar Sonhadji. Kedua nama terakhir ini pengacara. 
Kepada Tempo, salah satu anggota panitia seleksi, Daniel Sparingga, menjamin 
kualitas sepuluh calon tersebut. ”Sepuluh orang itu bukan malaikat, tapi yang 
terbaik.”

Dalam proses seleksi, KPP, yang mencium bahaya lolosnya Antasari, Marwan, dan 
Bibit, mengirim surat ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Mereka meminta 
Presiden mencoret nama ketiga orang itu. Adnan Topan Husodo, anggota KPP, tak 
yakin KPK akan menjadi lembaga yang bisa diandalkan memberantas korupsi jika 
dipimpin ketiga orang itu. ”Hasil seleksi sekadar memenuhi kuota, ada unsur 
kejaksaan atau polisi,” kata Adnan. Surat KPP tak berarti. Sepuluh nama dari 
panitia seleksi tetap dikirim Presiden ke DPR.

Di DPR, isu perlunya kuota inilah yang kemudian ”dimasak”. Dua fraksi yang 
paling gencar ”menggorengnya” adalah Fraksi PDI Perjuangan dan Fraksi 
Golkar. Dari 49 kursi di Komisi Hukum, Golkar memiliki 12 kursi dan PDIP 10 
kursi. ”Tinggal menarik beberapa orang dari fraksi lain, koalisi PDIP-Golkar 
sudah unggul,” ujar seorang anggota Fraksi Partai Persatuan Pembangunan. 
Menurut dia, dengan cara ini pula mereka bisa membendung Amien Sunaryadi. 
”Jadi, alternatifnya tinggal Waluyo atau Yasin. Dua orang ini dianggap tak 
seberani Amien,” kata anggota Dewan yang dikenal dekat dengan wartawan itu.
l l l
LOBI-LOBI terjadi dengan cepat beberapa hari menjelang uji kelayakan dan 
kepatutan. Pertemuan digelar di sejumlah hotel, antara lain Ritz-Carlton dan 
Four Seasons, Jakarta. ”Itu tempat bos-bos. Kalau kami hanya menunggu 
perintah koordinator lapangan,” ujar seorang anggota Fraksi PDIP. Pengurus 
fraksi yang kerap berkumpul antara lain dari Fraksi PDIP, Fraksi Golkar, dan 
Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa. Dari pertemuan-pertemuan itulah PDIP dan 
Golkar sepakat menelurkan dua calon, Antasari dan Bibit, dan ”menekuk” 
Amien.
Kepada Tempo, seorang anggota Fraksi PDIP lainnya mengaku, sebelum hari 
pemilihan, semua anggota Komisi Hukum Fraksi PDIP dikumpulkan dan diperintahkan 
memilih tiga nama: Antasari, Bibit, dan Haryono. ”Tiga nama itu harus 
diamankan,” ujarnya. PDIP, menurut sumber ini, tak memilih Marwan karena 
jaksa itu dianggap berperan menghentikan kasus mantan presiden Soeharto. 
”Juga terlalu bermain politik.” Adapun dua nama lainnya, ”Diserahkan ke 
masing-masing anggota,” katanya. ”Asal tidak Amien.”
Tapi soal adanya pertemuan petinggi fraksi di dua hotel yang menelurkan 
kesepakatan itu dibantah Wakil Ketua Fraksi PDIP Panda Nababan. ”Enggak ada 
itu. Anda melihat saya di sana atau tidak?” kata pria yang oleh 
rekan-rekannya kerap dipanggil ”korlap” (koordinator lapangan) itu. Wakil 
Ketua Komisi Hukum Fraksi Golkar Aziz Syamsuddin, yang sebelumnya kepada Koran 
Tempo mengakui adanya pertemuan di Ritz, Kamis pekan lalu membantah ucapannya. 
”Saya tidak tahu, saya tidak ikut,” katanya kepada wartawan Tempo Dianing 
Sari.
Yang pasti, Golkar sepaham dengan PDIP dalam ”melenyapkan” Amien. Menurut 
seorang politikus senior Golkar, partainya menggariskan tiga nama yang wajib 
dipilih: Antasari, Bibit, dan Chandra. Chandra, menurut sumber itu, dipilih 
karena dianggap lebih bisa bekerja sama ketimbang Iskandar Sonhadji. 
”Iskandar terlalu dekat dengan LSM,” ujar sumber itu. Adapun Amien, kata 
sumber itu, ”tidak bisa dimaafkan” karena berperan, antara lain, 
menjebloskan kader-kader Golkar ke bui. Selain itu, Amien disebut yang paling 
ngotot meminta anggota DPR yang terlibat kasus dana Bank Indonesia diperiksa.
Anggota Komisi Hukum dari Fraksi Golkar, M. Akil Mochtar, mengakui di fraksinya 
pernah muncul suara-suara agar memilih Antasari dan Bibit. ”Saya tentang. 
Saya bilang, kalau Bibit masuk, Amien juga masuk,” kata Akil. ”Keahlian 
Amien di bidang komputer forensik sangat berguna memberantas korupsi yang makin 
canggih,” katanya. Fraksi yang sejak awal terbuka menjagokan Amien hanya 
Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Persatuan Pembangunan. Dua partai ini, 
jika digabung, cuma punya sembilan suara.
”Pembantaian” terhadap Amien terlihat saat ia menghadapi uji kelayakan dan 
kepatutan pada Senin pekan lalu. Anggota Dewan berebut membombardir Amien 
dengan berbagai pertanyaan. Serbuan pertanyaan dan saling interupsi 
antar-anggota bahkan sempat membuat Amien terpana. Mahfud Md. dari Fraksi 
Partai Kebangkitan Bangsa menanyakan isu yang menyebut Amien agen Amerika. 
”Saya tegaskan itu tidak benar,” kata bapak tiga anak yang berperan penting 
di balik penangkapan Mulyana W. Kusumah, sejumlah anggota staf Mahkamah Agung, 
dan pengacara Probosutedjo, Harini Wiyoso, serta terbongkarnya kasus korupsi 
Bulog itu.
Suasana sebaliknya terjadi kala tiba giliran Antasari dites. Tak ada hujan 
pertanyaan terhadap Antasari. Separuh lebih anggota Komisi Hukum riuh bertepuk 
tangan saat Antasari menjawab pertanyaan anggota Fraksi Partai Demokrat, Benny 
K. Herman, tentang sikapnya jika terpilih sebagai pemimpin KPK atas kasus dana 
Bank Indonesia yang mengalir ke DPR. ”Saya akan pasang badan kalau KPK 
dijadikan alat untuk menzalimi orang lain,” ujar Antasari.

http://forum.detik.com/showthread.php?t=7593&page=8






Kirim email ke