Bertanya pada Ikan Paus? Oleh D Elcid Li
Komunitas Lamalera tinggal di Wulandoni, pulau Lembata. Mereka telah mengenal berburu Paus secara tradisional sejak 1600 an. Hanya dua kampung yang memburu Paus, salah satu sumber penghidupan mereka di daratan yang tak subur. Tak seperti daratannya, laut Sabu sangatlah subur dan menjadi jalur migrasi 14 jenis Paus. Tapi, gubenur NTT bersama TNC, WWF menyatakan hal itu mengancam keberlanjutan Paus. Dan sejak April 2007, perburuan Paus dilarang. Inilah salah satu alasan mengapa kawasan tersebut ditetapkan menjadi Taman Nasional Laut Savu, yang diumumkan pada hari ketiga WOC-CTI (13/5). Beginikah cara konservasi melindungi satwa, tapi membatasi dan membunuh hak-hak masyarakat adat Lamalera? *** KETIKA pertama kali diteliti oleh perwakilan pemberi beasiswa (Ford Foundation) tiga tahun lalu penulis ditanya, "Apa hal yang paling berbeda antara di sini (Birmingham, Inggris) dan di Indonesia yang mengagetkan Anda?" Saya menjawab, "Kalau di sini anjing yang obesitas (kelebihan berat badan) ada program khusus untuk diet, menurunkan berat badan, sedangkan di kampung, bayi yang mati busung lapar tidak ada yang peduli." Peneliti yang juga antropolog dari AS itu diam. Mungkin ada yang ia pikirkan. Cerita di atas seolah terulang kembali ketika membaca berita tentang pecinta ikan paus dan program institusi lingkungan global semacam WWF (World Wild Fund), yang hendak membikin lokasi konservasi baru di Laut Sawu, dan bingungnya nelayan Lamalera yang merasa terancam penghidupannya. Tulisan ini semata-mata mencoba mendudukkan di mana artinya manusia di mata manusia lain, dengan pandangan bahwa sejarah manusia itu berbeda dan itu membuat pandangannya terhadap dunia pun beda. Alur tulisan ini ada dalam alur anthropocentric. Argumentasi lanjutannya dalam pandangan hidup di Indonesia dikenal dengan nama berdikari (berdiri diatas kaki sendiri), atau dalam ulasan yang lebih memadai oleh Ivan Illich (1973) disebut conviviality. Konsep ini coba dibuka untuk melihat kembali kaitan antara intervensi lembaga lingkungan ini dan implikasinya terhadap kemampuan berdikari masyarakat. Pornografi WWF? Kisah ini bermula dua tahun silam, ketika sejumlah wartawan takjub meliput ada 'dermawan' yang memberikan kamera kepada warga pesisir di Lamalera, di Pulau Lembata untuk merekam kehidupan mereka. Hasil pengambilan gambar itu kemudian dibawa ke mana-mana untuk dipamerkan oleh institusi pencinta satwa liar ini. Sebagian orang di kalangan ini menyebut sebagai usaha penelitian partisipatif. Menyertakan masyarakat dalam terlibat dalam project itu. Tetapi, apakah benar begitu, kita yang tamu malah mengajak orang setempat untuk terlibat? Kapan ada waktu untuk mengenal mereka, dan keluar dari manual project yang dibawa, sehingga kita pun bisa orisinil dan asli dalam bereaksi? Dan slogan partisipasi tak seperti slogan orang yang hendak menyuntik serum tanpa perlu tahu apa penyakit? Atau, kalau pun tak ada penyakit, tetap saja intervensi itu harus dijalankan dengan asumsi bahwa yang sederhana dan berbeda itu tetap keliru dan harus diperbaiki? Baca selengkapnya di http://www.jatam.org/content/view/760/1/ [Non-text portions of this message have been removed]
