Pak Suhaimi,

Soal platform:
AD-ART biasanya lebih banyak memuat aturan dan mekanisme keorganisasian. Dalam 
AD, memang ada tujuan, anggaplah ini visi, tapi biasanya hanya memuat tujuan 
umum. Nah tujuan umum inilah yang kemudian diturunkan secara lebih detail dalam 
apa yang disebut "platform". Dokumen yang katanya setebal 500 halaman itu 
adalah platform-nya PKS, yang menurut para petinggi PKS memang banyak diadopsi 
dalam MoU dengan PD dan SBY untuk pencalonan presiden. Nah platform inilah yang 
mestinya dikomunikasikan kepada rakyat. Hehehe... kalo membaca barangkali emang 
malas, tapi kan banyak media komunikasi lain yang bisa dimanfaatkan. Disinilah 
salah satu seninya berpolitik bagi para pengurus partai, bagaimana mereka 
mengkomunikasikan platform yang menjadi cita-citanya itu dalam bahasa yang bisa 
dipahami rakyat. Seorang Arief Budiman banyak diakui mampu menjelaskan 
teori-teori pembangunan dengan bahasa yang mudah dipahami dalam buku-bukunya. 
Sama halnya dengan Franz Magnis
 Soeseno teorinya Karl Marx yang terkenal rumit dengan bahasa yang mudah 
dimengerti. Kira-kira itulah mimpi saya terhadap partai. Jadi kampanye tidak 
cuma arena untuk mendulang suara, tetapi ada aspek pendidikan politik yang bisa 
membuat rakyat menjadi semakin tahu dan pintar memaknai politik.

Di sisi lain, dengan asumsi bahwa para pengurus partai itu sebenarnya bisa 
membuat platform yang tajam, saya memaklumi salah satu kesulitan terbesarnya 
adalah minimnya data. Data-data hasil survei BPS sebagian besar malah disimpan, 
untuk memperolehnya orang harus melalui prosedur yang tidak mudah dan harus 
membayar pula. Demikian pula data-data di tiap departemen atau dinas di daerah. 
Harapan sekarang ada pada UU Kebebasan Informasi. Semoga Komisi Informasi 
Publik yang anggotanya baru terpilih DPR bisa membongkar kecupetan birokrasi 
yang menyembunyikan informasi. 

Soal koalisi:
Saya tetap keukeuh ah, hehehe... Buat saya mungkin, jika memang partai-partai 
itu punya kesungguhan untuk merealisasikan platform-nya. Mengincar jabatan 
politis itu penting, tetapi tidak berhenti sampai di situ, karena tujuan 
mendapat kekuasaan itu adalah untuk merealisasikan platform-nya. Ada banyak 
contoh, yang terdekat bisa kita lihat di Malaysia yang saat ini sudah semakin 
matang terbagi dalam 2 koalisi besar: Pakatan rakyat dan Barisan Nasional. Di 
sana pemilunya juga tidak serentak, selain juga ada pemilu sela, sebagaimana 
kita sama membaca di media saat ini sedang ramai tuntutan pemilu sela di negara 
bagian Sabah.

Untuk Indonesia di 2014 prediksi saya jumlah partai masih akan banyak. Kan 
tinggal sedikit ganti nama saja pak, sudah bisa minta didaftar sebagai partai 
baru dan tidak terikat ET atau PT, seperti PKP jadi PKPI, bulan bintang jadi 
bintang bulan, dst. Apalagi jumlah golput semakin banyak, yang membuat mimpi 
mereka untuk bisa dapat banyak suara tetap terpelihara. Inilah barangkali 
keriuhan khas Indonesia. Hehehe..

Salam,



________________________________
Dari: Suhaimi <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Kamis, 14 Mei, 2009 08:10:24
Topik: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] tentang Koalisi





Kank Asep Kurniawan,

Tanggapan saya sbb :

1. Saya orang yang tidak terlalu mempersoalkan tampilan bahasanya, saya lebih 
mementingkan isinya alias substansinya.
2. Setahu saya, visi dan misi alias secara detail biasanya ada dalam AD/ART 
setiap organisasi, entah itu yang bersipat profit maupun non profit so palagi 
semacam parpol, cuman masalahnya kebiasaan bangsa kita tidak suka dengan yang 
detail alias lebih suka yang instant-instantnya aja..misalnya aja kalo saya 
tidak salah detail MOU antara PD dg PKS itu ada kurang lebih Lima Ratus halaman 
so, mana ada pula yang mo membacanya lah wong disuruh baca Al Qur'an yang cuman 
30 Juz dengan imbalan pahala yang berlipat ganda aja pada ogah, palagi baca 
detail MOU (koalisi) parpol ? he he he..
3. Setuju kang ! saya bermimpi suatu hari nanti, akan terjadi seleksi alam 
sebagai mana di amrik sana dan tanda-tanda jamannya pan dah terlihat dari hasil 
pileg lalu yang mana yang lolos hanya Sembilan parpol dan sisanya yang kurang 
lebih 29 parpol gagal.
Kalo kita perhatiin lebih jauh lagi ke 29 parpol tsb sebagian besarnya pan 
parpol-parpol yang gagal juga pada 2 pemilu sebelumnya, kalo mereka ga tau malu 
seh...mereka akan maju lagi ditahun 2014 yad dg berbagai alasan.
3. Kank Asep, secara naluriah sulit dihindari terjadinya koalisi silang antar 
parpol (di pusat dg di daerah) sebab secara naluriahnya pimpinan tingkat DPP 
yang mereka incer adalah jabatan-jabatan politis tingkat pusat misale 
presiden/wakli presiden/menteri dll, sementara itu pimpinan tingkat DPD ya 
otomatis yang mereka incer adalah jabatan-jabatan politis tingkat daerah misale 
gubernur/wakil gubernur dst.
4. Kembali lagi, karena diffent timing antara pemilu pusat dengan 
pilkada-pilkada, maka koalisi silang antar pusat dg daerah tidak mungkin dapat 
dihindari.
5. Oh...sok-sok aja atu kang, tofiknya mo diganti lebih bombastis lage dari itu 
juga ga napanapa koq.

Salam hangat,
Suhaimi

Kirim email ke