Sentilan bagus! "Pejabat manapun di negeri ini tidak pernah mengenakan baju
nasional Teluk Belanga" ...
Gampangnya, sebut saja ini bentuk kepribadian terbelah dari politik bernegara
kita; antara keinginan menjadi negara-bangsa dan trend sebagai negara-birokrat
(dengan busana ala seragam FBI atau mafia...:)
Anekdot dari M.Noor itu patut mendapat perhatian para cendekia & budayawan.
Karena setelan Teluk Belanga dengan aksesori serbet di lengan pasti
mengingatkan orang pada ciri layanan hotel & resto Malaysia. Kritik yang
tersirat, para pejabat di KBRI seolah duta kesiapan bangsa Indonesia menjadi
pelayan di negeri sendiri...
Ali Sadikin lain lagi. Dia berusaha kompromis. Pendapatnya, Teluk Belanga (juga
Jas Betawi) adalah pakaian kebesaran. Diambil dari tradisi pakaian resmi para
pembesar pribumi. Selain repot & gerah, pakaian kebesaran itu dinilainya kurang
mencerminkan apa yang ada di masyarakat luas. Maka pada konperensi PATA tahun
'74 Ali Sadikin memilih batik untuk dipopulerkan sebagai "busana rakyat"
Indonesia.
Terserah para cendekia, budayawan, perancang, dan kalangan industri wisata, mau
memodifikasi Teluk Belanga atau merubah dandanan petugas resto & hotel.
ajeg=
--- Adyanto Aditomo <adyantoadit...@...> wrote:
> Bung Ajegile,
>
> Soal Baju Nasional "Teluk Belanga" kelihatannya kok cuma digunakan oleh
> para Duta Besar kita saat bertugas diluar negri ketika menghadiri
> upacara kenegaraan di negara setempat, tetapi tidak pernah digunakan
> oleh pejabat manapun di negri ini, termasuk Presiden dan para mentrinya
> saat menghadiri upacara kenegaraan, misalnya Perayaan 17 Agustus, Sidang
> DPR dan sebagainya.
>
> Sebetulnya Baju Nasional kita itu apa sih?
>
> Salam,
> Adyanto Aditomo