Saya (Yanuar Rizky), anak muda Indonesia biasa saja, agak tersinggung
dengan ucapan Pak SBY terhadap pengkritiknya dengan bahasa Inggris
"They don't understand"... Jika ada yang bisa memfasilitasi, saya
ingin berdebat dengan Pak SBY, agar jelas apa "understand" beliau yang
mungkin tidak saya "understand"...

Sebagai ungkapan pertama, agar ini tak dianggap "Kampanye Hitam", di
bawah saya tampilkan lagi tulisan lama saya jauh sebelum masa kampanye
ini, yanng dimuat Kompas, 24 November 2006
(http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0611/24/teropong/3118994.htm)
dengan judul "Dibalik Membaiknya Parameter Makro"...

Pak SBY yth., saya bukan Capres juga tidak jadi tim sukses atau bahkan
simpatisan salah satu capres-pun, tapi ucapan Bapak sebagai seorang
"Bapak" saya sikapi secara ilmiah saja.. saya bisa salah, untuk itu
mari "berdebat terbuka" agar saya mendapat "arahan" yang bukan sekedar
memojokkan lewat istilah "They don't understand"...Bapak punya alur
soal perkataan Bapak "Development for All", demikian pula saya, agar
ada "understand2xan" secara ilmiah mari kita "berdebat"

Teropong
Kompas, Jumat, 24 November 2006

Di Balik Membaiknya Parameter Makro

Oleh: Yanuar Rizky

Arah positif perbaikan makro terlihat dari optimisme pemerintah,
pelaku pasar, dan lembaga keuangan internasional. Bertolak belakang
dengan persepsi pekerja dan pencari kerja yang dihinggapi traumatis
perbaikan makro tahun 2002-2004 yang diikuti meningkatnya angka
pengangguran dan kemiskinan.

Terlebih, penguatan (kembali) parameter makro di semester II-2006
dipicu pengulangan pola teknikal pasar keuangan seperti pada semester
II-2002.

Data makro terkini memang mendukung optimisme pemerintah tentang
adanya pembalikan arah yang lebih baik, yang ditandai peningkatan
konsumsi listrik, semen, dan pembelian sepeda motor (Kompas, 31
Oktober 2006).

Pertumbuhan konsumsi listrik bersumber dari sektor bisnis dan
industri. Tren keberlanjutan (perlahan) hanya terjadi di sektor
bisnis, mungkin imbas tumbuhnya pusat perbelanjaan. Sektor rumah
tangga cenderung tetap. Kalau pembalikan arah diartikan pemerataan,
belum cukup sinyal pulihnya daya beli rakyat pascakenaikan harga BBM.

Penjualan sepeda motor, mewakili masyarakat menengah, diperkuat mulai
meningkatnya kembali penjualan mobil. Penjualan motor dan mobil belum
menyentuh tren sebelum kenaikan harga BBM. Bahkan, terlihat trade off
konsumsi dari mobil ke motor, yang menunjukkan indikasi penurunan
"kelas konsumsi" masyarakat menengah. Dari sisi konsumsi, terdapat
sinyal terjadinya kembali perbaikan makro diikuti melebarnya
kesenjangan, yang diakibatkan penurunan daya beli kelompok
menengah-bawah (lebih miskin).

Fenomena tersebut menunjukkan indikasi peningkatan Indeks Kepercayaan
Konsumen bersumber dari peningkatan persepsi (saat ini) untuk membeli
barang jangka pendek (motor dan mobil) dengan kredit perbankan.
Turunnya suku bunga BI diikuti turunnya bunga kredit konsumsi lebih
dahulu dari kredit investasi. Kredit otomotif sendiri trennya
terproyeksi akan pulih pada awal tahun 2007 (persepsi akan datang).

Optimisme jangka panjang, seperti pembelian rumah, belum menunjukkan
sinyal pemulihan sebagaimana tampak dari relatif belum bergeraknya
kredit pemilikan rumah. Berarti, kenaikan konsumsi semen, indikasinya
bersumber dari realisasi belanja pemerintah dan masyarakat untuk
membangun kembali infrastruktur fisik (yang hancur) pascabencana.

Neraca konsumtif

Benar neraca perdagangan surplus, dengan tren meningkat sejak awal
semester II-2006. Namun, kalau dilihat sumbernya, ekspor sangat
ditentukan faktor harga, bukan volume produksi. Buktinya, naiknya
ekspor nonmigas (jadi 28,6 persen) ditopang naiknya harga komoditas
primer di pasar internasional (batu bara, karet, tembaga, dan
bijih-kerak-abu logam), serta turun drastisnya ekspor migas (menjadi
2,6 persen) akibat turunnya harga minyak dunia.

Di sisi impor, turunnya harga minyak juga berdampak menurunnya impor
migas. Namun, kualitas impor belum menunjukkan bergeraknya kembali
sektor produksi, dengan masih dominannya impor barang konsumsi.
Sedangkan impor bahan baku masih mencatat pertumbuhan negatif (dalam
setahun) serta masih sangat rendahnya impor barang modal di sisi lain.

Sinyal ekspor-impor menunjukkan konsumsi masih ditopang barang impor.
Karena itu, faktor pemicu inflasi sangat ditentukan kemampuan BI
mengelola fluktuasi kurs (rezim devisa bebas) di pasar uang itu
sendiri.

Tidak terjadi fluktuasi kurs terlalu dalam sejak Juni 2006 membuat
kondisi psikologis teknikal pasar uang cukup terkendali. Itulah sumber
kondusifnya parameter makro, didorong fine tuning suku bunga BI.

Ruang bagi BI untuk terus menurunkan suku bunga BI juga dikarenakan
"berkah" kondusifnya strategi moneter negara lain. Apresiasi dollar AS
terus terjadi pada mata uang euro dan yuan China akibat meningkat
tajamnya ekspor China dan posisi perang suku bunga antara Uni Eropa
dan AS. Turunnya harga minyak dunia tampaknya telah membantu The Fed
untuk mengendalikan parameter makroekonomi AS.

Pencitraan investasi

Di satu sisi, pelunasan utang kepada IMF merupakan upaya short term
payment long term gain, yaitu sumbernya dari aliran uang panas yang
besar (Maret 2006) ketika selisih suku bunga Fed-suku bunga BI
memadai, dan penggunaannya untuk mengurangi beban utang negara.

Di sisi lain, stabilitas moneter jangka menengah-panjang serta
keberlanjutan fiskal (kemandirian ekonomi) dalam arti seluas- luasnya
masih terganggu tingginya rasio utang luar negeri (lainnya) dalam APBN
serta lemahnya daya beli dan kerja masyarakat yang pada akhirnya
menjadi sumber rendahnya rasio pajak di APBN.

Tak dapat dimungkiri meningkatnya daya saing Indonesia dari 69 ke 50
berdasarkan survei Forum Ekonomi Dunia (WEF) mungkin saja diakibatkan
besarnya responden yang juga "pemain" pasar keuangan. Betapa tidak,
negara yang naik persepsinya (Indonesia, Jepang, Hongkong, India, Sri
Lanka, dan Pakistan) dalam setahun terakhir pasar uang dan sahamnya
memiliki tren kenaikan harga (indeks). Di sisi lain, negara yang
melemah pasar uang dan sahamnya, indeks persepsinya juga melemah.
Indeks BEJ dan kurs rupiah mencatat penguatan tertinggi sehingga wajar
indeks persepsinya naik pesat dibandingkan dengan negara lain.

Itu sebabnya, meski survei WEF melesat cepat, ternyata tak mampu
meningkatkan persepsi investor untuk memasukkan modal tetap bersih
(yang masih mencatat angka negatif). Bahkan, negara yang "dirayu" (AS,
China, dan Jepang), sampai September 2006 belum terlihat dalam lima
besar asal negara PMA.

Memang benar dalam tiga bulan terakhir terdapat tren kenaikan PMA,
tetapi nilainya masih terlalu kecil. Agresivitas masuknya investasi
asing ditunjukan negara jiran (Malaysia dan Singapura). Berarti,
investasi bukanlah didorong citra makro dan survei, melainkan "ada
gula ada semut". Bagi negara tetangga, potensi demografi Indonesia
jelas, strategis ketahanan pasar.

Yang penting dirumuskan cepat pemerintah dalam merespons kondusifnya
suku bunga BI adalah mengikat investasi asing tak terjebak paradigma
investasi "mudah masuk, mudah keluar".

Sebelum segala sesuatunya terlambat (kembali) sebagaimana tampak dalam
transaksi spekulatif pasar uang dan saham mengiringi setiap penurunan
suku bunga BI (pengulangan pola semester I-2002 di semester II-2006),
yang terindikasi dilakukan melalui Singapura.

Yanuar Rizky Analis Independen


2009/5/22 Dharmawan Ronodipuro <[email protected]>:
>
>
> Saya, sejak dahulu ulah SBY dengan memakai bahasa keinggris-inggrisan ada
> peranan penting dari Andi Mallarangeng dan Dino Patti Djalal. Kedua orang
> ini yang paling bertanggung jawab terhadap penampilan dan tingkah laku SBY
> di depan umum. Sudah beberapa tahun ini di UI khususnya di FIB dengan
> dimotori Prof. Harimurti Kridalaksana, setiap tanggal 2 Mei diperingati hari
> lahirnya bahasa Indonesia, dengan mengadakan seminar dan kegiatan yang
> berkaitan dengan kebahasaan. Tidak banyak orang mengetahui, pada tanggal 2
> Mei 1928 pada saat mempersiapkan Hari Sumpah Pemuda, panitia mendeklarasikan
> bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, yang kemudian menjadi salah satu
> butir sumpah pemuda.
> Jika saja SBY diingatkan perkara ini, saya yakin dia tidak akan mengulangi
> kesalahannya bicara di depan umum.
>
> salam,
>
> mrachmatrawyani

Kirim email ke