Mantan Presiden Korsel Roh Moo-hyun, ini sebelum Barack Obama yang
terkenal dengan Fesbukers, dialah duluan yang dikenal seorang Neters,
bedanya kalau BHO Fesbukers, RMH adalah milisers..

Saya pernah nulis di liputan khusus Telekomunikasi Kompas 23 Mei 2007,
tentang reformasi Budaya Birokrasi di Korsel yang salah satunya
mengantarkan RMH menjadi Presiden yang dijuluki media barat ketika itu
(2003) sebagai Presiden Internet... Dalam tulisan ini, saya
membandingkan soal reformasi waktu perijinan di Indonesia dan Korsel..
silahkan kalau tertarik baca lagi :)

elekomunikasi   
Rabu, 23 Mei 2007
http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0705/23/telkom/3544441.htm

Optimasi "E-mail"
Menuju Otomasi Birokrasi Menghilangkan Gaya

Berdasarkan survei Bank Dunia tahun 2004, dibutuhkan waktu 151 hari
melalui 12 prosedur "meja birokrasi" untuk mengurus izin investasi
(riil) di Indonesia. Sementara Korea Selatan dengan prosedur yang sama
panjangnya, waktu tunggunya jauh lebih cepat (22 hari). Berarti,
kalaupun prosedur (kekuasaan) tidak dapat dikurangi, terobosan
mempercepat komunikasi antarmeja birokrat dapat dilakukan.

Pada tahun 1997, Korsel sama halnya dengan Indonesia terhantam krisis
finansial (moneter). Bedanya, Korsel telah bangkit hingga menjadi
kekuatan industri baru. Saat krisis, gelombang PHK besar melanda
Korsel, yaitu di perusahaan elektronika yang tengah tumbuh. Meski
sama-sama "pasien IMF", Korsel mampu menstimulus korban PHK menjadi
agen pengubah, yaitu mendorong terciptanya pengusaha mikro homebrew
internet (pabrikasi antena murah wireless dan perangkat VoIP).

Di negeri ini, beberapa pihak sering berkata-kata mutiara, "korban PHK
harus mengubah paradigmanya untuk menjadi wiraswastawan". Misalnya,
seorang ahli manajemen dari universitas ternama, yang juga konsultan
restrukturisasi PT Dirgantara Indonesia (DI), mendorong terjadinya PHK
dengan wacana untuk menjadi negara kompetitif.

Faktanya, artikel Fokus (Kompas, 28/04/2007) mengangkat realita ahli
nuklir (korban PHK PT DI) saat ini hanya mampu menjadi pedagang es
krim keliling.

Pelajaran dari Korsel, pemimpin negara ini telah mengetahui arah
perubahan bangsanya. Gagasan pabrikasi (industri mikro) perangkat
keras internet, dibarengi peningkatan supply factor penggunaan
teknologi informasi (TI) berbasis internet itu sendiri, yaitu menjadi
protokol kegiatan birokrasi dan perekonomian.

Tahun 2000, saya pernah menanyakan kepada seorang eksekutif Bursa
Saham Korsel (KSE) tentang rumus negaranya melakukan proses divestasi
tanpa polemik. Jawabannya sederhana saja, dijual ke masyarakatnya
sendiri (redistribusi aset). Kunci pola tersebut adalah tingginya
indeks financial literate (masyarakat yang paham dan memiliki akses ke
pasar keuangan).

Indeks financial literate Korsel melebihi angka 70 persen penduduk
dewasanya. Ini tercapai dengan terkoneksinya internet sebagai
penghubung (hub) antara masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah.
Kampanye budaya investasi lokal secara masif dilakukan dengan internet
life style, yaitu menghidupkan fungsi e-mail sebagai protokol
komunikasi.

Tak heran, terpilihnya Presiden Roh Moo-hyun diakibatkan rajinnya dia
memanfaatkan e-mail untuk berkomunikasi tentang beragam isu, dengan
sebanyak mungkin orang Korsel. Media Barat memberinya julukan
"Presiden Internet". Sementara di negeri ini, pemimpinnya malah sibuk
"menertibkan" semua free e-mail dan blog yang "menyatut" ikonnya,
tanpa langkah nyata untuk tune in di e-mail aslinya bersama rakyat.

Optimasi birokrasi

Pekan lalu, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menerbitkan
rilis tentang rencana kerja pemerintah (RKP) tahun 2008. Ada tiga area
kunci pelaksanaannya. Pertama, konsistensi alokasi anggaran untuk
pelaksanaan kegiatan (kepentingan) nasional. Kedua, kebijakan
pemerintah terkonsentrasi untuk mengurangi kemiskinan dan
pengangguran. Dan ketiga, melakukan reformasi institusional
(birokrasi) yang mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi.

Rilis tersebut menekankan pelaksanaan koordinasi pemerintah pusat dan
daerah. Hal itu menjadi sentral sejak era otonomi daerah, di mana 54
persen APBN didistribusikan ke pemerintah daerah.

Naasnya, data menunjukkan alokasi anggaran terbesar (tren menaik)
untuk belanja rutin pemerintah (membiayai birokrasi), bukan untuk
belanja modal dan sosial yang menstimulus daya kerja dan beli rakyat.
Berarti, pemerintah belum merealisasikan janjinya untuk melakukan
optimasi birokrasi demi peningkatan kesejahteraan rakyat.

"Push e-mail"

Seperti biasa, budaya birokrasi itu "saling menyalahkan". Pemerintah
pusat, juga Ketua DPR, menyalahkan pemerintah daerah sebagai sumber
masalah. Keluhan sistem politik, yang gubernur dan bupati dipilih
langsung konstituennya, jadi alasan lemahnya koordinasi. Kalau
muter-muter terus dipolitisasi "kambing hitam", kapan majunya?

Tidak ada yang salah dari tiga area kunci pemerintah di RKP 2008.
Masalahnya, bagaimana pemerintah pusat-daerah mengoptimalkan peran
koordinasinya secara efisien, efektif, dan ekonomis? Koordinasi sulit
dilakukan, padahal media banyak memberitakan gubernur dan bupati
banyak menghabiskan waktunya di Jakarta.

Berarti, media koordinasi (komunikasi) itu sendiri belum ada. Wajar
saja, waktu tunggu persetujuan investasi menjadi lama karena menumpuk
di meja pejabat yang jarang duduk di meja kerjanya.

Kita mungkin pernah menerima, dan ikut larut dalam lingkaran hot issue
SMS dari para politisi. Jumlahnya tak jarang sampai ribuan karakter.
Itulah komunikasi dan SMS telah menjadi media karena kekuatannya
mendekati gaya hidup penggunanya.

Kalau saja, pemerintah pusat mereformasi birokrasi dari sisi gaya
hidup "SMS politisi", kunci terkirimnya ribuan karakter adalah
handphone canggih (smartphone dan PDA) di genggaman para birokrat.
Handphone tersebut juga memiliki fasilitas akses internet.

Apalagi, operator seluler (GSM maupun CDMA) telah menerapkan teknologi
3G dan 3,5G untuk akses broadband internet. Belum lagi, fasilitas
wi-fi di handphone yang dapat terkoneksi ke jaringan internet publik
dan VoIP rakyat (karya anak bangsa).

Berarti, konstruksi otomasi birokrasi dengan metode persetujuan
(otorisasi) melalui e-mail sudah dapat dilakukan. Konstruksinya, nota
dinas maupun html e-mail (di body e-mail terdapat fitur "klik"
otorisasi ke server pemerintah pusat-daerah) akan terkirim ke
handphone para birokrat, yang telah di-setting aplikasi push e-mail.
Sama halnya dengan SMS, terdengarlah ring notification tentang adanya
e-mail masuk.

Meski jalur birokrasi tak bisa dipangkas, konstruksi push e-mail yang
dikelola "semudah menerima dan mengirim SMS" akan mempercepat arus
kerja. Dari sisi ini, meski sederhana, pemerintah dapat memulai
optimasi birokrasi bukan di ruang seminar dan rilis semata.
Masalahnya, adakah terobosan out of the box?

Yanuar Rizky Analis Independen, Forum Aspirasi Indonesia Situs Web:
www.elrizky.net

2009/5/24 Agus Hamonangan <[email protected]>:
>
>
> http://internasional.kompas.com/read/xml/2009/05/23/11280479/sebelum.terjun.roh.tulis.surat.bunuh.diri
>
> SEOUL, KOMPAS.com — Sebelum mengakhiri hidup dengan cara terjun dari tebing,
> mantan Presiden Korsel Roh Moo-hyun (62) menulis surat bunuh diri untuk
> keluarga.
>
> Pengacara Roh, Moon Jae-in, dalam konferensi pers, Sabtu (23/5), mengatakan,
> kliennya bunuh diri karena merasa bersalah atas kasus korupsi yang
> dituduhkan kepadanya.
>
> Televisi MBC melaporkan, Roh dalam suratnya menulis, "Segalanya menjadi
> sulit, saya meminta maaf karena membuat banyak orang menderita." Dalam surat
> itu Roh juga berpesan agar jenazahnya dikremasi.
>
> Roh dipastikan tewas bunuh diri setelah melompat dari sebuah tebing di
> belakang rumahnya di daerah terpencil. Skandal korupsi yang membelitnya
> membuat Roh nekat mengakhiri hidup dengan cara tragis.
>
> Roh sempat dilarikan ke Rumah Sakit Busan National University di pinggiran
> kota Busan sekitar pukul 08.15, tetapi nyawanya tak tertolong. Ia dinyatakan
> tewas pada pukul 09.30 dengan luka parah di kepala.
>
> ONO
> Sumber : AP
>
> 


------------------------------------

=====================================================
Pojok Milis Komunitas Forum Pembaca KOMPAS [FPK] :

1.Milis Komunitas FPK dibuat dan diurus oleh pembaca setia KOMPAS

2.Topik bahasan disarankan bersumber dari http://epaper.kompas.com/ , 
http://kompas.com/ dan http://kompasiana.com/

3.Moderator berhak memuat,menolak dan mengedit E-mail sebelum diteruskan ke 
anggota

4.Moderator E-mail: [email protected] [email protected]

5.Untuk bergabung: [email protected]

KOMPAS LINTAS GENERASI
=====================================================
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke