Betul, masih sama calonnya "daur ulang"... bahkan saya sih liat para "neo lib Industri Politik" ini telah menyiapkan agenda maju kali ini sebagai mesin politik 2014..
Keprihatinan Almarhum Pak Muby masih sangat relevan, yaitu intro beliau "Pada umumnya para Capres/Cawapres belum memahami benar apa itu ekonomi rakyat, dan karena belum jelas pemahaman mereka mengenai ekonomi rakyat, maka sulit diharapkan dapat dirumuskannya program-program kongkrit" Itu kenapa, baik yang "neo lib" ataupun "ekonomi kerakyatan" sebenarnya sama-sama membiaskan persoalan dari hal-hal konkrit dan yang terukur. Dan itu, kenapa kita dibuat binggung, karena seperti Alamarhum Pak Muby katakan yang ditonjolkan "Ekonomi Kerakyatan" bukan "Ekonomi Rakyat".. Jadi, yang neo lib pun akan mengatakan semua ini untuk kepentingan nasional (kerakyatan), demikian pula yang jelas-jelas mengatakan berhaluan "Ekonomi Kerakyatan".. padahal titik kontras keduanya (yang tidak) megaburkan kalau kedua "aliran" ini menjelaskan bagaimana "Ekonomi Rakyat" bekerja penuh... Saya rasa dalam konteks kekinian, Pak Muby tidak membahas bagaimana arus dana (dalam istilah ekonomi: Money Suply) berputar dan dari putaran tersebut kenapa "Ekonomi Rakyat" dari sisi bekjerja (produksi) dan belanja (konsumsi) dari arus barang itu bisa dipertemukan sesuai dengan zamannya... Almarhum Pak Muby, masih melihat persoalan "Politik Ekonomi" masih dari pendekatan ekonomi klasik, yaitu program pemerintah yang difokuskan kepada "kantong ekonomi rakyat".. padahal, di zaman seperti ini, persoalan dari mana mengisi kantong (peta moneter) menjadi "krusial" untuk diperhatikan, agar transmisi ke "kantong" arus barang ekonomi rakyat bisa diukur tingkat konkritnya... Betul, jika melihat dalam konteks "sejarah perekonomian Indonesia" yang terkait dengan "Ekonomi Rakyat" dan "Peta Moneter Dunia", adalah Pidato Bung Karno (1930) "Indonesia Menggugat" seperti yang juga ditegaskan dalam jiwa tulisan almarhum Pak Muby.... Maka, bagi saya, dalam konteks sejarah dan pemikiran "Ekonomi Klasik", Daulat Rakyat Bung Hatta dan Indonesia Menggugat Bung Karno masihlah relevan untuk dijadikan "entry poin" tentang apa yang disebut membuat "Ekonomi Rakyat" bekerja penuh... TAPI, bagaimana itu saat ini bisa berjalan dan tak hanya "ruang slogan kosong pro kepentingan nasional" maka Capres-Cawapres masih sangat hampa dalam melihat "Peta Arus Dana"... Dalam konteks filosofi kita tetap relevan melihat saat Bung Karno mengatakan Ekonomi Rakyat melalui pidato "Indonesia Menggugat", maka saya mencoba mengulang spirit Bung Karno melalui peta kekinian dengan menulis artikel "Indonesia Meng(g)u(g)at"... ada dua g dari kekinian yang harus dijawab, yaitu gagap atas persoalan artikulasi "kedaulatan ekonomi rakyat" dan g kedua (gugup) dalam berperang di era globalisasi demokrasi ekonomi dunia... Jadi Pak Maneke, inilah konteks kekinian bagi saya, yaitu artikel saya di Gatra 5-11 Maret 2009 dengan judul "Indonesia Meng(g)u(g)at" yang bisa dibaca di http://www.elrizky.net/artikel.php?opt=1&id=276 yang kemudian saya artikulasikan kepada mengembalikan daulat Ekonomi Rakyat melalui artikel di Kompas 27 Maret 2009 dengan judul "Saatnya Menanamkan Kembali Akar Ekonmi" yang bisa dibaca di http://www.elrizky.net/artikel.php?opt=1&id=277 So, sebagai penonton, baca tulisan Alm Pak Muby, saya pun akan menggunakan istilah beliau maaf saja dari seluruh Capres-Cawapres tak ada satupun yang konkrit bicara Ekonomi Rakyat... Untuk itu, saya siap berdebat dengan semuanya! Salam penonton, -Yanuar Rizky- mail to: [email protected] on the net: http://www.elrizky.net elrizkyNet::dari RT-RW ke Internet menuju Pasar Modal:: 2009/5/29 manneke budiman <[email protected]>: > > > Lha, bukannya sebagian besar capres dan cawapresnya masih sama aja dengan > Pemilu 2004, Mas? Dan kayanya dalam 5 tahun ini juga tak ada revolusi > pemikiran tentang ekonomi rakyat kok di antara mereka yang nyalon itu. > > Ya masih relevanlah kritik alm. Prof. Mubyarto ini, Kalo Anda bilang perlu > modifikasi dan info tambahan "terkini", apa sih persisnya yang mesti > ditambahkan itu? > > manneke
