Kelihatannya ada "kecelakaan" dalam pengelolaan RS. OMNI Internasional Serpong ini. Caranya menangani komplain pasien sangat tidak profesional. Kalau membaca visi dan misi RS. Omni Internasional, seharusnya peristiwa gugatan terhadap pasien Ibu Prita tidak perlu terjadi, karena Ibu Prita bukannya komplain atas kualitas pelayanan RS. OMNI, tetapi justru mengucapkan terimakasih atas pelayanan yang telah diberikan. 1. Ada 2 hal pokok yang dikeluhkan oleh Ibu Prita, yaitu: A. Terjadinya eror atas hasil Lab sehingga Dokter salah dalam melakukan diagnosa. Soal terjadinya kesalahan atau ketidak akuratan hasil Laboratorium, itu bisa saja terjadi pada laboratorium atau rumah sakit dimanapun di dunia ini, karena penyebab terjadinya eror atas hasil laboratorium bisa oleh 1001 macam penyebab. Solusi yang terbaik: mengakui kesalahannya dan meminta maaf atas ketidak nyamanan pasien. Sebagai kompensasinya, biasanya pasien dibebaskan dari biaya pemeriksaan dan rawat inap pada hari tersebut. Untuk rawat inap pada hari selanjutnya, bisa dibicarakan ulang tentang untung ruginya berobat jalan atau rawat inap. B. Komunikasi yang buruk antara Dokter dan Pasien. Kelihatannya dokternya tidak ditraining tentang sopan santun dalam menghadapi pasien serta tidak paham atas hak dan kewajiban Dokter dan Pasien. Biasanya kualitas dokter semacam ini adanya di daerah yang pasiennya dari kalangan bawah dengan pendidikan yang rendah. Saya beberapa kali bertemu dengan dokter dengan kualitas semacam ini di daerah, dimana kalau ditanya cenderung marah dan bilang: "Sudah, gak perlu banyak tanya. Soal sakitnya apa dan obatnya apa itu urusan saya sebagai dokter dan anda sebagai pasien gak usah banyak tanya dan harus nurut kalau mau sembuh. Saya tidak punya waktu untuk jelaskan itu semua, karena masalahnya rumit". Pihak manajemen RS. OMNI bukannya menindak para dokter yang tidak profesional tersebut, malah membela habis - habisan seluruh kesalahan dokter tersebut dengan resiko RS. OMNI bangkrut bila tindakannya tidak mendapat simpati dari masyarakat. 2. Peran Humas yang tidak profesional. Humas RS OMNI yang seharusnya menjadi penengah sengketa antara Pasien dan Dokter, ternyata tidak berfungsi secara profesional. Kelihatannya pihak manajemen RS. OMNI gagal merekrut tenaga Humas yang handal dan profesional, sehingga masalah yang sebetulnya sangat sederhana penyelesaiannya menjadi sangat rumit dan tidak manusiawi. Kesan kuat yang muncul di masyarakat adalah : RS. OMNI sebagai pihak yang kuat dalam modal dan pengaruhnya terhadap Aparat Hukum berupaya menindas masyarakat lemah yang merasa tidak puas atas pelayanan yang diberikan oleh RS. OMNI. 3. RS. OMNI beresiko bangkrut. Karena masyarakat luas dan juga para pemimpin politik (DPR, Mentri, Presiden) dan pimpinan birokrasi (Dirjen Pelayanan Kesehatan, Jaksa Agung, Kapolri, dsb) di negri ini menilai apa yang dilakukan oleh RS. OMNI terlalu berlebihan dan tekesan untuk unjuk kekuatan terhadap pasien yang tidak puas atas pelayanannya, maka Rumah Sakit Omni saat ini beresiko bangkrut, baik akibat diboikot oleh masyarakat luas atau ijin operasinya dicabut oleh pihak yang berwenang. Bagi pemilik modal, itu adalah resiko dari kebijakan yang dia buat dalam menentukan spesifikasi tenaga profesional di Rumah sakit tersebut. Tetapi bagi karyawan yang tidak terlibat dalam kasus tersebut, ini merupakan "kiamat" karena bisa membuat mereka tiba - tiba menjadi pengangguran. Segala jerih payah mereka hancur sia - sia. Tidak ada Rumah Sakit lain yang mau menerima mereka. Kasus ini rasanya bisa menjadi pelajaran bagi para pengelola usaha di negri ini, baik modalnya dari Dalam Negri atau Asing, untuk dapat melayani publik yang nota bene adalah Pelanggannya, secara profesional, sehingga Pelanggan maupun Pemilik Modal dan juga Karyawan bisa tersenyum puas. Jika banyak kasus seperti RS. OMNI di negri kita ini, niscaya perkembangan bisnis di Indonesia bisa menjadi sangat buruk, karena masing - masing pihak terlalu curiga dan tidak memiliki kepercayaan antara satu dengan yang lainnya. Salam, Adyanto Aditomo
--- Pada Rab, 3/6/09, Rumah Ilmu Indonesia <[email protected]> menulis: Dari: Rumah Ilmu Indonesia <[email protected]> Topik: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Visi dan Misi RS. Omni Internasional ??? Kepada: [email protected] Tanggal: Rabu, 3 Juni, 2009, 3:15 AM Dear All, Geram, kesal dan marah. Itulah perasaan penulis seusai membaca KOMPAS pagi ini. Iseng-iseng penulis googling tentang RS. Omni Intl yang telah SUKSES memenjarakan Ibu Prita, dengan bungkus UU ITE. Dan bertemulah penulis dengan visi dan misi Omni yang sungguh MULIA di website resmi mereka. Lihat saja butir no 3 ... Cuma mungkin pasien tidak termasuk ke dalam stakeholder kali ya ... ;-p Lihat pula butir no 4 ... Mungkin suasana komunikatif antara dokter dan pasien memang membutuhkan perantara pengacara .... hueeebaaat beneeeerrr .... ;-p Jika alasannya adalah pencemaran nama baik. Apa yang dilakukan oleh RS. OMNI Intl dengan menggiring Ibu Prita ke Penjara, justru membuat nama baik RS. OMNI Intl semakin terpuruk dengan opini publik yang kini berkembang di internet dan media massa lainnya. Dan ini tentu dengan mudah dimanfaatkan oleh pesaing OMNI Intl untuk menjatuhkan mereka lebih dalam lagi. Bukankah orang dengan gampangnya menyebarkan opini seperti ini,"Hati-hati berobat di RS. OMNI Intl, ntar kalau ada malpraktek, malah pasiennya yang bisa masuk penjara" .... Atau mungkin ini upaya sistematis untuk membungkam suara masyarakat di negeri ini ? Ayo siapa lagi yang mau dipenjara ? ... :-D Salam, Reza Ervani http://www.rezaerva ni.com Lampiran : MOTTO, VISI dan MISI RS. OMNI Intl Sumber : http://www.omniheal thcare.co. id/ Motto : "World Class Healthcare" Visi : Menjadi rumah sakit terkemuka di regional mencakup penyediaan pelayanan kesehatan yang komperhensif dengan standar manajemen international. Misi : 1. Melayani pasien dan keluarga secara profesional, manusiawi, tepat waktu dan tepat guna, dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan mencakup kebutuhan-kebutuhan jasmani, mental, spiritual dan sosial. 2. Mengenali dan mengejar kesempatan pasar strategis untuk pertumbuhan dan rkembangan dibidang medik dan penunjang medik. 3. Membangun dan membina hubungan baik dengan stakeholders. 4. Menjamin suatu lingkungan kerja yang baik di bidang penunjang medik yang mendatangkan suasana komunikatif pada dokter dan pasien serta ditunjang dengan pendidikan dan pelatihan yang berkesinambungan. [Non-text portions of this message have been removed] Cepat, Bebas Iklan, Kapasitas Tanpa Batas - Dengan Yahoo! Mail Anda bisa mendapatkan semuanya. http://id.mail.yahoo.com [Non-text portions of this message have been removed]
