Pernyataan Pak Dirjen Deplu kita ini banyak benarnya karena sebagian besar dari 
para penerima beasiswa ke negara-negara maju umumnya mengambil studi "social 
sciences" atau maksimal "applied sciences" tetapi hanya  sedikit jumlahnya yang 
menerima/mengambil beasiswa "basic sciences".  Sebenarnya "social sciences" dan 
"applied sciences" dapat kita penuhi dengan belajar di dalam negeri sendiri 
dari kehidupan rakyat dan keadaan alam lingkungan kita yang sangat kaya raya 
dan kalau toh kita perlu memperluas cakrawala ilmunya dapat diundang sementara 
waktu guru2/dosen2/profesor2 asing yang kompeten atau maksimal dapat pula 
dilakukan melalui studi banding (yang serius, dan ma'af bukan studi banding 
"harga barang" yang sering dilakukan pihak2 tertentu di tanah air ke luar 
negeri).

Saya melihat di China dan sebelumnya mungkin juga di Jepang (Jaman restorasi 
Meiji), mereka yang dikirim belajar keluar negeri khususnya untuk beasiswa 
studi di bidang "social sciences" adalah pribadi2 yang sudah teruji benar2 
mental cinta tanah airnya dan ybs sudah bergelar Profesor di tanah airnya 
sendiri. Namun yang tidak kalah pentingnya dan perlu diperhatikan juga 
sejauhmana kemampuan kita sendiri dalam menghargai ilmuwan2 kita secara benar 
dan patut dari segala aspek agar tidak "dimanfaatkan" oleh pihak asing yang 
bukan saja untuk kepentingan si asing saja tetapi yang lebih celaka lagi secara 
tidak sadar bahkan secara sadar yang bersangkutan "bertugas" untuk 
"meluluhlantakkan" negara dan bangsanya sendiri, wallahuaklam.

 --- In [email protected], Rizal Gueci <rizal...@...> wrote:
>
> Butul Rekan Agus,
>
> Betul, bidang bidang keilmuan tertentu seperti pertanian dan ilmu sosial 
> rentan. Ini tergantung bargaining positition dengan Pembimbing, bila kita 
> kuat kita bisa mendesak tema penelitian yang diinginkan sendiri. Mahasiswa 
> Jepang dan Korsel dapat "memaksakan" topik penelitiannya tentang negeri ybs 
> (spy economic), bukan negerinya. Pengalaman saya saya coba memaksakan 
> keinginan saya, tapi kita deal fifty fifty, saya meneliti tentang organische 
> Staatstheorie di Jerman dan teori badan hukum, dan mereka minta peran Supomo 
> dalam UUD.
> Abad 19 orang Jepang dan Thailand sudah ke Eropa dan Amerika sekolah, 
> sekaligus jadi economic spy. Tapi orang Indonesia yang keluar kesetiaannya 
> pada tanah airnya kurang, kecuali awal abad 20 demi kemerdekaan. Tapi sesudah 
> merdeka kebanyakan kita tukang mereka. Bagi kita mereka netral saja sikap 
> kita terhadapnya sudah untung, apalagi bisa pro. Beasiswa adalah tujuan 
> ekonomi jangka panjang, yang berguna terhadap perluasan pasar mereka. Yang 
> penting saling membawa manfaat, tapi kalau ada konflik kepentingan, kesetiaan 
> harus ditujukan kepada negara dan bangsa kita. Walaupun perang sudah tidak 
> ada, patriot dan pejuang itu harus ada.
>
> Salam
> Rizal Sofyan Gueci

Kirim email ke