Saya heran, kenapa RM masih saja menuduh. Silakan periksa edisi Tabloid 
Indonesia Monitor edisi 3-9 Juni 2009, sebagai sumber apa yg disebut RM sebagai 
"selebaran gelap". Atau datang ke kantor redaksi mereka di Jl Jati Padang Raya 
No. 50, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Telp 021-780-5848. Ada banyak email yg 
bisa dihubungi. Edisi itu banyak di pasaran. Sama juga dengan edisi-edisi media 
lain yang difotokopi dan disebarkan entah oleh siapa, tentang kandidat capres 
dan cawapres. 

Bawaslu Kota Medan sudah memeriksa org yang menyebarkan klipingan tabloid 
Indonesia Monitor itu. Keduanya sama sekali tdk tercatat sebagai Tim Kampanye 
Daerah JK-Wiranto. Dan tdk ada urusan Tim JK-Win memeriksa tas semua orang, 
memeriksa apakah mereka membawa stiker, pamflet, propaganda, dan hal-hal lain 
di tas masing-masing. RM terlihat begitu naif di sini. 

Kalau RM mau ikut sekali saja dengan rombongan JK atau Wiranto, tdk pernah ada 
pemeriksaan ketat kepada siapapun orang yang berusaha mendekat, apalagi sampai 
melakukan pemukulan. RM dgn mudah minta maaf atas kasus di Papua, tetapi kenapa 
atas framing yang dia buat atas kasus "selebaran gelap" menurutnya itu, RM 
begitu ingin dipolisikan dan diadili di pengadilan? Ada apa? Apa karena yakin 
hidupnya sudah terjamin selama 10 tahun, kalau ancaman pasal yang diajukan 
terbukti? 

Sebaiknya RM bertanya kepada Faisal Basri yang notabene adalah orang dekat 
Boediono yang berada dalam jajaran anggota Dewan Pakar Tabloid Indonesia 
Monitor. Kenapa dia meloloskan artikel itu? Di jajaran Dewan Pakar juga ada 
Bondan Gunawan, Andrinof Chaniago, Yuddy Latief dan Mohammad Sobari. Apakah 
artikel itu diloloskan utk memuluskan "serangan" RM atas isu SARA kepada JK, 
dengan mengambil lewat TV One, lama setelah tabloid itu terbit? 

Dan lagi-lagi RM menulis judul dengan nama "Somasi JK". Apa RM tdk tahu bahwa 
tim hukum kami masih "melindungi" Penanggungjawab Tim Kampanye Nasional 
SBY-Boediono, yakni SBY? Kami tdk menuntut SBY, tetapi hanya RM sebagai 
pribadi. Paling tdk, dengan kecanggihannya, RM menyebut tiga nama dlm ucapannya 
yang kurang sopan itu, yakni JK sebagai pribadi, JK sebagai Wapres dan JK 
sebagai Capres. Dan RM juga menyebut Tim Kampanye Nasional JK-Wiranto. Yang 
mensomasi dan menggugat RM bukan JK, tetapi Tim Kampanye Nasional JK-Wiranto, 
organisasi yang mungkin dinilai rendahan oleh RM. 

Biarlah hukum yang akan bekerja, untuk membuktikan betapa "skenario SARA" ini 
adalah bagian dari pekerjaan sekelompok orang yang sedang kalap. 

IJP

--- In Forum-Pembaca-Kompas@yahoogroups.com, Nong Mahmada <nongan...@...> wrote:
>
>  
> JAWABAN TERBUKA TERHADAP SOMASI JK 
>  
>  
> Oleh Rizal Mallarangeng
>  
>  
>  
> Kemarin, Tim Kampanye Nasional JK-WIN mengirimkan somasi resmi kepada saya, 
> menuntut saya untuk mencabut pernyataan saya sebelumnya serta meminta maaf. 
>  
> Jawaban saya adalah sebagai berikut. Seperti yang terlihat jelas di berita 
> televisi (TVone, Kabar Siang, 24 Juni 2009), pada saat JK melakukan kampanye 
> tertutup dalam sebuah ruangan di Medan, seseorang yang mengenakan batik 
> cokelat lengan panjang menjinjing tas plastik yang berisi selebaran, dan 
> membagikan selebaran tersebut secara bebas kepada para hadirin hingga ke 
> kursi di deretan depan. Isi selebaran tersebut adalah fitnah, sebentuk 
> kampanye hitam yang bertendensi jahat, dalam bentuk pertanyaan yang retoris, 
> bahwa Ibu Herawati Boediono, istri Cawapres Boediono, adalah seorang Katolik.
>  
> Faktanya, Ibu Herawati Boediono adalah seorang muslimah yang taat. Fakta ini 
> telah berkali-kali dijelaskan oleh Tim Kampanye SBY-Boediono dalam berbagai 
> kesempatan. 
>  
> Itu tidak berarti bahwa menjadi seorang Katolik adalah perbuatan yang salah, 
> apalagi nista. Saya menghormati setinggi-tingginya saudara-saudara penganut 
> agama Katolik, dan agama-agama lainnya. Umat Katolik adalah juga warga 
> Indonesia yang terhormat, yang mempunyai hak yang sama dengan umat lainnya di 
> Indonesia ini. Saya mencintai dan menghargai mereka sebagaimana saya 
> menyayangi keluarga sendiri. 
>  
> Tetapi, saya berpandangan bahwa penyebaran berita palsu itu adalah usaha 
> menggunakan isu SARA secara sengaja, sebuah manipulasi untuk memperoleh efek 
> politik secara gampangan. Selain itu, ia juga mengesankan bahwa seorang 
> Katolik di Indonesia tidak mempunyai hak yang sama dengan warga negara yang 
> beragama lain.
>  
> Jika cara-cara seperti itu diteruskan dalam melakukan kampanye, ia akan 
> memperuncing hubungan antar-umat beragama, mengganggu keharmonisan sosial dan 
> etika toleransi yang kita junjung tinggi. Hal semacam itu tidak boleh kita 
> biarkan terus berlanjut.
>  
> Dan karena itu pula, saya tidak akan pernah mencabut pernyataan saya, apalagi 
> meminta maaf, sebagaimana yang dituntut dalam somasi terhadap saya.
>  
> Justru sebaliknya, saya menunggu penjelasan bagi pertanyaan-pertanyaan 
> berikut:
>  
> 
> Mengapa fitnah dan kampanye gelap tersebut terjadi dalam ruangan kampanye JK? 
> Bukankah setiap orang, apalagi membawa tas berisi banyak selebaran, harus 
> melewati pemeriksaan petugas sebelum memasuki ruangan di mana seorang Wapres 
> berada? Kenapa orang tersebut bisa begitu bebas membagikan selebaran fitnah 
> di ruangan itu, praktis tanpa teguran dan larangan?
>  
> 
> Jika ternyata panitia penyelenggara atau beberapa orang dari Tim JK memang 
> terlibat secara sengaja dalam penyebaran fitnah dan kampanye gelap tersebut, 
> apakah JK telah menegur mereka, akan menegur mereka, atau malah membiarkan 
> mereka begitu saja, seolah-olah penyebaran fitnah dan penggunaan isu SARA 
> dalam kampanye adalah wajar-wajar saja? 
>  
> 
> Apa langkah yang JK akan lakukan agar tim beliau tidak lagi terlibat dalam 
> praktek kotor seperti itu? 
>  
> Persoalan ini adalah persoalan prinsip yang melebihi persaingan politik.  
> Pemilu boleh datang dan pergi, pemimpin boleh naik dan turun -- tapi 
> prinsip-prinsip itu bersifat abadi.  Kita tidak boleh berbohong dalam 
> mengedarkan informasi.  Kita tidak boleh bersikap diskriminatif terhadap 
> penganut agama lain.  Dan kita tidak boleh melepaskan tanggungjawab dalam 
> perkara sepenting ini.
>  
> Ende, 26 Juni 2009
> 
> 
>       
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke