Ya, apa yang saya sampaikan hanyalah satu variabel atau satu alternatif kecil dari gagasan bagaimana membuat politik negeri ini lebih sehat, produktif dan mendidik bagi rakyat, ketimbang hanya saling lempar pernyataan atau 'janji'. Kunci dari masalah yang Anda sampaikan adalah rekrutmen dan pendidikan kader yang tertata dengan baik di internal masing-masing parpol. Sektor ini yang kita lihat bersama masih sangat minim dilakukan oleh parpol, terutama di daerah-daerah. Padahal itu adalah 2 hal yang manjadi tugas dasar sebuah partai politik. Jika kader terdidik dengan baik, ia akan tahu apa yang mesti dilakukan untuk rakyat. Di sini, rekrutmen dan pendidikan politik tampak baru dilakukan saat jelang pemilu, itupun hanya terbatas untuk para caleg atau pilkada. Barangkali, memang masih belum hilang benar sistem floating mass yang lama diterapkan di masa Orba, jadinya partai politik kagok, tidak tahu harus berbuat apa, ketika berhadapan dengan rakyat.
Salam, ________________________________ Dari: rubayat2001 <[email protected]> Kepada: [email protected] Terkirim: Rabu, 1 Juli, 2009 22:47:03 Judul: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Debat Cawapres Kalau jawaban kita hanya tertuju pada adanya otonomi daerah ataupun otonomi Pusat walau ada unsur benarnya, tapi ya kok belum merupakan jawaban tuntas karena masalah pokok negara kita adalah belum mampunya dari kebanyakan aparat/ pimpinan formal/non formal bangsa kita yang merupakan panutan dari masyarakat/rakyat banyak hanya mampu melaksanakan tugasnya sebagian besar dipenuhi nuansa teori-teori baku dan standard atau kata tegasnya "TEXT BOOKED THINKING" dan hanya sedikit yang mampu menyentuh untuk merealisasikan dilapangan guna memperbaiki kondisi nyata masyarakat/rakyat dalam memecahkan persoalan "the real problem" dari kondisi rakyat kita sehari-hari agar lebih membaik. Apa yang sebenarnya didambakan oleh rakyat kecil dan sebagian besar bangsa ini tidak lebih dan tidak kurang seperti apa yang diamanatkan oleh konstitusi kita adalah berupa jaminan hidup yang benar, konsisten, jujur dan transparan serta bersatunya kata dan perbuatan semua lapisan pimpinan/aparat kita tanpa memanipulasi apa yang salah, jelek, keliru atau yang bagus, benar dan berhasil. Kalau pahit katakan pahit kalau manis ya kita harus jujur menghargai tanpa berlebih-lebihan memuji-mujinya. Kalau semua tugas dan tanggung jawab kita selalu maunya dihargai/ dinilai bagus, tapi kalau kita keliru atau membuat blunder pada berebut ngeles dan mengkambinghitamkan yang terlemah posisinya, ya saya khawatir sampai kiamat kita tidak akan mampu untuk maju menatap tantangan masa depan yang lebih baik bagi bangsa kita. Kata kunci dari ini semua adalah kejujuran dan mampu bekerja dengan ilmu lilin (rela hancur meleleh demi menerangi sekeliling) tanpa kalkulasi rugi-laba buat image diri pribadi atau kelompok kita. Mohon kita semua bersama-sama merenungkan hal ini dengan rileks, jujur dan hening-bening, wallahuaklam.
