Selama 4 hari setelah hari pencontrengan 8 Juli saya melihat ruang gerak 
Mega-Pro dibatasi oleh media TV dan cetak yang ada. Porsi pemberitaan lebih 
banyak kepada citra kemenangan SBY-Boediono. Paparan media seolah-olah memberi 
masukan kepada rakyat seakan "mengenyek" kandidat nomor 1 & 2

Diri JK pun tidak lepas dari "kerugian" dimana kekalahan dirinya diamputasi 
melalui "citra ala media" yang berulang-ulang menayangkan pembicaraan JK - SBY, 
walaupun dengan iming-iming adanya sikap kenegarawanan. 

Saya melihat media TV mulai terlalu jauh meletakan dirinya tidak seimbang. 
Kebebasan media mulai tidak menentu arahnya dan para presenter (anchor) sudah 
terlalu jauh bertindak seakan menghakimi itu hal yang biasa. Sudah tidak 
terlihat tanggung jawab moral ke-Indonesia-an para presenter ini sama sekali. 
Dimana rasa nasionalisme dan kebangsaan mereka. 

Saat ini pikiran masyarakat seakan diajak melupakan persoalan DPT yang ambrul 
adul. Usaha Prabowo mempermasalahkan DPT Pilpres dipersempit ruang 
pemberitaannya dan hilang sejak beberapa hari ini. Apa mereka lupa bahwa 
demokrasi yang kita bangun dengan susah payah akan dinodai dengan perilaku 
media TV dan cetak ini. Dimana tanggung jawab mereka? Kemana arah demokrasi 
yang mau mereka bawa?

Kita harus sadar apa yang dimenangkan oleh SBY akan membawa bangsa dan negara 
ini kepada semi otoriterisme. Jika rancangan UU Keamanan Dalam Negeri disetujui 
DPR maka besar kemungkinan akan ada amendemen yang arahnya seperti "Internal 
Security Act (ISA)" di Malaysia dan Singapura. Kalau ini terjadi jebol 
kebebasan media TV dan Cetak termasuk kebebasan bicara dan berkumpul. 

Saya tidak mengatakan apa yang direncanakan dan diperoleh SBY itu jelek secara 
keseluruhan. Sejarah membuktikan, bangsa dan negara kita ini memang terbiasa 
dengan rejim-rejim otoriter "ala budaya raja jawa" , namun jangan kita 
mengulang sejarah dimana rejim itu cenderung akan bercokol seumur hidup. Kenapa 
saya katakan begitu, karena sudah ada arahnya untuk kembali kepada kemurnian 
UUD 45. Kalau ini terjadi, maka jangan diharapkan ada Pilpres lagi di 2014. 

Sekali lagi harus ada mekanisme "check & balance" untuk mengimbang semi 
otoriterianisme. Bangun cipta dan lahirkan seakan kita kaum rakyat tidak 
khawatir dengan semi otoriterianisme itu. Seberat apapun rejim itu tetap harus 
dipelihara demokrasi yang ada dengan dijaminnya "check & balance". Jika muncul 
rejim yang akan menguasai lembaga eksekutif dan legislatif, maka harus ada 
perimbangan. Salah satunya adalah dengan kesadaran membangun oposan yang kuat 
atau bentuk lainnya. 

Harusnya media TV dan cetak bisa membawa rasa sadar itu kepada masyarakat 
dengan membuka selebar-lebarnya berita tayangan dan jalan bagi tercipta "check 
& balance" untuk mengimbang semi otoriterianisme. 

Perbuatan Prabowo merupakan salah satu upaya itu dan sebagai jembatan emas bagi 
menjaga sendi-sendi demokrasi. Komplain Prabowo soal DPT harus diberi ruang 
selebar-lebarnya seperti ruang yang diberikan Media TV dan Cetak kepada SBY. 
Fair dong, apalagi Media TV dan Cetak harus ingat kemungkinan akan adanya ISA 
seperti yang disampaikan diatas 

Jika Prabowo sudah nasibnya tidak diberikan "space" sama sekali, saya himbau 
agar si Umar mulai memikirkan dan masuk ke jalur Media TV dan Cetak 
Internasional, hal serupa seperti yang dilakukan politisi pro rakyat di Iran 
karena Media TV dan Cetak di negeri ini juga sudah tumpul. 

Wasalam
BETA





Kirim email ke