Ketertinggalan informasi itu sungguh memalukan. Saya belum baca artikel di kompas yang menyebutkan manusia belum pernah mendarat di bulan, tapi kalau kompas benar pernah mengangkat itu, (bukannya mengulas maraknya munculnya "teori konspirasi" tentang banyak hal -- termasuk konspirasi pendaratan di bulan -- tapi justru memperkuat misinformasi itu) maka redaksi kompas patut ditegur.
Kalimat "pros and cons" itu seolah mengatakan ada perdebatan dua pihak yang punya kredensial; para ahli ataupun ilmuwan-- tentang pendaratan di bulan. Kenyataanya, tidak ada ilmuwan yang pros dan cons dalam tayangan Nat Geo tentang pendaratan manusia di Bulan: Kalau orang awam yang ber-pro and con, tidak ada artinya apa-apa kan? Tidak seperti siaran televisi Indonesia yang (selalu) vulgar (sampai pada taraf yang memuakkan) baik dalam penyikapan, dan treatmentnya (narasi dsb), Program-program Nat Geo selalu dengan subtil (tidak) meninggalkan pilihan bagi para pembacanya kecuali menangkap hanya fakta-fakta: Dalam kasus "konspirasi pendaratan di Bulan", yang "pros" adalah mereka yang memang bekerja di bidangnya dan dengan kredensial yang solid, sedangkan yang "cons" adalah mereka yang tak punya background yang layak untuk membicarakan hal yang dibicarakannya ... Apabila ada yang sampai tidak bisa menangkap hal itu, saya tidak tahu harus bicara apa. Menambahkan upaya pak Ma'rufin, di akhir email ini saya tambahkan sumber informasi mengenai LLR (Lunar Laser Ranging) yang sudah established sejak misi Apollo 11 - yang telah menempatkan sejumlah corner reflektor di permukaan bulan yang mengadap bumi, sehingga bisa dilakukan triangulasi dengan laser untuk setiap saat mengukur JARAK EKSAK (sampai ke milimeter) posisi bulan dari bumi, sehingga saat ini kita tahu Bulan menjauhi bumi 3,6 cm per tahun, sehingga kita tahu pada suatu saat di masa lalu Bulan pernah dekat sekali dengan Bumi dan diduga membantu proses biogenesis. Pengukuran LLR ini MASIH DILAKUKAN SAMPAI SEKARANG, dan corner reflector itu membutuhkan penyesuaian sudut hiper-presisi yang tidak mungkin dilakukan dari Bumi pada saat itu, karena teknologi Robotik dan instrumentasi yang dimiliki Nasa (ataupun Rusia -- rajanya pendarat robot pada saat itu) belum semaju saat ini. Sekali lagi: dalam arti yang sesugguhnya, TIDAK ADA PROS and CONS dalam tayangan Nat Geo tentang pendaratan manusia di Bulan -- sebagaimana TIDAK ADA PROS dan CONS (dalam arti yang sesungguhnya) dalam tayangan Nat Geo tentang segitiga bermuda atau crop circle. Contoh, yang disebut "ilmuwan" bernama John Hutchinson -- penemu "Hutchinson effect" yang mempromosikan "zero point energy", bukanlah ilmuwan, tapi penggiat "pseudo-science": tidak satupun claimnya yang dapat didemonstrasikan bahkan setelah tim Natgeo mengunjungi dan menunggui "lab" nya -- sudah natur NatGeo untuk tetap mengcover seluruh hal sebagaimapun ridiculous nya hal tersebut, sambil menyediakan fakta-fakta yang bersangkutan dengan hal itu untuk dipresentasikan pada penontonnya agar dapat memahami sesuatu dengan jelas dan pikiran yang sehat. Lunar Laser Ranging: http://www.csr.utexas.edu/mlrs/ http://en.wikipedia.org/wiki/Lunar_Laser_Ranging_Experiment ________________________________ From: pudimartini <[email protected]> To: [email protected] Sent: Tuesday, July 14, 2009 9:27:42 Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Kompas kebobolan? Manusia Belum Pernah Mendarat di Bulan Ada video Nat-Geo yang bisa menjelaskan pros and cons seputar kontroversi tersebut rahardjo mustadjab wrote: > > > Penjelasan Ma'rufin Sudibyo lebih layak lebih berdasar sains. Apakah > Kompas kali ini > kebobolan? Sebaiknya lain kali tulisan sains dikonsultasikan dulu > kepada Dr. Ninok Leksono. Jangan sampai sains ditumpangi politik tertentu. > > RM > > --- On Mon, 13/7/09, Ma'rufin Sudibyo <maruf...@yahoo. com > <mailto:marufins% 40yahoo.com> > wrote: > Langit > Bulan nampak hitam, itu memang sudah seharusnya demikian. Semua misi > Apollo yang mendarat di Bulan (dari > Apollo 11 sampai 17, terkecuali 13) mengeksplorasi wajah Bulan yang > berhadapan dengan Bumi (alias di area nearside) dan semuanya > berlangsung tidak pada periode konjungsi Bulan - Matahari (ijtima') > sehingga lokasi-lokasi pendaratan mereka sedang dalam kondisi tersinari > cahaya Matahari alias dalam kondisi siang. Dan karena jarak Bulan ke > Matahari tidak berbeda (secara makro) dengan jarak Bumi ke Matahari, > maka kondisi penyinaran Matahari di Bulan sama > dengan di Bumi sehingga kondisi langit yang dilihat di Bulan pun sama > dengan di Bumi. Perkecualian ada pada warna langit, karena Bulan tidak > punya atmosfer, maka langitnya berwarna hitam karena tidak ada molekul > udara yang berfungsi meneruskan cahaya biru dan memblok spektrum > warnba lainnya. Namun dalam kondisi > siang, tentu saja pencahayaan bintang-bintang kalah jauh dibanding > penyinaran Matahari sehingga bintang-bintang tetap tidak akan nampak. > Ini sama saja lah dengan di Bumi, dimana pada siang hari dan dalam > kondisi langit yang cerah sekali (tanpa awan sedikitpun) kita pun > takkan mungkin melihat bintang-bintang bukan? Justru jika disebutkan di > langit Bulan yang hitam "harusnya" terlihat bintang-bintang, malah > ketahuan kalo itu jelas bohong. > > Okelah, > masalah foto bisalah dianggap tipuan. Anggaplah zaman itu sudah > ada mbahnya Photoshop atau pengolah citra sejenisnya. Namun, ada > bukti-bukti non fotografis yang sampai saat ini tidak bisa dibantah > oleh para pengusung teori manusia tidak pernah mendarat di Bulan. Saya > ambil 3 saja di antaranya. > > Yang pertama, tentang gempa Bulan > alias moonquake. Ada rekaman seismogram yang runtut selama 1 dekade > (1969 - 1977) tentang aktivitas gempa Bulan. Dan karakter gempa Bulan > sangat berbeda dengan Bumi, baik dari pola getaran, hiposentrum maupun > durasinya. Gempa Bulan bisa memiliki durasi hingga 0,5 jam meski > magnitudenya hanya 5 skala Richter. Sebaliknya gempa terdahsyat di > Bumi, seperti gempa megathrust Sumatra-Andaman 26 Desember 2004 yang > memiliki magnitude 9,2 skala Richter itu dan meluluhlantakkan sebagian > besar pesisir Samudera Hindia, durasinya "hanya" 15 menit. > Dan gempa berskala 5 skala Richter di Bumi hanya berlangsung selama 20 > - 60 detik. Tanpa perlu belajar geofisika lebih lanjut, satu-satunya > cara mendapatkan rekaman seismogram gempa Bulan adalah dengan > menempatkan seismograf disana. Dan satu-satunya cara memasang > seismograf adalah harus dengan bantuan manusia, mulai dari > menempatkannya di batuan kompak yang cocok hingga melakukan penyetelan. > Sebagai gambaran, Uni Soviet pernah mencoba mendaratkan seismograf > dalam misi tak berawak Venera ke Venus.. Hasilnya? Peralatan ini gagal > bekerja untuk memantau gempa Venus. Demikian juga AS dalam misi Viking > ke Mars. Seismografnya pun gagal bekerja. > > Yang > kedua, tentang dinamika orbit Bulan. Pasca 1969 barulah diketahui bahwa > orbit Bulan yang ellips itu mengalami perubahan secara gradual dan > konsisten, dimana setengah sumbu utama ellipsnya senantiasa bertambah > besar dengan rate 3,6 cm/tahun, yang berimplikasi pada melambatnya > rotasi Bumi sebesar 0,000017 detik/tahun. Dinamika ini baru diketahui > pasca 1969 berdasarkan pengukuran jarak Bumi-Bulan yang teramat presisi > dengan menggunakan sinar laser, dimana seberkas sinar laser yang > dipancarkan dari Bumi dipantulkan oleh cermin LLR (Lunar Laser > Retroreflektor) . Sama halnya dengan pemasangan seismograf, pemasangan > cermin LLR di Bulan mau-tak-mau membutuhkan campur tangan manusia. > > Dinamika > orbit Bulan membuat Bulan pada masa silam (berjuta tahun silam) berada > lebih dekat dengan Bumi dan konsekuensinya rotasi Bumi saat itu lebih > cepat dari sekarang. Ini konsisten dengan data dari fosil moluska purba > yang menunjukkan pada 400-an juta tahun silam Bumi berotasi dengan > periode 22 jam sehingga 1 tahun Matahari saat itu berjumlah 400 hari. > Kenapa dinamika orbit Bulan baru diketahui setelah 1969? Musababnya > sederhana saja, penggunaan cermin LLR membuat jarak Bumi-Bulan bisa > diukur dengan sangat teliti sehingga ketidakpastiannya maksimum hanya > beberapa milimeter. Jika pengukuran dilakukan dengan menggunakan > gelombang radar, maka ketidakpastiannya akan membengkak menjadi > beberapa kilometer, sementara jika dilakukan pengukuran berdasarkan > posisi satelit yang mengorbit Bulan, pun ketidakpastiannya sampai > beberapa kilometer mengingat efek relativitas umum dan ketidakhomogenan > distribusi massa di Bulan. > > Yang > ketiga, tentang batu Bulan. Ada 380 kg batu Bulan yang saat ini ada di > Bumi Dan Batu > Bulan punya ciri spesifik yang sangat berbeda dengan batuan di Bumi. > Seluruh sampel batu Bulan memiliki umur sangat tua (milyaran tahun, > berdasarkan radiogenic dating) sementara batuan Bumi mayoritas berumur > ratusan juta tahun. Seluruh sampel batu Bulan tidak mengandung air baik > dalam bentuk mineral terhidrat yang umum dijumpai dalam batuan Bumi. > Dan seluruh sampel batu Bulan memiliki mikrokawah (mikrocekungan) di > permukaannya sebagai akibat hantaman mikrometeorit, yang tak mungkin > ditemukan dalam batuan Bumi. Dan di dalam sampel batu Bulan ditemukan > konsentrasi isotop Helium-3, yang tak pernah ada di batuan Bumi. > Karakteristik tersebut membuat batuan Bulan tak mungkin pernah ada di > Bumi, apalagi sengaja dibuat dalam laboratorium. Dan 380 kg batu Bulan > itu tidak hanya disimpan NASA saja, namun telah didistribusikan ke > banyak negara dan banyak diantaranya yang tidak berpartisipasi langsung > terhadap program pendaratan manusia di Bulan, sehingga lebih > independen. Namun hasil analisisnya untuk keempat ciri spesifik di atas > tetap sama. > > Nah > bagaimana tanggapan para pengusung teori manusia tidak mendarat di > Bulan terhadap data-data non fotografis tersebut? Sampai saat ini tidak > ada Get your new Email address! Grab the Email name you've always wanted before someone else does! http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/ [Non-text portions of this message have been removed]
