Inilah demokrasi ala Indonesia. Cara terbaik untuk memenangi pilpres, ya dengan 
jalan menggunakan perasaan rakyat. SBY kira-kira sedang menjalankan taktik yang 
terbukti ampuh yaitu mencari simpati dan belas kasih rakyat dengan "pura-pura" 
telah teraniaya. Kalau sudah begini, rakyat mah kagak pikir lagi soal politik 
sebab dia memang gak ngerti politik.

Memang, sepuluh persen rakyat intelektual ada di perkotaan, mereka menganalisa 
pidato SBY. Nah yang 90 persen di  perdesaan dan perkampungan itu kan langsung 
jatuh hati sama  SBY sebab  orang Indonesia ini tepo slironya kepada orang yang 
sedang teraniaya sangat tinggi.

Sudah terbukti, kan? Waktu kampanye SBY bilang, " Saya diserang dengan ilmu 
sihir!" Bagi kaum intelektual, pernyataan SBY itu ngawur, tetapi rakyat justru 
simpatik dan jatuh hati pada orang yang dianggapnya teraniaya. Menanglah SBY, 
karena figurnya sudah telanjur disayang. Di TPS-TPS ketika penghitungan suara 
dilakukan, kaum perempuan dan ibu-ibu bersorak sorai ketika SBY mengungguli 
Mega dan JK.

Sekarang ini, dua lawannya --terutama kubu Mega-Pro-- belum mengakui kemenangan 
SBY meskipun presiden bertahan (incumbent) itu menang satu putaran menurut 
versi hitung cepat (quick count). Kan KPU juga belum mengumumkan pemenang 
secara resmi.

Konon, Kubu Mega-Prabowo sedang mengirimkan utusan untuk menyelidiki dan 
mengumpulkan data-data kecurangan di kantong-kantong kecamatan. Dan kalau 
bukti-bukti kecurangan itu ternyata ada, Mahkamah Konstitusi (MK) akan 
membatalkan kemenangan SBY-Boediono dan pilpres akan masuk putaran kedua. 
Kabarnya, inilah yang ditakuti oleh SBY, dan karena itu digunakanlah kesempatan 
atau peristiwa pengeboman Hotel Marriott dan Ritz Carlton untuk menarik simpati 
rakyat.

Pidato SBY soal pengeboman itu memang konyol bagi kaum intelek yang ada di 
kota, tetapi rakyat di kampung, desa dan dusun berkata lain, "Wah, kasihan ya 
Pak SBY dianiaya lagi." Misalkan ternyata ada pilpres putaran kedua, saya yakin 
SBY menang lagi.

Tampaknya,  rakyat Indonesia belum sampai waktunya untuk  berdemokrasi dengan 
daya intelektualitas memadai. Pas seperti kata Andi Mallarangeng waktu kampanye 
di Makassar, bahwa orang Sulawesi itu (saja) belum waktunya jadi presiden.

Rakyat Indonesia yang sekarang ini mah tahunya dagang sama tani doang, cari 
makan dan kawin, ya sudah. Soal negara mah bukan urusan dia. Karena itu, 
biarkan sajalah Pak SBY itu jadi presiden, biarkan dia berjuang untuk mendidik 
rakyat dengan sekolah gratis. Tuntut program kampanyenya supaya terwujud. 
Nanti, kalau rakyat sudah pintar, taktik SBY pun akan basi.

Menurut saya mah, gitu saja.

Umbu


--- On Sat, 7/18/09, Yuliati Soebeno <[email protected]> wrote:

From: Yuliati Soebeno <[email protected]>
Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] SBY... ADUH...KOK GINI?
To: [email protected]
Date: Saturday, July 18, 2009, 1:42 PM






 





                  Bung Adyanto dan Bung Ahmad Jauzi,



Sudahlah tidak usah bingung dan merana begitu. Anda semua sudah tahu kan, bahwa 
itulah PRESIDEN PILIHAN RAKYAT INDONESIA.

Soalnya memang begitulah yang di-ingin-kan masyarakat rupanya, Presiden yang 
"melankoli".

Dulu Megawati menjabat selama hampir 4 tahun, dan sebelum pemilihan presiden, 
berapa banyak bom-bom yang meledak, dan menghancurkan nama Indonesia dimata 
dunia. Tetapi apakah Presiden Megawati waktu itu memperlihatkan "kelembekan" 
nya sebagai PEMIMPIN BANGSA? Meskipun beliau seorang perempuan yang seharusnya 
bisa menangis tersedu-sedan? Tetapi Mega memperlihatkan ketabahan yang kuat 
dihadapan rakyatnya. Apalagi waktu itu terjadi pengeboman di Kedutaan Asing 
(Australia), yang benar-benar menghancurkan kredibilitas Mega sebagai Presiden, 
namun tetap tegar, jikapun Mega menangis mungkin didalam kamar dia sendiri, 
tidak didepan umum.



Salam,

Yuli

Kirim email ke