Harap maklum, pemerintah kita sangat mengidolakan prinsip "jangan tanya apa 
yang bisa negara berikan padamu, tapi tanyakan apa yang bisa kau berikan pada 
negara". Jadi ya maklum saja kalau pemerintah terus menuntut ini itu pada 
rakyat, terus membebani pundak rakyat dengan seribu satu tuntutan dan pajak.

Masalahnya, ibu dari negara adalah rakyat. Rakyatlah yang melahirkan negara 
dengan darah dan airmata. Eh giliran sudah bisa 'berjalan di atas kaki sendiri' 
bukannya berterima kasih pada sang ibu, anak bernama negara (penguasa) ini 
malah menindas ibunya (rakyat); dengan aturan2 represif, dengan 1001 macam 
pajak; alias jadi anak durhaka. Ujung-ujungnya anak durhaka tidak mendapat 
berkah Illahi. Akhirnya jadilah anak durhaka ini meski dirinya memiliki 
segudang kekayaan alam hidupnya tetap melarat.

Regards,
Imam
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

-----Original Message-----
From: "pahalahutabarat" <[email protected]>

Date: Thu, 06 Aug 2009 13:09:58 
To: <[email protected]>
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Pajak Kendaraan 100 Persen untuk Jalan



Ah..., sudah pada tau duluan kok Pak.

Pemerintah Indonesia kan - mungkin - satu-satunya pemerintah di dunia yang 
rajin 'ber-transaksi dengan rakyatnya !'.

Sedikit-sedikit menyesuaikan bin menaikkan harga. 
Ya harga gas, harga tol, harga listrik, harga air, harga farmasi, harga bbm, 
harga transportasi, harga pajak (STNK, BPKB, PBB, PPh, PPN, dll), harga 
korupsi, dll.  Sombong deh pokoknya kita ini.

Tapi pemerintah tidak bisa menjamin harga produk pertanian.
Misalnya, kita tanam kentang atau cabai/cabe. Kita sulit merencanakan alokasi 
uang hasil penjualan panen, karena kita tidak bisa pastikan bahwa harga pada 
saat panen akan sama dengan harga saat kita berencana bertani. Menaikkan harga 
bisa, menjamin harga stabil tidak bisa !. Semua orang juga bisa.
Kebanyakan petani merugi secara siluman kan ?.

Perasaan nggak ada yang gratis (dari pemerintah) di Indonesia ini, kecuali 
kentut. Seandainyapun kentut ada warna-sehinga bisa dilihat, mungkin akan 
dipajak juga dengan istilah 'Retribusi Kentut' !. 

Lalu pernah ada berita bahwa sebuah BUMN merugi, tapi direksi bagi-bagi bonus. 
BUMN merugi, tapi direksi tambah kaya.

Jadi ya benar..., KAYAK PREMAN AJA.


------------------------------------

=====================================================
Pojok Milis Komunitas Forum Pembaca KOMPAS [FPK] :

1.Milis Komunitas FPK dibuat dan diurus oleh pembaca setia KOMPAS

2.Topik bahasan disarankan bersumber dari http://koran.kompas.com/ , 
http://kompas.com/ dan http://kompasiana.com/

3.Moderator berhak memuat,menolak dan mengedit E-mail sebelum diteruskan ke 
anggota

4.Moderator E-mail: [email protected] [email protected]

5.Untuk bergabung: [email protected]

KOMPAS LINTAS GENERASI
=====================================================
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke