http://koran.kompas.com/read/xml/2009/08/09/03284634/caping.merapi


Sembilan tahun bukan waktu yang pendek, tetapi juga tidak panjang bagi suatu 
perjalanan memaknai. Pemaknaan senantiasa merupakan perjalanan tak berujung, 
diwarnai keletihan, sekaligus tantangan yang membentuk daya untuk terus 
bergerak, tapak demi tapak. Bukankah kesadaran tak lahir dari ketergesaan?

"Setelah sembilan tahun menyelenggarakan gelar budaya, kami membuat refleksi, 
gerakan budaya ini mau dibawa ke mana," ujar Romo Kir.

Kalau selama ini seluruh upaya terfokus pada persoalan lingkungan, khususnya 
air dan pasir, ke depan arah itu akan dikuatkan dengan fokus pada pendidikan, 
keadilan, dan kesejahteraan petani.

"Setiap kelompok silakan membuat ekspresi tentang hal itu," lanjutnya, "Tidak 
ada beban harus begini, harus begitu. Tak ada beban mencari biaya. Semuanya 
bertumpu pada kekuatan sendiri seperti selama ini terjadi. Yang merencanakan, 
silakan mewujudkan."

Semua itu dikemas dalam kegiatan "Caping Merapi", suatu rintisan kegiatan 
budaya warga tani, seniman, dan budayawan Merapi, yang terfokus pada edukasi 
lingkungan hidup untuk keadilan dan kesejahteraan. Acara sudah dimulai sejak 5 
Juli, berlangsung di berbagai desa dan berpuncak pada 15 Agustus.

Eksplorasi

Agenda "Caping Merapi" antara lain penelusuran sejarah irigasi, pembuatan 
monumen Caping Merapi, seni instalasi, serta pentas dan dialog budaya tani 
dengan seniman Yogya.

"Kami mengeksplorasi Caping Merapi menjadi materi pendidikan masyarakat 
petani," tutur Romo Kir.

Upaya itu diawali dengan upacara perkawinan, dikemas dalam gelar pertunjukan 
berdasarkan cerita-cerita yang hidup di dalam masyarakat petani. Isinya sarat 
pesan dan simbol terkait dengan kerusakan tanah, lingkungan, dan kekacauan yang 
ditimbulkan, serta tanggung jawab pemimpin terhadap rakyat yang memberikannya 
mandat untuk memimpin.

"Itu perkawinan sungguhan. Kami buatkan kandang sapi, manten-nya ada di kandang 
sapi."

Dengan "Caping Merapi", harapan, keluhan, protes, atau apa saja bisa 
diekspresikan melalui seni. "Caping Merapi" terus dieksplorasi sebagai 
simbol-simbol terkait dengan kehidupan petani dan pertanian.

"Terutama sebagai pencarian dan peneguhan martabat petani," ungkap Romo Kir. 
"Desa tak boleh dipandang hanya sebagai obyek dan alat produksi pangan seperti 
pandangan mainstream yang diterapkan dalam program- program selama ini."

Intinya, "Caping Merapi" adalah gerakan budaya. "Kesenian tak bisa 
diterjemahkan secara sempit, tetapi menjadi darah untuk hidup memperjuangkan 
keadilan dan kesejahteraan." Romo Kir menegaskan, "Itu yang kami sepakati. 
Bagaimana perkembangan ke depan, ya kami jalani saja, mengalir saja, Panta 
ReiĀ…." (MH/TOP) 

Kirim email ke