http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2009/08/12/13264343%20/inilah.sosok.ibrohim
CIREBON, KOMPAS.com â" Betapa sulit memahami jalan pikiran para teroris di Indonesia. Sejumlah pelaku rela meninggalkan anak-istri mereka demi sebuah keyakinan yang menghalalkan pembunuhan terhadap sesama manusia. Mereka pastinya berpandangan bahwa meninggalkan anak-istri adalah pengorbanan demi menegakkan keyakinan itu. Mereka pastinya juga percaya bahwa istri dan anak mereka akan dijaga oleh Tuhan yang mereka yakini sedang mereka bela. Ibrohim atau Boim, karyawan penata bunga Cynthia yang bertugas di Hotel JW Marriott, menghilang pascapeledakan bom di hotel itu dan Ritz-Carlton medio Juli lalu. Dalam pelariannya, Boim meninggalkan istri dan empat anaknya yang menanti dalam kecemasan. Hampir sebulan menghilang, Boim tewas diberondong peluru Densus 88 dalam sebuah penggerebekan di sebuah rumah di daerah Temanggung, Jawa Tengah. Anak Jakarta Boim lahir di Jakarta, 6 Mei 1972. Ia diketahui mempunyai empat saudara, yakni Abdullah Sukri, Toha Muhammad, Mualib Sumi, dan Mila. Orangtuanya tinggal di daerah Cililitan Kecil, Jakarta Timur. Ia mengenyam pendidikan terakhir di STM Boedi Utomo, Jakarta. Setelah kedua orangtuanya tiada, seluruh keluarga Boim meninggalkan rumah di Cililitan Kecil seluas 6 x 12 meter itu. Para tetangga Boim di daerah itu mengaku tidak tahu kenapa rumah itu ditinggalkan begitu saja. Selepas STM, diperoleh informasi bahwa Boim bekerja sebagai staf pertamanan di Jakarta Hilton Convention Center (sekarang Jakarta Convention Center). Ia bekerja di sana dari tahun 1994 hingga tahun 1997. Dari JCC, Boim pindah ke Hotel Mulia sebagai penata bunga. Ia bekerja di hotel berbintang itu dari tahun 1997 hingga 2005. Sejak 28 April 2005, Boim pindah menjadi penata bunga di Hotel JW Marriott. Ia adalah karyawan perusahaan bunga Cynthia yang bertanggung jawab atas pengelolaan dekorasi tanaman di hotel itu. Menikah Boim menikah dengan Sucihani pada 1996. Setelah anak ketiga lahir, keluarga ini meninggalkan Jakarta. Empat tahun terakhir, mereka tinggal di Dusun Kliwon, RT 28 RW 10 Desa Sampora, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Keluarga Boim tinggal sehalaman dengan orangtua Suci. Mereka menempati rumah tipe 45 bercat kuning. Sucihani, istrinya, lahir di Jakarta pada 16 September 1974. Ia lulusan Madrasah Aliyah. Keduanya menurut Sabil (38), kakak Suci, bertemu di Jakarta dan menikah. Dalam kartu keluarga, Boim tercatat sebagai kepala keluarga. Nama yang tertera dalam kartu keluarga adalah Ibrohim. Kartu tersebut memang belum jadi dan belum ditandatangani Boim. Selama bekerja di Jakarta, Boim hanya pulang sepekan sekali di akhir pekan. Hilang Suci terakhir kali berkontak dengan Boim lewat telepon seluler pada Kamis (16/7). Saat itu Boim tidak memberi pesan atau tanda-tanda apa pun. Ia hanya menanyakan tentang hari pertama anak-anaknya masuk sekolah. Suci juga menolak adanya kabar bahwa ada surat wasiat yang ditujukan untuknya dari Boim. Bahkan, pesan pun tidak ia dapatkan. Sepekan sebelum peristiwa pengeboman di hotel tempat ia bekerja, Boim sempat pulang. Berbeda dengan kebiasaan, pada saat hendak berangkat ke Jakarta, ia mencium anak-anaknya. Namun, setelah ada peristiwa peledakan, pria berkulit putih itu tak bisa dihubungi lagi. Menurut Sabil, keluarganya bertemu terakhir kali dengan Boim sekitar sepekan sebelum peristiwa peledakan bom. "Pada pertemuan terakhir ia sempatkan mencium anak-anaknya," kata Sabil. Sabil sudah mencoba menghubungi Boim lewat telepon genggam. Namun, telepon genggam milik adik iparnya itu tidak pernah aktif. Putri sulungnya pun sudah diminta tes DNA oleh polisi. Boim diketahui masuk kerja pada saat kejadian pengeboman Hotel Ritz-Carlton. Kini, Sucihani mengaku pasrah. "Doakan kami agar diberikan yang terbaik," kata Suci ketika ditemui beberapa waktu lalu di Kuningan. Suci yang berprofesi sebagai pengajar di Islamic Boarding School, Yayasan Al Mutazam, Kuningan, memilih mengurung diri di rumah sejak berita hilangnya Boim. Ia baru kembali beraktivitas sepekan terakhir. Boim pergi meninggalkan Suci dan keempat anaknya, Sobryna Aliya (13) baru masuk kelas I SMP pada tahun ini, Nisrina Adhiya (11), Ismail Dhya Ul Haq (7), dan Muhammad Ishaq Samudra yang baru lahir pada Maret lalu. Keempat anak ini masih butuh biaya banyak untuk sekolah. Suci harus memikulnya sendiri. Beban Suci bukan hanya masalah ekonomi keluarga. Pascakepastian Boim sebagai pelaku terorisme, anak istrinya pasti sulit untuk menghindari beban sosial.
