Kangmas Suhaimi, kalo benar dugaan bahwa dana teroris pimpinan NMT ini dari Al 
Qaeda, apa kepentingan Al Qaeda untuk membunuh SBY? Dugaan alasan membunuh SBY 
rasanya kok gak ada hubungannya dengan misi global Al Qaeda.

riyanto

-----Original Message-----
From: "Suhaimi" <[email protected]>

Date: Fri, 14 Aug 2009 07:50:49
To: <[email protected]>
Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Benarkah Ada Rencana Teroris Membunuh 
Presiden SBY?


Bung Satrio Arismunandar,

Sebagai salah satu sudut pandang analisa, buah pikiran anda ini bagus, tapi 
saya punya sudut pandang yang agak berbeda dengan anda sbb :

1. Kalo saya percaya para teroris itu berencana ngebom presiden SBY, alasannya 
antara lain adalah :
Pertama : Mereka menganngap SBY sebagai antek amerika yg merupakan musuh utama 
mereka (teroris) selain Israel.
Kedua     : SBY dianggap oleh mereka (teroris) itu sebagai Islam sekuler, 
sementara itu mereka menginginkan syariat Islam dinegeri ini dan salah satu 
bentuk kekecewaan mereka pada SBY dalam hal ini adalah SBY tidak membubarkan 
"Ahmadiyah" pada hal kalangan Islam yang lebih moderat aja mereka yang seperti 
MUI; Muhammadiyah (ormas) serta PKS dan P3 (parpol) merekomendasikan agar 
"Ahmadiyah" dibubarin.
Ketiga :       Di masa SBY lah hukuman mati terhadap teman-teman seperjuangan 
mereka (pelaku bom Bali) dieksekusi dan bahkan dimasa SBY pula salah satu "Imam 
Besar" mereka Uts Abubakar Ba'asyir digelandang ke penjara konon dalam keadaan 
sakit lumayan parah (tbc)
Keempat :    Akan sangat lebih mudah lage skenario tsb dilaksanakan pabila para 
teroris tsb secara diam-diam berselingkuh ria dengan lawan-lawan politik SBY !

2. Kenapa Hotel JW Marriot duluan yang dibom, baru kemudian ke Cikeas dan ato 
Istana ?
Ini menunjukkan justru betapa smartnya mereka (teroris) itu, sebab satu sisi 
sebagai test case dan disisi lainnya mereka ingin menglihkan perhatian aparat 
dan disisi lainnya lagi dalam kondisi seperti itu mereka akan lebih mudah 
mendekati Cikeas dan ato Istana, sebab mereka secara pisik berpenampilan mirip 
dengan para simpatisan parpol Islam anggota koalisi SBY-BOEDIONO, sehingga akan 
mudah mengecohkan orang-orang disekeliling SBY.

Salam hangat,
Suhaimi



  ----- Original Message -----
  From: Satrio Arismunandar
  To: Forum Kompas
  Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Benarkah Ada Rencana Teroris Membunuh 
Presiden SBY?


    Benarkah Ada Rencana Teroris Membunuh Presiden SBY?
  Oleh Satrio Arismunandar
  (Penggemar komik detektif Conan dan Kindaichi)


  Saya hari Kamis (14 Agustus 2009) diwawancarai wartawan Tabloid Media Umat 
tentang pemberitaan kasus terorisme di berbagai media. Saya katakan, banyak 
wartawan dan media yang kurang kritis, sehinga sadar atau tak sadar akhirnya 
menelan mentah-mentah versi atau “arahan pemberitaan” dari pihak-pihak 
tertentu, khususnya dari aparat. Padahal banyak yang bisa dipertanyakan dari 
versi tersebut.
  Contoh yang sederhana adalah pernyataan tentang “adanya rencana teroris untuk 
membunuh Presiden SBY.” Mari kita analisis sinyalemen ini dengan logika 
sederhana. Saya mulai dengan mengajukan dua pertanyaan:
  Pertanyaan 1. Mana yang kira-kira lebih besar dampaknya terhadap kestabilan 
ekonomi dan politik nasional: Serangan bom ke Hotel JW Marriott ataukah 
pembunuhan presiden (jika betul-betul terlaksana)? Tampaknya kita bisa sepakat 
bahwa pembunuhan presiden akan berdampak jauh lebih besar. Daya terornya pasti 
sangat dahsyat. Jika Presiden yang dikawal Paspampres bisa diserang, bagaimana 
pula dengan kita semua rakyat biasa, yang tak punya perlindungan apa-apa?
  Pertanyaan 2. Mana yang lebih besar dampaknya dalam menghancurkan sendi-sendi 
pemerintahan dan demokrasi yang sedang dibangun di Indonesia: Serangan bom ke 
Hotel JW Marriott ataukah pembunuhan presiden? Tampaknya di sini kita juga bisa 
sepakat bahwa pembunuhan presiden akan berdampak jauh lebih besar.
  Dari jawaban dua pertanyaan tersebut, bisa disimpulkan bahwa pembunuhan 
Presiden –dilihat dari arti strategis dan magnitude dampaknya-- jauh lebih 
berarti, jauh lebih penting, dan jauh lebih signifikan, ketimbang sekadar 
mengebom hotel milik asing (yang dalam kasus JW Marriott bukan baru kali 
terjadi, karena dulu juga sudah pernah dibom). Para teroris, yang kita 
asumsikan bukan orang bodoh, tentu juga bisa menganalisis dan menyimpulkan hal 
yang sama.
  Oleh karena itu, secara logika yang sederhana, seorang teroris yang cerdas 
akan lebih mengutamakan sasaran utama (Presiden), ketimbang sekadar sasaran 
sekunder (hotel milik asing). Seorang teroris yang taktis tidak akan melakukan 
tindakan bodoh, yang akan menggagalkan atau mempersulit upaya pencapaian 
sasaran strategis utama.
  Nah, persoalannya, pengeboman hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton justru 
bertentangan dengan logika berpikir itu. Pengeboman itu mengesankan cara 
berpikir teroris yang tolol, tidak taktis, dan tidak bisa membedakan antara 
sasaran amat-penting dan sasaran kurang-penting.
  Pengeboman hotel sudah bisa ditebak akan berimplikasi pada peningkatan 
kewaspadaan aparat dan intelijen negara. Juga akan terjadi peningkatan 
pengamanan terhadap Presiden, Wapres, dan berbagai kantor dan lembaga negara. 
Lebih parah lagi, pengeboman itu akan memicu pengejaran habis-habisan dengan 
segala daya terhadap para teroris serta jaringannya.
  Pengeboman hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton (yang terhitung bukan sasaran 
strategis) jelas akan merugikan, membahayakan, bahkan menggagalkan, upaya 
serangan terhadap Presiden (sasaran strategis). Anda tidak perlu jadi teroris 
kelas satu untuk mengetahui hal ini.
  Pertanyaannya kemudian:
  Mengapa harus mengebom JW Marriott dan Ritz-Carlton, yang pastinya akan 
meningkatkan kewaspadaan aparat dan intelijen, jika sasaran berikutnya adalah 
membunuh Presiden? Bukanlah lebih baik bergerak diam-diam (”operasi senyap”), 
dan langsung menyerang Presiden yang sedang lengah dan tidak menduga akan 
diserang? Kenapa harus bikin heboh lebih dulu?
  Seumpama kita mau membunuh ular besar yang sedang tidur, yang harus dilakukan 
adalah memukul kepalanya keras-keras agar langsung mati. Adalah tindakan bodoh 
jika kita memukul ekor atau badannya lebih dulu, yang akan membangunkan dan 
membuat marah ular itu. Ular yang bangun itu bukan saja makin sulit dibunuh, 
tapi dia justru bisa balik menyerang dan membunuh kita!
  Saya tidak betul-betul tahu, apakah memang ada rencana teroris untuk membunuh 
Presiden. Tapi saya hanya bisa mengatakan, jika betul saat ini ada rencana 
semacam itu, maka ada beberapa kemungkinan:

  Teroris yang mengebom JW Marriott tidak berkoordinasi dengan teroris yang mau 
membunuh Presiden. Ini tentu kesimpulan yang sangat aneh, karena menurut 
penegasan polisi mereka berasal dari kelompok yang sama.
  Teroris yang mengebom JW Marriott tidak ada hubungan apa-apa sama sekali 
dengan teroris yang mau membunuh Presiden. Artinya, ada dua kelompok teroris 
yang berbeda. Masing-masing dengan agendanya sendiri. Ini kesimpulan yang 
mengerikan, karena artinya banyak kelompok teroris liar yang sulit ditebak dan 
dikendalikan arah gerakannya. Berita buruk bagi para investor dan masyarakat 
yang ingin hidup tenteram.
  Teroris yang mengebom JW Marriott dan yang merencanakan membunuh Presiden 
adalah orang bodoh, tolol, tidak mengerti taktik, tak peduli soal strategi, dan 
tak punya logika berpikir yang jelas. Kesimpulan ini juga aneh, karena jika 
mereka sebegitu tolol, tentunya jauh-jauh hari sudah bisa diberantas.
  Kesimpulan alternatif: Ada pihak-pihak yang ingin membesarkan isu seolah-olah 
ada ancaman teroris yang sangat besar terhadap keselamatan Presiden SBY, dan 
pihak-pihak ini telah berjasa besar menggagalkan rencana teroris tersebut.
  Di sisi lain, dalam situasi semacam ini, gelombang simpati pada Presiden 
(pemerintah baru) diharapkan meningkat. Jika masih ada pihak-pihak yang 
“rewel,” kritis atau berseberangan dengan Presiden pasca pilpres (yang 
amburadul dan banyak menuai protes di Mahkamah Konstitusi), mereka akan 
terkesan tidak simpatik, tidak santun, dan tidak mendukung stabilitas 
ekonomi-politik dan kepentingan nasional. Hal ini karena Presiden diposisikan 
menjadi simbol negara.
  Dan lain-lain, dan sebagainya…... (Anda bebas menambahkan sendiri, berbagai 
kemungkinannya yang bisa ditelusuri).

  Jakarta, 14 Agustus 2009

  Satrio Arismunandar
  Executive Producer
  News Division, Trans TV, Lantai 3
  Jl. Kapten P. Tendean Kav. 12 - 14 A, Jakarta 12790
  Phone: 7917-7000, 7918-4544 ext. 4034,  Fax: 79184558, 79184627

  http://satrioarismunandar6.blogspot.com
  http://satrioarismunandar.multiply.com

  Verba volant scripta manent...
  (yang terucap akan lenyap, yang tertulis akan abadi...)




[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke