http://koran.kompas.com/read/xml/2009/08/20/03493871/doktor.honoris.causa.bagi.rachmat.gobel



Jakarta, Kompas - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi memberikan gelar 
doktor honoris causa bidang perekayasa utama kehormatan bagi pengusaha Rachmat 
Gobel. Tahun lalu, gelar serupa diberikan kepada tokoh properti Ciputra.

Gelar perekayasa utama kehormatan hanya diberikan BPPT kepada insan Indonesia 
yang dikenal publik dan berprestasi, yakni orang di balik produk-produk yang 
bermanfaat dan memberi nilai tambah. "Sekaligus memotivasi pejabat fungsional 
perekayasa untuk menghasilkan produk yang bermanfaat," kata Kepala BPPT Marzan 
A Iskandar dalam penganugerahan gelar sekaligus dalam rangka Hari Ulang Tahun 
Ke-31 BPPT, Rabu (19/8).

Selain perannya di balik produk-produk berkualitas dan bernilai tambah, Rachmat 
juga dinilai visioner. Produk buatan kelompok usaha Panasonic-Gobel, yang dulu 
dikenal dengan "National" dikenal baik di tengah masyarakat.

"Technovation"

Pada paparannya sebelum menerima penghargaan, Rachmat menjabarkan konsep 
technovation yang berperan penting meningkatkan daya saing bangsa. Technovation 
mengacu pada peran inovasi teknologi secara terus-menerus yang memberi nilai 
lebih pada produk yang dihasilkan.

Salah satu contoh technovation adalah perbaikan terus-menerus demi kesempurnaan 
mengikuti tuntutan perkembangan zaman, yang dalam istilah Jepang disebut 
kaizen. "Inilah antara lain masalah besar bangsa Indonesia, yakni kurang 
menuntut diri melakukan perbaikan dalam proses kerja dan produksi," kata 
Rachmat yang dikenal sebagai Pemimpin Kelompok Usaha Panasonic-Gobel.

Tanpa inovasi teknologi berkelanjutan, seluruh tingkatan industri akan tergilas 
dalam era pasar bebas yang segera tiba. Karena itu, jelas, inovasi teknologi 
dibutuhkan industri skala besar, menengah, dan kecil.

Namun, lanjut Rachmat, teknologi, inovasi, dan kewirausahaan saja dinilai belum 
cukup untuk bertahan. Masih ada faktor pusat manajemen teknologi, sebuah 
lembaga yang kompeten menyinergikan kekuatan teknologi dan inovasi.

Di Indonesia, peran itu diharapkan bisa muncul dari BPPT, lembaga dengan sumber 
daya manusia unggul. Untuk itu, peningkatan akses BPPT ke dunia usaha dan 
sebaliknya mutlak diperlukan.

"Tidak hanya untuk meningkatkan kapasitas produksi dan efisiensi, tetapi juga 
pengembangan desain dan produk ramah lingkungan," katanya. (GSA)

Kirim email ke