Kita gak usah heran dengan perhatian yg kurang dari pemerintah daerah . 
jangankan pemerintah , masyarakat kita saja sudah ogah2an dengan budaya ...yg 
dikata kuno ini.
di sangar2 tari tradisional saat ini sepi peminat..
bandingkan dengan sanggar2 modern ...
yang menampilkan tari2 ala samba ...dan tari made in luar negeri..peminatnya 
banyak
 
dan kita tersentak ..saat baru sadar budaya kita sdh direbut orang.
jangan heran entah kapan ....
gamelan dan wayang kulit justru orang2 bule lebih pintar  dari kita sendiri.
 
ada hikmah dibalik kejadian ini.
semoga kita sadar 
dan mau balik lagi dan mencintai made in budaya sendiri.
 
salam prihatin
edy

        -----Original Message-----
        From: [email protected] 
[mailto:[email protected]] On Behalf Of agushamonangan
        Sent: 25 Agustus 2009 7:41
        To: [email protected]
        Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Menbudpar Ajak Masyarakat Introspeksi
        
        
          

        
http://oase.kompas.com/read/xml/2009/08/24/18570934/Menbudpar.Ajak.Masyarakat.Introspeksi
 
<http://oase.kompas.com/read/xml/2009/08/24/18570934/Menbudpar.Ajak.Masyarakat.Introspeksi>
 
        
        JAKARTA, KOMPAS.com - Terkait kasus klaim Malaysia terhadap Tari Pendet 
sebagai budaya mereka, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik mengajak 
masyarakat melakukan interospeksi diri.
        
        "Apakah kita sudah memiliki rasa kepunyaan terhadap kebudayaan 
Indonesia?" ujar Jero, Senin (24/8) kepada para wartawan di Gedung Departemen 
Kebudayaan dan Pariwisata, Jakarta.
        
        Jero sendiri mengatakan, pada tahun 2007 lalu, pihaknya telah 
menghimbau para gubernur, bupati/walikota agar mendaftarkan warisan kebudayaan 
mereka ke Depbudpar. Menurutnya, saat ini ada 600 kesenian yang telah 
didaftarkan. "Untuk 1.000 pendaftar pertama, gratis," ujarnya.
        
        Depbudpar, kata Jero, saat ini tengah mendaftarkan sejumlah warisan 
kebudayaan dunia, seperti wayang, angklung, batik, ke Badan UNESCO (United 
Nations Educational, Scientific and Cultural Organization).
        
        HIN 
        
        

        



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke