http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/08/30/19045254/indonesia.jangan.terjebak.nasionalisme.reaktif



JAKARTA, KOMPAS.com - Masyarakat Indonesia seyogyianya tidak terlalu reaktif 
menanggapi sejumlah hal menyangkut klaim Malaysia atas beberapa kebudayaan 
Indonesia. Indonesia adalah negara besar, tidak pantas bersaing dengan 
Malaysia. Janganlah negara besar ini terjebak pada nasionalisme reaktif.

"Malaysia itu negara kecil dan monarki, Indonesia negara besar dan demokratis. 
Kalau dikelola dengan betul, saingan kita Cina, India dan Brazil, bukan 
malaysia. Jangan terjebak nasionalisme reaktif,'' kata aktivis demokrasi 
Fadjroel Rahman kepada Kompas com, Minggu (30/8).

Hubungan Indonesia dengan Malaysia beberapa waktu belakangan kembali memanas. 
Hal itu diantaranya disebabkan atas klaim Malaysia terhadap produk kesenian dan 
budaya Indonesia, yaitu Tari Pendet yang berasal dari Bali, Indonesia dan klaim 
Malaysia terhadap perairan Ambalat yang dimiliki oleh Indonesia.

Tak hanya itu, siksaan dan perlakuan kasar yang kerap diterima oleh para TKI di 
Malaysia juga telah membuat hubungan dua negara serumpun itu menjadi tegang. 
Untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, pemerintah Indonesia, menurutnya, 
harus tetap memprioritaskan jalur diplomasi dan negosiasi. Karenanya, Fajroel 
mengaku, tidak sepakat jika masalah tersebut diselesaikan dengan jalan perang.

"Pemerintah harus membentuk Tim Khusus diplomasi yang dipimpin Presiden SBY, 
pelaksana hariannya Menlu, dibantu tim hukum (hak cipta dan internasional), 
seniman dan budayawan, dan soal TKI disiksa itu limpahkan ke pengadilan 
Malaysia tapi KBRI segera melindunginya secara fisik dan hukum,'' ungkapnya.

Kirim email ke