Setuju pak,niat baik perlu jalan yang baik pula,dan insyaAlloh akan menghasilkan hasil yang baik.Niat baik untuk mengurangi pengangguran sebisa mungkin dengan jalan mendirikan industri yang tidak memberikan banyak dampak negatif seperti industri rokok.InsyaAlloh akan menghasilkan rejeki yang bersih bagi para pekerjanya dan generasi penerus bangsa yang lebih prima kesehatannya karena bebas rokok.
2009/9/1 marvinsirait <[email protected]> > > > Dear all, > > Cuma mau sharing tulisan. Semoga berkenan dan bermanfaat... > > Sebagai bangsa kita punya Pancasila, dan sila pertama pada Pancasila > bukanlah kemanusiaan, bukan persatuan, bukan kerakyatan, dan bukan keadilan. > Sila pertama dan terutama adalah ke-Tuhan-an. Para pendiri bangsa sudah > bersepakat bahwa kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan keadilan tidak akan > terwujud dengan benar tanpa didahului dengan ke-Tuhan-an sebagai prasyarat > utama. > > Tuhan menciptakan manusia untuk mengelola bumi beserta isinya dan mencintai > sesamanya, semuanya demi keagungan nama-Nya. Salah satu bekal yang > dianugerahkan pada manusia untuk mencapai tujuan itu adalah tubuh jasmani > dan rohani yang sehat, yang mampu berpikir, bekerja dan berkreasi secara > optimal. Tubuh yang sehat adalah anugerah, yang diberikan Tuhan agar manusia > mampu melaksanakan kehendak-Nya. Menjaga kesehatan berarti menghargai > anugerah tersebut, dan merusak kesehatan berarti melecehkannya. > > Rokok telah diketahui merusak kesehatan. Berbeda dengan konsumsi produk > lain (seperti kopi dan lemak hewani misalnya) yang berbahaya hanya jika > terlalu banyak, konsumsi rokok sama seperti konsumsi narkoba. Tidak ada kata > sedikit atau banyak, karena konsumsi satu batang saja sudah sama dengan > meracuni tubuh dan membuatnya kecanduan. Meracuni tubuh berarti merusak > tubuh jasmani. Membuatnya kecanduan berarti merusak tubuh rohani. > > Bangsa yang menempatkan ke-Tuhan-an sebagai sila pertama dan terutama > seharusnya percaya bahwa kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan keadilan > semuanya berasal dari Tuhan. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi, tingkat > pengangguran yang rendah, peningkatan pendapatan negara, pemerataan > kesejahteraan bagi seluruh rakyat, dan kerukunan antara warga bangsa, > semuanya adalah anugerah Tuhan. Ini berarti dalam mendapatkan semuanya itu, > haruslah dengan cara-cara yang sesuai dengan kehendak Tuhan. > > Sikap negara yang masih terlalu "ramah" terhadap industri rokok didasari > pada kenyataan bahwa industri rokok memberi lapangan kerja yang banyak dan > memberi pendapatan yang besar bagi negara dalam bentuk cukai rokok. Ini > memang fakta, meskipun fakta ini seharusnya tidak dibesar-besarkan, > seolah-olah industri rokok sudah amat sangat berjasa untuk negara ini. Perlu > dikaji lebih teliti, bahwa memang tenaga kerja yang diserap banyak, memang > cukai yang diberikan besar, tapi tidak terlalu banyak dan besar sekali > sampai-sampai industri rokok itu perlu diagung-agungkan dan diberhalakan. > Biasa-biasa saja. > > Petani tembakau, buruh linting rokok dan karyawan perusahaan rokok kalau > dijumlahkan seluruhnya memang dapat mencapai angka 1 juta, tapi coba > bandingkan dengan total angkatan kerja Indonesia yang lebih dari 100 juta. > Cukai rokok memang dapat mencapai angka 40-50 trilyun, tapi coba bandingkan > dengan total pendapatan negara yang mencapai 900 trilyun rupiah. Dengan > semakin bertumbuhnya perekonomian Indonesia, dan meningkatnya kesadaran > masyarakat dan kalangan usaha untuk membayar pajak, semua "jasa" industri > rokok tersebut sebenarnya semakin tidak signifikan. > > Semua keuntungan yang diperoleh negara dari industri rokok menjadi semakin > tidak berarti ketika mengetahui konsumsi rokok Indonesia telah mencapai > angka 240 milyar batang per tahun, menghabiskan uang sebesar lebih dari 150 > trilyun rupiah, yang seandainya dimanfaatkan untuk membeli ikan dan susu, > biaya pendidikan hingga sarjana, dan kredit usaha untuk membuka lapangan > kerja, akan menjadikan manusia Indonesia manusia yang berkualitas tinggi, > menjadikan bangsa Indonesia bangsa yang maju, bermartabat dan terhormat, > sehingga tidak terus dilecehkan oleh negara tetangga seperti sekarang. > > Jangan karena ingin mempertahankan sekian ratus ribu lapangan kerja dan > sekian puluh trilyun cukai rokok, negara tidak lagi menghargai anugerah > Tuhan berupa kesehatan warganya dan malah melecehkan Tuhan dengan membiarkan > industri rokok dengan bebas merusak ciptaan-Nya. Bangsa yang berke-Tuhan-an > seharusnya percaya bahwa Tuhan punya 1001 cara untuk menciptakan tidak hanya > ratusan ribu tapi jutaan bahkan puluhan juta lapangan kerja di Indonesia, > dan punya 1001 cara untuk menciptakan tidak hanya puluhan trilyun tapi > ratusan bahkan ribuan trilyun pendapatan untuk negara. > > Marilah berubah. Gantungkan harapan hanya pada Tuhan, bukan pada industri > rokok. Jangan karena termakan rayuan industri rokok, menghalangi keinginan > Tuhan untuk membuat bangsa ini lebih damai, lebih adil, lebih beradab, lebih > makmur dan lebih sejahtera. > > Semoga dapat direnungkan oleh para pengambil keputusan di negara ini. Amin. > > Regards, > -marvin-
