http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/04/04035377/masa.keemasan.majapahit.diungkap



Jakarta, Kompas - Masa keemasan Majapahit yang tertuang dalam karya Mpu 
Prapanca, Nagara Krtagama, ditulis ulang dan diulas oleh Prof I Ketut Riana. 
Sejauh ini ada 15 versi naskah Nagara Krtagama yang beredar sejak tahun 1902.

Dalam peluncuran dan bedah buku berjudul Kakawin Desa Warnnnana uthawi Nagara 
Krtagama; Masa Keemasan Majapahit, Kamis (3/9), ahli linguistik, Prof I Ketut 
Riana mengatakan, buku itu diterbitkan guna melestarikan warisan leluhur yang 
tinggi dan mulia. "Melalui karya ini, masyarakat dapat memahami lebih lanjut 
tentang karya sastra sejarah Nusantara yang mengagumkan," katanya.

Buku yang diterbitkan Penerbit Buku Kompas tersebut mengulas kejayaan Majapahit 
yang terkenal di Nusantara, bahkan di negara lain. Buku disajikan lengkap 
dengan huruf Bali dan salinannya dengan bahasa Jawa Kuna.

Dr HIR Hinzler, asisten guru besar bidang Arkeologi dan Sejarah Purba, 
Universitas Leiden, mengungkapkan, berdasarkan penelusurannya, terdapat 
setidaknya 15 versi Nagara Krtagama sejak tahun 1902 hingga kini. Karya 
tersebut disalin kembali ke daun lontar ataupun ke atas kertas. Tak 
mengherankan jika kerap timbul pertanyaan naskah mana yang asli dan paling tua. 
Karya asli diduga hancur bersama runtuhnya Kerajaan Majapahit pada abad ke-15.

Prof I Ketut Riana menggunakan naskah lontar koleksi Museum Mpu Tantular, 
Sidoarjo, Jawa Timur. Naskah itu relatif lebih lengkap karena merupakan hasil 
revisi dari beberapa naskah yang dianggap kurang lengkap oleh penyadur.

Pembahas yang lain, sejarawan Prof Djoko Suryo, mengatakan, teks itu menjadi 
menarik karena juga memiliki nilai sejarah. "Prapanca menggubah karya tidak 
hanya menggunakan sumber karya-karya masa lampau, tetapi juga pengamatan 
sendiri, seperti soal tata kota dan pemerintahan. Ini dapat digunakan untuk 
merekonstruksi Kerajaan Majapahit," ujarnya.

Prof Riana mengatakan, naskah dapat menjadi sumber informasi yang menghidupkan 
artefak-artefak yang ada. "Di candi-candi banyak terdapat relief yang 
sebetulnya ceritanya dapat dicari di berbagai naskah sehingga relief itu 
'berbicara' dan masyarakat dapat memahaminya," ujarnya. (INE)



Kirim email ke