Aneh koq buku dibakar? Apasalahnya? Bacalah sebanyak mungkin buku agar kamu 
tidak picik. Memang kalau buku dibakar lantas informasi tertutup? Semua 
sekarang ada di internet. Hanya orang picik yang tidak cinta buku.
 
ss

--- On Mon, 9/7/09, ChanCT <[email protected]> wrote:


From: ChanCT <[email protected]>
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Fw: PETISI: KAMI MENOLAK PEMBAKARAN BUKU!!
To: "HKSIS" <[email protected]>, "Wahana" <[email protected]>
Date: Monday, September 7, 2009, 8:45 PM


 



Bung Boni yb,

Isi pernyataan sepenuhnya saya setuju. Tidak seharusnya buku dibakar, apalagi 
isi buku itu sebagai usaha mengungkap fakta sejarah dari sisi lain. Pelajari 
dan ajukanlah fakta-fakta lain untuk coba menyangkal bahwa apa yang diajukan 
Soemarsono itu tidak benar. Dari fakta-fakta yang sepotong-potong dan diajukan 
oleh peserta peristiwa itu, dianalisa secara ilmiah bagaimana jalan peristiwa 
itu sesungguhnya yang lebih mendekati kenyataan. Itulah tugas ahli sejarah, ... 
Jangan karena berbeda dengan suara penguasa yang menang, lalu buku dibakar.

Tapi, kenapa judul PETISI "Kami Menolak Pembakaran Buku", ya? Apa karena diajak 
Front Anti Komunis untuk ikut bakar buku? Kenapa tidak Mengutuk atau Mengecam 
Pembakaran Buku?

Maaf, mungkin hanya karena keterbatasan pengetahuan bahasa Indonesia saya, jadi 
ada salah pengertian? Namun demikian tolong cantumkan nama saya, Chan Chung 
Tak, Pemerhati Indonesia di HK, mendukung PETISI dibawah.

Salam,
ChanCT

----- Original Message -----
From: Boni Triyana

Subject: [wahana-news] PETISI: KAMI MENOLAK PEMBAKARAN BUKU!!

Dear all,

Yang ingin mendukung petisi ini silahkan sebutkan nama dan institusi.

Thanks,

Bonnnie Triyana

-------

PERNYATAAN SIKAP

KAMI MENOLAK PEMBAKARAN BUKU!!

Pekan lalu Front Anti Komunis di Surabaya membakar buku Revolusi Agustus: 
Kesaksian Seorang Pelaku Sejarah karya Soemarsono. Guru Besar Ilmu Sejarah 
Prof. Dr. Aminuddin Kasdi ikut dalam pembakaran dan mengatakan bahwa sejarah 
adalah milik pemenang. Mereka membakar buku sebagai reaksi terhadap kolom 
serial wartawan Jawa Pos Dahlan Iskan tentang Soemarsono, Soemarsono, Tokoh 
Kunci dalam Pertempuran Surabaya.

Pembakaran buku kali ini bukan yang pertama. Pada Juli 2007 ribuan buku 
pelajaran sejarah dibakar Kejaksaan Negeri Depok. Pembakaran-pembakar an ini 
membuktikan adanya sekelompok orang yang tidak bisa menerima perbedaan pendapat.

Kami prihatin dengan pembakaran buku itu kendati kami belum tentu sepenuhnya 
setuju dengan isi buku tersebut. Tapi kebebasan berpendapat, baik lisan maupun 
tulisan, dijamin oleh UUD 1945. Pembakaran buku Soemarsono mengulang kembali 
aksi fasisme Nazi yang juga membakar buku-buku karya Sigmund Freud, Albert 
Einstein, Thomas Mann, Jack London, HG Wells serta berbagai cendekiawan lain. 
Nazi menganggap buku sebagai musuh mereka.

Kami prihatin aksi ini dilakukan oleh sekelompok orang, yang memakai nama Islam 
namun melakukan tindakan tercela pada bulan Ramadhan, bulan di mana Allah 
pertama kali menurunkan perintah membaca kepada Nabi Muhammad SAW. Buku 
semestinya dibaca, bukan untuk dibakar.

Kami menyayangkan pernyataan Aminuddin Kasdi. Pernyataan sejarah hanya milik 
pemenang tak sepantasnya dikatakan oleh seorang guru besar ilmu sejarah. 
Penulisan sejarah semestinya mengedepankan keberimbangan fakta dan keberagaman 
versi, bukan monopoli satu versi praktik Orde rezim Baru.

Oleh karena itu, atas dasar akal sehat dan kepercayaan pada demokrasi, kami 
menyatakan:

PERTAMA, mengecam para pelaku pembakaran buku Revolusi Agustus: Kesaksian 
Seorang Pelaku Sejarah karya Soemarsono, dan menganggapnya sebagai tindakan 
fasistis, yang bertentangan dengan kemanusiaan dan upaya mencerdaskan 
masyarakat.

KEDUA, menuntut kepada Presiden Republik Indonesia untuk menjamin kebebasan 
berpendapat dan menindak tegas mereka yang menciderai kebebasan sipil di 
Surabaya.

KETIGA, menuntut dihentikannya tindakan pelarangan buku atas alasan apapun. 
Bila terdapat perbedaan pandangan, yang diwakili sebuah buku, hendaknya dijawab 
dengan menerbitkan buku baru, yang mencerminkan pandangan yang berbeda --bukan 
dengan larangan.

Semoga demokrasi di Indonesia, yang baru ditanam benihnya, bisa berkembang 
sehat.

Kami yang mendukung:

1. Andreas Harsono (wartawan)
2. Bonnie Triyana (sejarawan-cum- wartawan)
3. Goenawan Mohamad (wartawan senior)
4. Wilson (sejarawan)
5. Patra M Zen (Direktur YLBHI)
6. M Abduh Aziz (Dewan Kesenian Jakarta)
7. Sapariah Saturi (wartawan)
(yang ingin turut serta silahkan kirim nama dan institusi kepada saya.


Kirim email ke