Century of Darkness

Oleh Adhie M Massardi

CENTURY of Darkness berbeda dengan Centuries of Darkness karya arkeolog Peter 
James  dan kawan-kawan. "Abad-abad Kegelapan", yang diluncurkan pada 1991, 
adalah buku catatan populer parsejarah pasca-abad perunggu, berdasarkan temuan 
arkeologi yang dirangkai dengan cerita keagamaan. Karena di antaranya ada abad 
kenabian, tentu ada yang ganjil, aneh, dan misterius.

Sedangkan Century of Darkness, “Cetury Kegelapan”, adalah sejarah politik 
kontemporer Indonesia. Kata Century tidak diterjemahkan jadi “abad” karena 
artinya memang bukan abad tapi berkaitan dengan Bank Century. Maka kalau 
ditulis lengkap, judulnya mungkin “The Darkness of the Century”. Tokoh utamanya 
bukan Cleopatra dan Julius Caesar, tapi Sri Mulyani dan Boediono.

Tapi Sri memang fenomenal. Forbes tidak mengada-ada ketika Agustus lalu 
memasukan namanya sebagai “100 Perempuan Paling Berpengaruh di Muka Bumi”. Dari 
Asia Tenggara, selain “Sri sang primadona kabinet”, majalah bisnis kenamaan itu 
hanya menjaring tiga nama lain: Presiden Filipina Gloria Arroyo, serta dua 
pengusaha Singapura, Ho Ching (Temasek ) dan Deb Henretta (Group President Asia 
Procter).

Meskipun sekarang berada di posisi 71, kita wajib bangga pada Bu Menkeu yang 
juga Plt Menko Ekonomi ini. Sebab dalam memilih “100 Perempuan Paling 
Berpengaruh” itu, Forbes tidak menggunakan pola SMS atau survei ecek-ecek 
sebagaimana dilakukan banyak orang di sini. Tapi sungguh-sungguh memakai 
penelitian yang andal. Bisa diuji secara transparan.

Tahun lalu, ketika menduduki peringkat 23 dan mengalahkan nama-nama top seperti 
Aung San Suu Kyi (Myanmar), Hillary Clinton, bahkan Oprah Winfrey, Sri Mulyani 
memang lebih berpengaruh dibanding mereka. Sri berhasil memengaruhi belasan 
juta orang dalam sekali gebrak, lewat BLT (Bantuan Langsung Tunai) yang ia 
tandatangani, nilainya belasan trilyun rupiah. Langkahnya ini juga dianggap 
kunci suksesnya Presiden Yudhoyono dipilih lagi sebagai presiden.

Turunnya peringkat Sri di Forbes sejalan dengan turunnya nilai rekomendasi Sri 
yang hanya Rp 6,7 T. Itu pun menuai badai kritik karena prosesnya melecehkan 
kecerdasan rakyat Indonesia. Sebab, kalau Bank Century tidak diguyur uang Rp 
6,7 T, perbankan nasional bisa guncang, katanya.

Century mendapat predikat “darkness” karena meskipun total kemungkinan kerugian 
negara jelas trilyunan rupiah atau 1340 kali jumlah uang yang diberikan 
pemerintah kepada korban gempa Tasikmalaya dan jalur selatan Jawa, tapi 
segalanya sepanjang menyangkut Century tetap gelap. Kita hanya tahu salah 
seorang bos Bank Century, Robert Tantular, dibui dan sudah divonis hakim 4 
tahun penjara.

Presiden Yudhoyono, kata Sri Mulyani, tidak terlibat. Tapi Jusuf Kalla sebagai 
Wapres juga mengaku tidak tahu menahu. Gubernur Bank Indonesia yang paling 
bertanggungjawab soal ini juga bungkam. Sementara polisi dan KPK yang harus 
membongkar skandal ini malah sibuk saling periksa.

Tentu saja kita tak ingin skandal ini betul-betul mengilhami lahirnya buku 
Century of Darkness, “Abad Kegelapan Bangsa Indonesia”, sehingg setiap Gubernur 
Bank Indonesia, dengan caranya masing-masing, harus berakhir di penjara. 
Syahril Syabirin, Burhanuddin Abdullah, dan menyusul Boediono..? Dan menjadi 
lebih “gelap” lagi karena kita melakukan transaksi dengan mata uang yang 
ditandatangani orang yang ada di penjara!

Tapi yang pasti, skandal Century telah menjadi “batu nisan” bagi si kembar 
“Clean Government dan Good Governance”, yang mati sejak masih dalam kandungan 
Pemerintah Yudhoyono babak kedua. []























[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke