omk godlib, anda benar sekali, saya memang agak beda dengan ayah saya, beliau almarhum itu seorang yang sangat humanis dan religius. sehingga rela untuk selalu tersingkir dalam masa kekuasaan semua rezim karena semua peringatan pada semua temannya yang berkuasa, selalu membuat kuping merah, dan ketersinggungan politik yang dahsyat, kami sekeluarga sempat hidup dengan kondisi yang sangat prihatin, tapi itu kita sekeluarga mengerti semua bagaimana pengorbanan almarhum. meskipun beliau mantan pendiri tni, anggota parlemen dan menteri sosial, kalau saya, tentu ingin lebih patriotik ,militan dan untuk melawan ketidak-adilan, kapan-kapan kita kopi darat ya om, data-data saya tentang ketidak-adilan pada rakyat dimana saja, yang selama ini saya dampingi berperkara, kalau om godlib mau melihat bukti-bukti kekejaman dan ketidak-adilan, meskipun saya bukan pengacara dan bukan sarjana hukum, tentunya bukti termasuk perlakuan kepolisian pada rakyat itu dong om ! kalau yang bagus-bagus, tentu saya dukung, tanya aja sama teman-teman saya yang sedang berkuasa, kalau untuk kebaikan negeri ini, tentu akan saya dukung, termasuk pada teman-teman saya dikepolisian maupun di tentara nasional, termasuk tanya juga sama mas beye yang jadi presiden, apa yang saya katakan pada mas beye sewaktu ketemu di istana negara, dan apa jawaban mas beye saat itu ( waktu keluarga menerima gelar pahlawan nasional 2008) terimakasih atas peringatannya ya,
salam bambangsulistomo. 2009/9/17 Godlip Pasaribu <[email protected]> > Kalau membaca komentar Pak Bambang ini sepertinya tidak ada lagi yang benar > di negeri ini. Negatif semua, beda dengan ayahanda Bung Tomo yang sangat > saya kagumi yang telah berhasil mengobarkan semangat masyarakat Indonesia > untuk berjuang hidup mati mengusir Belanda dari bumi pertiwi ini. Kenapa > beda sekali ya Pak Bambang? > > Powered by Telkomsel BlackBerry®
