Di Indonesia ini preman, mafia, atau pembunuh (selama tidak terbukti)/mantan 
pembunuh bisa jadi anggota DPR atau bahkan mungkin jadi presiden. Selama dia 
punya banyak anak buah, uang, dan sebagainya, dia bisa menggunakan kekuasaan 
kecilnya untuk mendapatkan kekuasaan yang lebih besar lagi di Indonesia.

Harta kekayaan alam pun dijual ke asing/swasta. Begitu pula BUMN2nya. 
Segelintir orang asing/pengusaha/pejabat kroni kaya raya, sementara mayoritas 
rakyat hidup miskin seperti 82 warga Yahukimo  Papua yang mati kelaparan 
baru-baru ini

http://infoindonesia.wordpress.com/2009/06/30/selama-kekayaan-alam-dirampas-asing-indonesia-akan-terus-miskin

Untuk mengecoh rakyat, buat saja berbagai isyu seperti Ganyang Malaysia, dsb.

===

Media Islam - Belajar Islam sesuai Al Qur'an dan Hadits

http://media-islam.or.id

--- Pada Rab, 16/9/09, rubayat2001 <[email protected]> menulis:

Dari: rubayat2001 <[email protected]>
Judul: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Mafia Menjadi Penguasa Di Indonesia
Kepada: [email protected]
Tanggal: Rabu, 16 September, 2009, 10:05 AM






 





                  Uraian ini sangat mendekati kenyataan dan saya sepakat memang 
masalah hukum perlu menjadi prioritas tetapi ada satu hal lain yang selama ini 
kita "overlook" adalah pelaksanaan hukum itu dalam kehidupan masyarakat kita. 
Hal ini bukan karena ketiadaan hukum dan peraturan yang kita miliki tetapi 
lebih pada pelaksanaannya dilapangan yang seringkali  diselewengkan. Sudah 
tentu kita bertanya apa sebabnya ? Jawabannya sudah dapat dipastikan pada 
manusia atau SDM kita yang mohon ma'af amat sangat lemah dalam memandang suatu 
masalah kebenaran. Ciri2 dari kebanyakan SDM kita adalah ambigu dalam melihat 
kebenaran walaupun jelas2 hukum dan peraturannya ada, terlebih lagi kalau 
sampai hukum dan peraturannya belum ada atau kurang jelas/tegas maka kita makin 
jauh dan kaburlah kebenaran yang baik dan berguna demi keadilan dan kejayaan 
masyarakat kita. Kalau boleh saya simpulkan sebagian besar dari SDM kita 
memiliki kelemahan dalam memandang, menghayati
 dan melaksanakan keadilan demi kebenaran secara konsisten dan dilain pihak 
kita lihat betapa kuatnya SDM kita memandang, menghayati dan melaksanakan motif 
kepentingan  ekonomi (yang bersifat egoistis dan penuh ketidakadilan) yang 
menyebabkan terjadinya ketimpangan dan ketidakadilan permanen terhadap 
kepentingan umum rakyat dan bangsa ini. Akibatnya kita rasakan bersama 
kesemrawutan kehidupan kita sebagai bangsa.Bukankah kita mengetahui adanya 
pemikiran hukum yang menyatakan : "Walau sistim hukumnya belum sempurna tetapi 
pelaksanaan hukumnya dilakukan dengan tegas, konsisten dan adil akan jauh lebih 
baik/berhasil guna daripada hukumnya sempurna tetapi pelaksanaannya lemah", 
Wallahuaklam.

Kirim email ke