Sombong sekali yang mempunyai mobil. PKB adalah salah satu dari sekian sumber pendapat daerah yang digunakan untuk membiayai daerah yang salah satu dari sekian ribu kegiatan pemda ialah perawatan jalan. Di negara maju memang ada pungutan khusus untuk dikembalikan untuk keperluan khusus pula, misalnya pajak khusus untuk membantu subsidi untuk sistem transportasi kota. Jalan cukai adalah jalan yang dibangun oleh Jasa Marga dan swasta yang tidak ada kaitannya dengan pemda sebagai penarik PKB. Jadi, PKB tidak ada kaitannya dengan jalan cukai. Kemudian, jalan cukai dibangun karena NKRI belum mampu membangun jalan bebas hambatan yang sangat diperlukan saat ini demi kelancaran lalulintas. Jepang dan Amerika saja yang banyak mengutangi NKRI masih mempunyai jalan cukai padahal di sana sudah beribu-ribu kilometer panjangnya jalan bebas hambatan.
Yang perlu dipertanyakan ialah kenaikan jalan cukai Merak yang berlipat. Yang dipertanyakan ialah alasannya yaitu UNTUK MENAMBAH DANA PEMBANGUNAN JARINGAN JALAN CUKAI LAINNYA. Ini sudah pernah dilakukan untuk ruas yang sama di zaman Orde Baru. Kalau penyelenggara jalan cukai di tengah jalan menaikkan tarif untuk membantu pendanaan ini sama artinya dengan menarik dana dari masyarakat secara setengah terpaksa. Ini tentunya tidak adil karena dialah satu-satu penyelenggara jalan cukai ke Merak yang artinya masih dimonopoli. Seharusnya ini diadukan ke KPPU. Zul --- On Wed, 9/30/09, bakri arbie <[email protected]> wrote: From: bakri arbie <[email protected]> Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: JALAN TOL To: [email protected] Cc: [email protected], "arbie bakri" <[email protected]> Date: Wednesday, September 30, 2009, 4:50 PM Yth Rekan milis, Untuk menjadi renungan bagi penyelenggara negara dan investor. Namun siapakah yang seharusnya menindak lanjuti masalah ini ? Agar jangan berlalu begitu saja dan......... lupa dan 2 tahun lagi ada kenaikan. Akal sehat,moral dan etika ikut terlibat dalam hal ini. Barangkali pak Menteri Djoko Kirmanto atau Jasa Marga dapat memberikan pencerahan kepada publik ? Semuanya agar kita, dalam berproses bernegara dan berbangsa ada umpan balik dan kita lebih cerdas mengelola sesuatu masalah. Karena majunya suatu kaum adalah kemampuan dan kapasitasnya untuk mengatasi masalah yang secara riil dihadapi rakyat dan negara. Kalau tidak ada peningkatan kemampuan dan kapasitas,maka kita berada dalam lingkaran setan yang tidak berakhir dan artinya kita menunggu kesejahteraan rakyat bagaikan menunggu "lebaran monyet". Padahal monyet setahu saya,tidak pernah berlebaran. Jadinya ....kumaha atuh pak. Salam Hormat, Bakri Arbie. Menjadi Tua itu Pasti, Menjadi Bijak itu Pilihan.
