Mengutip istilah Andrea Hirata dalam Laskar Pelangi: "jenius didikan alam".
Prof. Alam adalah sang mahaguru sempurna. Semoga bakat para jenius didikan 
prof. alam ini ga ditelantarkan oleh para licik yang menguasai industri belajar.
Salam,
FDG

--- Pada Kam, 8/10/09, Agus Hamonangan <[email protected]> menulis:

Dari: Agus Hamonangan <[email protected]>
Judul: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Mengasah "Calon Peraih Nobel" dari Papua
Kepada: [email protected]
Tanggal: Kamis, 8 Oktober, 2009, 12:19 AM






 




    
                  Oleh Try Harijono dan Luki Aulia



http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2009/10/08/ 03540769/ mengasah. 
calon.peraih. nobel.dari. papua



Berikanlah soal Matematika yang sulit. Terserah soal apa saja. Merlin Enjelin 
Rosalina Kogoya (9) dan Demira Jikwa (8) pasti bisa menjawabnya dengan benar 
dan sangat cepat. Padahal, keduanya bukanlah siswa sekolah favorit di kota 
besar atau di Jakarta.



Kedua anak tersebut adalah siswa kelas III sekolah dasar di Kabupaten Tolikara, 
daerah pedalaman di Provinsi Papua.



Tidak mudah menemukan kabupaten tersebut dalam peta. Maklum, kabupaten 
pemekaran. Tidak gampang pula untuk menjangkau kabupaten di daerah pegunungan 
Papua itu. Hanya pesawat kecil berkapasitas beberapa orang yang bisa menjangkau 
kabupaten itu. Itu pun jika cuaca memungkinkan.



Namun, berbagai keterbatasan alam tersebut tidak menghalangi Merlin dan Demira 
untuk piawai dalam Matematika. Kepiawaian mereka dalam Matematika dibuktikan di 
sebuah ruang pertemuan di Jayapura, awal September lalu.



Disaksikan para pejabat, tokoh masyarakat, dan aktivis lembaga swadaya 
masyarakat, atraksi kedua siswa tersebut membuat tercengang. Soal-soal untuk 
siswa kelas VI bisa dikerjakan dengan baik. Soal-soal penambahan, perkalian, 
perhitungan desimal, kuadrat, dan pitagoras bisa mereka selesaikan dengan 
sangat cepat.



"Kalau soal cerita, memang sedikit bingung," kata Merlin, siswa kelas III SD 
Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Persekutuan Gereja-Gereja Kristen Injil di 
Papua.



Diuji di Jakarta



Tak cukup di Jayapura, pembuktian serupa dilakukan akhir September lalu di 
Jakarta. Selain Merlin, ada pula dua siswa kelas VI SD Negeri Tolikara, yakni 
Ali Kogoya dan Wemi Jikwa. Ketiganya menjalani simulasi ujian Matematika oleh 
Surya Institute. Mereka diberi 40 soal Matematika dengan waktu pengerjaan 120 
menit.



Setelah ujian selesai dan hasilnya diperiksa Surya Institute dan Qindy Academy, 
Wemi mendapat nilai 6,75, sedangkan Ali dan Merlin sama-sama mendapat nilai 
6,25.



"Ini luar biasa karena syarat ujian nasional hanya 4,25," kata Yohanes Surya, 
pemimpin Surya Institute.



Metode "gasing"



Merlin, Wemi, Demira, dan Ali adalah empat dari lima anak dari Kabupaten 
Tolikara yang mengikuti pelatihan Matematika metode "gasing" (gampang, asyik, 
dan menyenangkan) dari Surya Institute. Pelatihan baru berlangsung lima bulan 
dari enam bulan yang direncanakan, tetapi anak-anak ini bisa mengerjakan 
soal-soal Matematika dengan baik.



Yohanes Surya membantah bahwa siswa yang dipilih merupakan siswa-siswa 
berintelegensia tinggi. "Tidak mungkin melakukan tes IQ karena anak-anak ini 
sebelumnya tidak lancar membaca. Pemilihan dilakukan secara acak. Siswa pun 
dipilih dari daerah yang paling terisolasi," katanya.



Siswa-siswa yang dipilih secara acak ini lalu dilatih di Surya Institute di 
Jakarta. Penambahan, perkalian, pembagian, dan soal-soal lainnya diberikan 
secara bertahap. Hasilnya memang luar biasa. Hanya dalam empat bulan, siswa 
kelas III sudah bisa menyelesaikan soal-soal kelas VI secara sempurna.



"Saya ingin menunjukkan, Matematika itu tidak sulit," kata Yohanes Surya.



Papua sengaja dipilih karena daerah itu sering dianggap daerah tertinggal 
dibandingkan dengan daerah lain dalam soal pendidikan. "Ternyata anggapan itu 
keliru. Jika dilatih secara benar, ternyata Matematika bisa mudah dilakukan 
semua kalangan, termasuk anak-anak di pedalaman Papua," ujarnya.



Tidak sekadar melatih kelima anak tersebut. Bekerja sama dengan lembaga swadaya 
masyarakat World Vision Internasional Indonesia, saat ini sudah dilakukan 
pelatihan metode "gasing" untuk guru-guru di Kabupaten Jayawijaya, Kabupaten 
Keerom, dan kabupaten lainnya di Papua.



"Saya mengharapkan dalam tiga tahun ke depan, metode ini digunakan oleh sekitar 
300.000 siswa dan guru di Papua," kata Yohanes Surya. Setelah itu, barulah 
metode ini akan dikembangkan di daerah lain.



"Untuk mengembangkan metode ini di Papua, World Vision Indonesia yang sudah 
melayani selama 30 tahun di Papua siap mendukung secara optimal," kata Direktur 
World Vision Internasional Indonesia Trihadi Saptoadi.



Dewan Pembina Lembaga Nobel Indonesia Ishadi SK menilai konsep baru pendidikan 
Matematika Surya Institute terbukti berhasil. "Dalam waktu 4-6 bulan Matematika 
bisa dikuasai, sementara pendidikan kita perlu waktu hingga 6 tahun. Jadi 
mestinya ada waktu 5 tahun yang bisa digunakan untuk belajar yang lain selain 
Matematika," ujarnya.



Melihat prestasi yang dicapai anak-anak Papua, Yohanes dan Trihadi 
berkeyakinan, pada masa mendatang dari Papua bisa lahir peraih penghargaan 
Nobel. Saat ini saja sudah ada beberapa siswa asal Papua yang meraih prestasi 
internasional.



Kelima siswa itu pun sekarang ini berlatih mengerjakan soal-soal olimpiade 
internasional selain Matematika. Tinggal menunggu waktu saja "Mutiara dari 
Papua" meraih penghargaan Nobel.




 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      
___________________________________________________________________________
Dapatkan nama yang Anda sukai!
Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail.com.
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke