kenapa pada pusing pusing biarin saja Susilo BY milih siapa saja yg dia sukai 
itu khan hak dia sebagai Presiden, kalau ternyata pemerintahannya nanti tidak 
sebagaimana yg diharapkan pemilihnya, ya harus terima nasib, salah sendiri 
kenapa milih dia.

--- On Fri, 10/23/09, Agus Hamonangan <[email protected]> wrote:


From: Agus Hamonangan <[email protected]>
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Kabinet Mengecewakan
To: [email protected]
Date: Friday, October 23, 2009, 12:50 AM


  



http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2009/10/23/ 03340814/ kabinet.mengecew akan

Jakarta, Kompas - Susunan kabinet baru dinilai lebih mengakomodasi kepentingan 
politik dan kedekatan pribadi dibandingkan dengan aspek profesional. Demikian 
menurut Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin dan pakar otonomi Ryaas 
Rasyid dalam seminar di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, 
Kamis (22/10).

Pembicara lain dalam seminar membahas ”Prospek Pemerintahan SBY-Boediono” 
adalah Kepala Badan Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan HS Dillon dan ekonomi 
senior Indef, M Fadhil Hasan.

”Kabinet yang dibentuk tidak mewakili unsur profesional, tetapi lebih pada 
aspek balas jasa dan keberimbangan partai koalisi,” kata Ryaas.

Dia mencontohkan pemilihan Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi. ”Dia dipilih 
karena membuktikan bisa mengalahkan Jusuf Kalla di Sumatera Barat dalam pemilu 
lalu, dibanding prestasinya di bidang pemerintahan,” tuding Ryaas.

Contoh lain, kata Ryaas, adalah Menko Perekonomian Hatta Rajasa. ”Hatta tak 
pernah punya pengalaman mengendalikan ekonomi. Dia dipilih karena memenangkan 
SBY,” kata dia.

Sementara itu, Din mengaku pesimistis program-program kabinet mendatang 
terlaksana dengan baik. ”Saya pikir akan ada terobosan dan sosok-sosok baru 
yang profesional, tetapi ternyata tidak. Masih politik balas budi dan 
menunjukkan upaya pelestarian kekuasaan 2014,” katanya.

Secara khusus, Din menyoroti pemilihan Menteri Kesehatan Endang Rahayu 
Sedyaningsih, yang dinilainya memiliki kedekatan dengan kepentingan asing. 
”Saya khawatir pemerintahan baru tidak akan bisa otonom dan bertekuk lutut 
terhadap pengaruh asing,” kata dia.

Fadhil Hasan menyoroti tentang kurangnya perhatian terhadap ekonomi riil. 
”Kabinet yang lalu lebih banyak melihat pertumbuhan ekonomi dari angka-angka 
makro dan tidak berpihak pada kondisi ekonomi riil. Pemerintah ke depan 
sepertinya masih sama saja,” kata dia.

Sementara itu, HS Dillon menyampaikan, pemilihan menteri dari kalangan politisi 
merupakan hal yang wajar di negara demokrasi. Namun, dia mengakui, sampai 
sejauh ini belum ada tanda-tanda keberpihakan elite pada rakyat.

Sentralisasi

Ryaas dan Din juga menyoroti kecenderungan adanya pemusatan kekuasaan, baik di 
level pemerintahan maupun Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). ”Sedikitnya 80 persen 
DPR di bawah kendali SBY. Kita pernah memperjuangkan era reformasi untuk 
melawan yang seperti ini, tetapi sekarang kembali lagi,” ungkap Ryaas.

Kondisi di DPR, menurut Din, semakin mengkhawatirkan karena partai-partai 
oposisi juga masih bersikap setengah hati. ”PDI-P hanya menyebut sebagai 
penyeimbang, Hanura dan Gerindra juga normatif oposisinya. Tak ada yang tegas 
mau beroposisi. Saya khawatir akan terjadi pelemahan demokrasi,” kata dia.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi dalam 
selamatan menyambut terbentuknya Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II di Kantor 
PBNU, Jakarta, kemarin, mengatakan, ”NU tidak meletakkan dirinya sebagai oposan 
pemerintah karena akan meniadakan amar makruf (mengajak kepada kebaikan). 
Namun, NU tidak juga menjadi bagian dari kekuasaan karena akan meniadakan nahi 
mungkar (mencegah kejahatan).”

Terkait tidak adanya menteri dalam kabinet yang berasal dari struktural NU, 
Hasyim mengaku tidak kecewa. Sejak awal, NU memang tidak pernah dilibatkan 
dalam penyusunan menteri. Hal itu juga berlaku untuk Menteri Agama yang 
biasanya diberikan kepada kader NU. Menteri Agama Suryadharma Ali, meskipun 
berlatar belakang NU, merupakan perwakilan dari PPP.

(MHF/REK/NTA/ IDR/AIK/MZW)

















      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke