Yang kasihan kebanyakan rakyat yang diperdaya dengan xenophobiknya Mpok Siti, Mas. Kita dipaksa u/mempercayai kisah yang dituturkannya, yang membabi buta membenci AS dan tidak menyodorkan informasi yang utuh tentang virus dan keterkaitannya dengan serangkaian panjang penelitian klinis yang telah disepakati o/Indonesia di bawah dirinya sebagai menkes!
Virus, sejumlah informasi biologis dan kimiawi yang diambil dari kuman penyakit ini, dapat dikembangkan menjadi obat, yang salah satunya berbentuk vaksin, melalui serangkaian penelitian panjang dan melibatkan bayak pihak dan keahlian. Sebelum penelitian dilakukan o/pusat2 penelitian, yang salah satunya bisa berupa rumah sakit, maka terlebih dahulu dibuat sebuah kesepakatan kerjasama yang memiliki dasar yang hukum yang kuat. Kesepakatan kerjasama ini disertai dengan sejumlah dokumen yang antara lain berupa PROTOKOL PENELITIAN yg DIMAKSUD. Protokol tak lain merupakan hal2 apa saja yang akan dilakukan o/masing2 pihak yang akan terlibat dan bagaimana menjalankannya. Penelitian seputar flu burung tersebut bersifat multi negara, dimana Indonesia merupakan salah satu pihak yang terlibat selain Vitenam dan Thailand. Kenapa sampai Indonesia terlibat? Karena u/bisa suatu penelitian klinis dianggap sahih dan memenuhi kaidah ilmiah yang disepakati o/ilmuwan sejagad maka harus ada jumlah obyek yang diteliti dengan jumlah tertentu. Jika Indonesia melakukannnya sendiri, selain kapasitas teknologi dan sumber daya manusia penelitinya belum mumpuni, jumlah pasien yang tersedia jauh dari cukup. Penggabungan dengan negara lain, dalam hal ini Vietnam dan Thailand, memungkinkan terpenuhinya jumlah sample penelitian. Kemudian hasil penelitian, berupa hasil pemeriksaan virus yang telah diperiksa di Indoensia (dalam hal virus flu burung ini BALITBANGKES sbg pintu yg disepakati pasca keributan dg WHO) dengan alat bernama PCR perlu dianalisa secara benar keseluruhan sekuensing yg didapat. Nah, pusat ini, yang merupakan lab canggih yg tidak saja dari sisi teknologi tapi juga manusianya, yg tidak ada di negara ini. Kesepakatan yg ada dalam perjanjian kerjasama menunjuk suatu negara tertentu u/pemeriksaannya. Pengiriman ini bukan berupa data mentah atau buta tapi kode karena penelitian harus menjaga martabata manusia yang menjadi obyek penelitian, sesuai dengan kesepakatan Nurenberg pasca kejahatan kemanusian akibat PD 2 terhadap Yahudi dulu. Hasil olahan tsb kemudian dapat dituangkan dalam pertanggungjawaban penelitian, yang o/penelitinya dituangkan ke dalam jurnal ilmiah bertaraf internasional yg dikaji o/peer group sesuai bidang penelitian sehingga menjamin terjadinya obyektivitas penilaian. Nilai seorang peneliti yaitu pada frekuensi tulisan ilmiahnya di juranal2 ilmiah tsb. Kembali ke kasus SFS versus Endang, jika benar Endang membawa atau, bahkan, menjual virus maka sangatlah bodoh tuduhan tsb karena virus itu tak dapat berdiri sendiri. Keseluruhan informasi tsb dapat dikirimkan dengan mudah karena kita telah bisa melakukan sekuensingnya sendiri di Jakarta, di kantor dr Endang sendiri! Tak perlu dia susah2 melalui pemeriksaan sekuriti di bandra u/hal tsb tapi cukup dengan mengirimkan e-mail! Kasihan rakyat ini diajak o/pembesarnya u/berpikir bodoh dan sempit ke jaman batu seakan2 membuat obat itu sekedar membawa2 usap tenggorok atau hidung obyek penelitian ke negara lain. Atau dengan sadisnya diajak berkhayal bahwa hasil usap tadi kemudian simsalabim dibuka di dalam pesawat atau ruang publik lainnya dan jadilah senjata biologis! Tak perlu sukar berpikir ttg bioterrorism ke arah virus, air saja bisa menjadi senjata biologis pemusnah kala dibiarkan suatu daerah tak mampu mendapatkan kecukupan jumlah dan kualitas air kemudian diare merebak dan air menjadi media penyebaran yg hebat, yang dilakukan o/penduduk itu sendiri yg buang air besar sembarangan, bukan o/para orang asiing, apalagi AS! Kasihannya kita selama 5 tahun dibiarkan dicecoki hasil kerja agen2 PR yg dibayar mahal u/memuaskan hasrat tampil petinggi kita dan memberikan informasi yg model spt ini, bukan informasi yg justru mencerdaskan! Nasionalisme dipandang sempit, sekedar jika setuju u/anti AS! Evi Douren Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...! -----Original Message----- From: Satrio Arismunandar <[email protected]> Kasihan Siti Fadilah... Rupanya dia mendapat tekanan berat dari pihak-pihak tertentu, setelah membuka aib Menkes yang baru. Sebetulnya tidak penting betul, apakah Endang menjual virus itu atau tidak. Fakta yang tak pernah dibantah adalah Endang membawa virus ke luar negeri tanpa izin Menteri Kesehatan, yang notabene adalah atasannya. Padahal saat itu kebijakan Menkes Siti Fadilah dan Pemerintah RI adalah tidak menyerahkan contoh virus manapun (khususnya virus flu burung) ke pihak luar (PBB), sampai ada kejelasan mekanisme yang fair dan bisa dipertanggungjawabkan tentang penanganan virus tersebut. Karena tindakan "menyelundupkan virus ke luar negeri" itulah, maka Endang dihukum dengan dimutasi oleh Siti Fadilah. Saat itu Endang jelas melanggar aturan Menkes (baca: aturan pemerintah RI). Apakah Endang mau menjual virus itu ke pihak asing (baca: perusahaan Amerika atau pemerintah Amerika atau CIA atau siapapun juga) atau menyerahkan secara gratis, itu soal lain lagi. Itu hanya akan menjelaskan motif tindakan, yang tetap tak bisa dibenarkan. Jika dijual, artinya bermotif komersial (cari untung). Jika diserahkan gratis, berarti ada pemihakan tertentu terhadap pihak yang diberi virus tersebut (ini malah lebih gawat lagi, karena Endang bisa dianggap tega mengalahkan kepentingan Pemerintah RI dan negaranya demi kepentingan pihak asing tertentu). Kalau dibilang virus itu tidak laku dijual, tidak tepat juga. Fakta bahwa dikirim atau tidak dikirimnya virus itu jadi persoalan dan polemik internasional, berarti virus itu sesuatu yang berharga. Bisa dikembangkan untuk dicari vaksinnya dan lalu dijual ke pasar internasional (ke negara-negara berkembang) dengan keuntungan jutaan dollar. Juga virus itu berpotensi dikembangkan jadi senjata biologis atau senjata pemusnah massal (kalau soal ini, AS yang paling jago). Satrio NB: Singkatnya, SBY telah memilih Menkes baru, yang pernah dihukum atasannya karena melanggar aturan Depkes/Pemerintah RI soal pengiriman virus ke pihak luar. Mengenai apa pertimbangan SBY ketika memutuskan hal itu, kirim saja pertanyaan Anda via SMS ke nomor HP resmi SBY: 9949. Semoga nanti Anda tidak disatroni Densus 88. ================================= Siti Fadilah Bantah Tuding Menkes Jual Virus http://nasional. kompas.com/ read/xml/ 2009/10/22/ 23223026/ siti.fadilah. bantah.tuding. menkes.jual. virus. JAKARTA, KOMPAS.com - Mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari membantah telah menuding Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih telah menjual spesimen virus H5N1 kepada lembaga penilitian kesehatan Namru, yang diduga milik Angkatan Laut Amerika Serikat. Hal tersebut dikatakannya saat jumpa pers sesuai acara 'Serah teriima jabatan Menkes' di gedung Depkes, Kuningan, Jakarta, Kamis (22/10) malam. Para wartawan menayakan, apakah Sufari benar telah menyatakan Endang terlibat penjualan spesimen kepada pihak militer AS, lewat Namru. Menurut Sufari, pemberitaan yang sempat membuat panas telinga Endang, itu merupakan pelintiran para wartawan. Yang benar, virus tersebut dibawa pihak Litbang Depkes. "Saya kira itu salah. Sudah saya terangkan tadi, bahwa virus itu tidak diperjualbelikan, tapi dibawa Jadi, tidak ada yang menyebutkan virus apapun juga ke mana-kemana. Dan saya kira itu pelintiran para wartawan. Virus tidak laku dijual," kata Siti Fadilah Supari. Siti Fadilah Supari menegaskan, bahwa Indonesia telah menghentikan kerja sama penelitian dengan Namru, dan berakhir tahun ini. Ia menyerahkan kepada Endang, apakah akan melanjutkan kerjasama penelitian dengan Namru di sisa waktu yang ada atau tidak. Ia menambahalkan, seharusnya kerjasama penelitian kesehatan sipil tersebut memiliki kejelasan status dan penggunaannya. "Statusnya, pengunaannya, harus jelas, siapa yang menggunakan, itu juga jelas," ungkapnya. Menurut Endang, Indonesia akan melanjutkan kerja sama dengan pihak Amerika, namun bukan Namru. Kerja sama setelah Namru habis masanya, yakni kerja sama Dekes RI dengan Depkes Amerika, yang notabee-nya adalah sipil. "Sudah cukup jelas, kerja sama akan terus dilanjutkan dalam bentuk yang sipil, antara Depkes dengan Human and Health Services, itu Depkes-nya Amerika," kata Endang. Terkait kedekatan diri Endang sewaktu duduk sebagai kepala Litbang Depkes, yang berkapasitas sebagai peneliti, Endang menegaskan, dirinya memang dekat dengan banyak pihak asing, termasuk Namru. Namun, kedekatan dirinya adalah benar-benar murni sebatas kerjasama yang berbasis profesionalitas kerja sebagai peneliti. "Jadi, saya dekat Namru, saya dekat dengan Belanda, saya dekat dengan NIIJ, Jepang, China saya pun dekat. Sebagai peneliti kita memang dekat dan bekerjasama. Semua berbasis kerjasama dan profesional, " ujar Endang. (Persda Network/CR2) ------------------------------------ ===================================================== Pojok Milis Komunitas Forum Pembaca KOMPAS [FPK] : 1.Milis Komunitas FPK dibuat dan diurus oleh pembaca setia KOMPAS 2.Topik bahasan disarankan bersumber dari http://cetak.kompas.com/ , http://kompas.com/ dan http://kompasiana.com/ 3.Moderator berhak memuat,menolak dan mengedit E-mail sebelum diteruskan ke anggota 4.Moderator E-mail: [email protected] [email protected] 5.Untuk bergabung: [email protected] KOMPAS LINTAS GENERASI ===================================================== Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[email protected] mailto:[email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
