Dari perkembangan historis selama 100 tahun di Nusantara belakang ini jelas 
pula bahwa tidak hanya kolonialisme, tetapi mafia yang menggurita sebagai salah 
satu produk sampingan dari negeri setengah jajahan yang telah sekitar 40 tahun 
dikelola dengan campuran neofeodalisme dan neoliberalisme, bersama dengan 
sistem itu, harus dikalahkan juga dengan perjuangan gabungan kekuatan nasional 
dari Sabang sampai ke Merauke.
AS

--- On Tue, 11/10/09, Arkilaus Arnesius Baho <[email protected]> wrote:


From: Arkilaus Arnesius Baho <[email protected]>
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] SBY-BOEDIONO TAKUT FREEPORT? GULINGKAN!




SBY-BOEDIONO TAKUT FREEPORT? GULINGKAN!

“10 November hari pahlawan, selamat merayakan. Tetapi, 10 november 2001
silam, Ondofolo Theys Hiyo Eluay Terbunuh oleh Negara Sendiri,
begitulah namanya negara plastik”.

Oleh: Arkilaus Arnesius Baho

Belum lama mengemban amanah rakyat Indonesia tahap ke-dua, Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono yang kali kedua ini mengandeng capres Boediono
telah menunjukan ketipangan dalam segala bidang. Ketidak seriusan
pemerintahan dapat di katakan sebagai bentuk tidak berpihak kepada
keutamaan nasional. Baik aspek ekonomi bangsa, politik belum ada
perubahan sejati yang di dapat.

Pak presiden sejak terjadinya kasus teror di PT. Freeport seakan
membisu seribu kata, tatkala jalan mulus yang diharapkan mampu
menjembatani upaya penyelesaian masalah tambang dengan kasus tambang
hari ini di Timika Papua. Kelalaian pemerintah patut di pertanyakan,
buat apa kalau pemerintah mandul kayak gini mau di pertahankan? . Rakyat
butuh pemimpin pelindung dan pembela hak warga dan bukanya manut bagi
kepentingan investor. SBY dan wapres adalah pasangan yang pro
investasi, namun tidak di barengi dengan proteksi kedaulatan, adalah
naif sekali bila giat memasukan investasi demi kemakmuran tak bisa
dapat terwujud.

Terbukti, Makelar kasus pun kian marak terjadi di era rezim investasi
saat ini. Bentuk dan wujud masalah saat ini pun tak mampu di atasi
negara dengan keberpihakan penuh pada keadilan dan kedaulatan bangsa.
Indonesia terutama negara berlimpah SDA yang nyatanya telah lama habis
begitu saja kekayaan alam negeri ini di keruk habis oleh kaum pemodal
internasional yang berbasis ke dalam negeri menggunakan baju putra
bangsa sendiri. Para antek neo-liberal di Indonesia semakin subur pula
dan meniadakan kepentingan rakyat semesta.

Lahirnya tragedi PT. Freeport Indonesia di Tanah Papua adalah akumulasi
tragedi kemanusiaan yang bertahun-tahun menumpuk dan belum juga di
atasi secara bermartabat. Kronisya persoalan Papua tak bisa luput dari
intervensi pemodal internasional yang telah lama menunjukan hedonisme
pemberdayaan, kemakmuran dan keadilan bagi rakyat Indonesia sejak jaman
dahulu hinggga era otonomi khusus di Papua.

Tugas warga negara adalah mendukung cita-cita kemerdekaan bangsa,
kedaulatan dan kemakmuran yang seharusnya dapat di respon oleh negara (
pemerintah ). Terbalik memang, sejak dinamika negara di kelola oleh
para agen kapitalis. Entah siapa saja, wajah mereka adalah pola prilaku
mengedepankan keutamaan investasi dan mengibuli hak-hak kejayaan rakyat
dalam segala bidang.

Indonesia harus bubar dengan sendirinya, jika perangkat negara hanyalah
alat bagi pemupukan legitimasi para penindas dunia. Sebab negara tidak
punya pendirian akan mudah di cabik-cabik dalam berbagai polemik
kepentingan semata. Simaka saja, kasus mafia peradilan kelas kakap yang
hari ini mewarnai dimensi politik nasional, mudah menggoyahkan negara.
Rakyat menjadi penonton bagi sandiwara para mafia yang mengguncang.
Itulah kasus Bank Century, KPK VS POLRI dan SBY-Boediono berdiri dalam
persimpangan kebingungan mau berbuat apa. Entah tim delapan terbentuk
untuk kasus KPK-POLRI, namun TIM abunawas bergerilya di areal Freeport
dengan moncong senjata dengan stigma mengamankan aset negara.

Paradigma bernegara demi ruang seluasnya bagi para mafia-mafia memang
itulah realitas bangsa saat ini yang berada dalam kendali para mandor
imperialisme. Mafia kasus tidak hanya meledak dengan kasus korupsi
saja, tetapi para mafia tambang semestinya dapat di gigit dalam suatu
instrumen negara yang benar-benar memiliki hubungan proteksi bagi
keadilan ekonomi, pemenuhan ekologis dan HAM, dengan tujuan
kemaslahatan bangsa dapat di wujudkan. Tak akan ada stabilitas politik
dan ekonomi yang permanen bila jargos kolonialisme merajalela dalam
negeri. Sudah begitu, keutuhan negara hanyalah mimpi bagi segelintir
chauvenistik RI.. Sebab, Indonesia dan wilayahnya telah di gadai habis,
80 persen representatif investasi asing di Indonesia sebagai fakta
akumulasi ideologis kelompok lain telah matang dan tinggal menunggu
waktunya saja. Merdeka!

Link:
http://id.netlog. com/arkilausarne sius/blog/ blogid=11606

http://politikana. com/baca/ 2009/11/10/ sby-boediono- takut-freeport- 
gulingkan. html

http://arki- papua.blogspot. com/2009/ 11/sby-boediono- takut-freeport- 
gulingkan. html
------------ -------
Email:
raden...@yhaoo. com

Kirim email ke