Oleh Antony Lee

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/11/12/02363688/pagi.jadi.guru.siang.jadi.tukang.cuci.piring



Belasan bocah semringah menjalani ritual menjelang pulang sekolah di Taman 
Kanak-kanak Bakti Putra I di Desa Pringsari, Kecamatan Pringapus, Rabu (11/11) 
sekitar pukul 10.00. Mereka menyanyikan lagu perpisahan sembari bertepuk 
tangan. Uniah (39), guru kelas yang mengajar di TK di Kabupaten Semarang, Jawa 
Tengah, itu terus tersenyum. Setelah membimbing murid berdoa, ia mengulurkan 
tangan menyalami siswa yang pamit pulang. Begitu siswa terakhir meninggalkan 
ruangan, Uniah bergegas menuju ruang guru.

Ia menyambar tas tangan lalu menggandeng anak keempatnya, Rama (4), yang 
menunggu di ruangan itu. Rama masih sesenggukan. Ia menyeka hidungnya dengan 
tangan. Sisa air mata belum terhapus dari sudut matanya. "Sudah, sabar, ya, 
Nak. Nanti saja jajannya. Belum ada uang," ujar Uniah.

Ia lalu menuntun Rama berjalan kaki menuju warung makan milik Adibatun (30). 
Warung sederhana berdinding papan dan berlantai tanah itu terletak sekitar 20 
meter dari muka Pabrik Buana Intisari Garmen di Kelurahan Pringapus, lebih 
kurang 1 kilometer dari TK tempat Uniah mengajar.

Seusai menyapa pemilik warung, Uniah menggulung lengan baju dan mulai mencuci 
piring serta perabot kotor di warung itu. Rama disuruhnya duduk di warung yang 
masih lengang. Selesai mencuci, perempuan asal Pandeglang, Banten, itu 
menggoreng tempe. "Lumayan sudah setahun terakhir ini saya diperbolehkan 
bantu-bantu Mbak Adib. Ia sudah seperti saudara sendiri," tutur Uniah.

Sebelum suaminya mencoba peruntungan bekerja di Cikarang, Bekasi, setahun lalu, 
Uniah membantu suaminya membuat sandal dari karet dengan penghasilan maksimal 
Rp 30.000 per hari.

Setiap hari Uniah datang ke warung pukul 05.30. Satu jam kemudian ia pamit 
mengajar. Selepas menunaikan tugasnya itu, ia kembali ke warung. Apabila masih 
ada waktu, ia pulang ke kamar indekos, sekitar 500 meter dari warung itu, 
bertukar pakaian sambil menengok Zahra (1), anak perempuannya yang dititipkan 
ke tetangga.

Tidak ada upah yang pasti atas jasa mencuci piring dan kerja serabutan di 
warung itu. Adib sesekali memberi uang Rp 5.000 atau Rp 10.000 jika hasil 
warung berlebih. Namun, Uniah sudah terbantu dengan diperbolehkan makan gratis 
di warung itu, termasuk untuk dua anaknya, Rama dan Fauzi (7).

Upahnya sebagai guru TK sangat tak mencukupi. Setiap bulan ia hanya menerima 
honor bersih Rp 180.000, ditambah transportasi Rp 30.000 dan uang minum Rp 
20.000. Ia sedikit terbantu dengan insentif Rp 200.000 per bulan dari 
pemerintah yang diberikan enam bulan sekali.

Uniah mengaku suaminya setiap bulan mengirim Rp 500.000. Namun, uang tersebut 
habis untuk membeli susu dan kebutuhan sekolah anaknya. Ia tinggal menumpang di 
kamar indekos milik warga Pringapus yang iba kepadanya. Ia hanya dibebani 
membayar biaya listrik di kamar tersebut.

Rumahnya di Desa Pringsari yang cukup jauh dari warung itu dibiarkan kosong 
setelah listrik diputus PT PLN lantaran ia tak sanggup membayar tagihan.

"Saya sempat mau berhenti mengajar dan cari pekerjaan lain atau buka warung, 
tetapi orangtua murid menahan. Saya jadi enggak tega," tutur Uniah yang sudah 
10 tahun mengajar di TK Bakti Putra I.

Pariyati (29), guru lainnya, juga hanya menerima honor Rp 180.000 per bulan. 
Uang itu malah hanya habis untuk biaya transportasi dari rumahnya di Ungaran 
Barat menuju TK yang berjarak sekitar 10 kilometer. Saat dua tahun lalu melamar 
menjadi guru di sana, ia tergiur bisa diangkat menjadi pegawai negeri sipil. 
Namun, mimpi itu kandas lantaran tidak lagi ada formasi untuk guru TK.

"Sekarang ini saya sudah enggak bisa mundur. Kalau enggak ada lagi yang mau 
mengabdi seperti kami ini, lalu siapa lagi yang mau," tuturnya.

Berbeda dengan Uniah yang sampai harus bekerja sampingan sebagai tukang cuci 
piring, untuk kebutuhan sehari-hari Pariyati masih mendapat pasokan dari 
suaminya yang bekerja di sebuah perusahaan di Ungaran. Kebutuhan hidupnya 
bersama dua anak yang duduk di kelas V dan I SD terpenuhi dari penghasilan 
suami.

Marzukoh, Ketua Yayasan Pertiwi yang menaungi sekolah itu, bertutur, rendahnya 
upah guru TK tidak terlepas dari minimnya dana yang didapat yayasan. Sebagai TK 
swasta, operasional sekolah bergantung pada sumbangan orangtua murid yang hanya 
Rp 20.500 per bulan. Itu pun sebagian masih menunggak. Tahun ini, honor 
terpaksa dipangkas Rp 30.000 karena guru bertambah dari tiga orang menjadi 
empat orang. Guru baru, Iluh (26), hanya bisa diberi honor Rp 150.000 per 
bulan. "Itu pun kami sudah tertolong dari bantuan desa untuk menutupi 
kekurangan anggaran sekitar Rp 2 juta setahun," ucapnya.

Menurut Ketua Forum Komunikasi Guru TK Swasta Kabupaten Semarang Ida Nur 
Farida, kondisi Uniah dan Pariyati merupakan wajah sebagian besar guru TK 
swasta di Kabupaten Semarang. Setidaknya terdapat 1.082 guru TK swasta di 
Kabupaten Semarang dengan tingkat pendidikan SD sebanyak 10 orang, SMP (46), 
SMA (522), D-2 (359), dan S-1 (145). "Bahkan, ada guru yang hanya mendapat 
honor Rp 50.000 per bulan. Akhirnya, mereka harus bekerja sampingan untuk 
bertahan hidup," tuturnya.

Ia mengakui ada beberapa TK di perkotaan yang mampu memberi upah guru di atas 
Rp 1 juta, tetapi itu masih bisa dihitung dengan jari. Mayoritas kesejahteraan 
guru TK di pedesaan masih sangat minim karena manajemen yayasan belum baik 
sehingga bergantung pada sumbangan orangtua murid. Padahal, kemampuan ekonomi 
masyarakat desa terbatas.

Ia berharap pemerintah membantu dengan meningkatkan insentif bagi guru TK. 
Selain itu, pencairan dana insentif hendaknya dipercepat menjadi paling lama 
tiga bulan sekali, bukan enam bulan seperti saat ini.

Guru TK yang upahnya kecil itu mampu bertahan terdorong rasa memiliki TK dan 
pengabdian. Sebab, TK merupakan pendidikan anak usia dini yang formal dan 
menjadi fondasi anak sebelum menjejakkan kaki ke sekolah dasar.

Kirim email ke