Sekedar Perbandingan Dengan Gerakan (People
Power) 1998 Yang Menjungkalkan Soeharto

Namun ada
perbedaannya dengan kasus 1998. Pada
tahun itu, terdapat barisan atau organisasi pelopor (vanguard organization),
sedangkan di tahun 2009, yang ada hanyalah kelompok penekan (pressure group).
Kedua hal itu jelas berbeda. Barisan atau organisasi pelopor terus berusaha
memimpin dan menaikkan derajat perlawanan hingga sampai pada isu tertinggi yang
bisa dicapai. Sementara kelompok penekan, hanya akan tetap peduli pada isu
reformis biasa. Praktiknya nyata di lapangan, kelompok pelopor terus mengancam
rezim dengan gelombang aksi massa yang besar dan seringkali berakhir dengan
bentrokan, maka aksi kelompok penekan hanyalah sampai pada penggalangan massa,
membaca pernyataan sikap, lalu duduk atau berdiri sambil berjoget atau sambil
menonton acara musik.

dipetik dari artikel Putut EA di
Indoprogress, “Akankah SBY Jatuh?”

Masyarakat
kelas menengah yang bergerak juga masih terbatas pada pekerja pers, aktivis
mahasiswa, dan lembaga swadaya masyarakat dengan beragam motif yang berserak. 
Bandingkan
dengan gerakan 1998, yang melibatkan pekerja-pekerja berdasi (white collar),
para buruh, sampai kaum tani yang tidak lagi bisa membeli pupuk. Teori
stabilitas ekonomi mutlak berlaku, yakni apabila mahasiswa masih bisa membeli
pulsa dan membayar kamar-kamar kosnya, serta tidak membuat dapur umum di
kampus-kampus dengan menu Indomie, maka kolaborasi gerakan kelas menengah
dengan kelas bawah tidak akan terjadi. Krisis ekonomipolitik 1998 menyebabkan
banyak mahasiswi tidak lagi bisa membeli bakso, apalagi\ bedak dan tiket
nonton. Bayangkan juga bagaimana kaum ibu bergerak membawa panci, sendok, dan
garpu ke jalanjalan dengan tujuan menurunkan harga. Di kalangan aktivis, harga
dipelesetkan menjadi "Soeharto dan keluarga".

dipetik dari artikel Indra J. Piliang di
Koran tempo ”Utak-atik People Power”

Situasi
kacau kelembagaan negara akibat perseteruan ”buaya lawan cicak” secara cerdik
sedang dimanfaatkan oleh istana....

Langkah-langkah catur istana itu
mengesankan bahwa SBY sengaja menghindari keterlibatan langsung dalam situasi
konflik yang terjadi. Dengan posisi yang seolah membela semua pihak yang
terlibat konflik, SBY ingin menunjukkan dirinya adalah pengayom, baik bagi KPK,
DPR, Polri, maupun kejaksaan.

Bahkan, dalam penyelesaian konflik
kelembagaan itu pun SBY menghindari menggunakan langsung tangannya, tetapi
lebih memilih membentuk Tim Delapan. Selain menjalankan tugas mencari fakta dan
klarifikasi proses hukum kriminalisasi KPK, Tim Delapan sekaligus menjadi
bemper istana dalam berhadapan dengan masyarakat dan semua lembaga yang sedang
berseteru.

Dengan cara ini, Presiden SBY tak akan
tersentuh dan bersentuhan langsung dengan arena perseteruan. Jika istana
sengaja menciptakan langkah catur itu, drama ”Buaya lawan Cicak” justru sedang
memasuki fase baru yang lebih anarkistis. Situasi ini harus diwaspadai karena
akan membuka peluang bagi lahirnya pola pengelolaan kekuasaan yang
antidemokrasi.

dipetik dari artikel Wawan
Mas’udi di harian Kompas "Langkah Catur Istana"

selengkapnya

http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/11/cicak-vs-buaya-membandingkan-dengan.html




      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke